Konten dari Pengguna

Disabilitas Punya Cara: Apresiasi atau Eksploitasi Emosi?

INTANIA RAHMA DEFITA

INTANIA RAHMA DEFITA

Undergraduate student at the Departement of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Brawijaya.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari INTANIA RAHMA DEFITA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Jakub Pabis dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/simbol-aspal-kursi-roda-simbol-akses-internasional-11074318/
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Jakub Pabis dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/simbol-aspal-kursi-roda-simbol-akses-internasional-11074318/

Teriknya sinar matahari dan debu dari proyek bangunan tidak menghilangkan semangat Muhammad Arifin yang sedang mencampur semen dan menyusun bata. Gerakannya cekatan dengan wajah yang penuh dengan semangat, seperti seseorang yang sedang menjalani pekerjaan yang sangat ia cintai. Sekilas, tak ada yang terlihat istimewa, tetapi, ada satu fakta yang akan membuat orang berhenti sejenak, Arifin adalah tukang bangunan dengan penyandang disabilitas daksa.

Arifin bukanlah penyandang disabilitas bawaan, melainkan akibat dari kecelakaan kerja yang menimpanya pada tahun 2015. Besi yang dipegang olehnya saat sedang memasang atap baja ringan tanpa sengaja menyentuh kabel listrik bertegangan tinggi, sehingga membuat Arifin harus kehilangan satu tangannya.

Dari Tukang Bangunan ke Konten Kreator

Selama beradaptasi dengan kondisi barunya, Arifin mulai mengenal media sosial seperti Youtube dan Instagram. Ia mulai mempelajarinya secara perlahan melalui eksplorasi pribadi. Awalnya, ia hanya menonton video seputar pertukangan dan membaca komentar netizen yang memberikan saran teknik atau alat yang digunakan kepada sang konten kreator. Dari sanalah ia memulai untuk membuat video berdasarkan pengalamannya sendiri.

Konten pertamanya sederhana, yaitu merekam proses kerja di proyek bangunan sambil sesekali menjelaskan cara menggunakan alatnya. Tak disangka, Arifin mendapatkan jumlah penonton yang bertumbuh pesat. Satu hal yang memotivasi Arifin adalah: "Saya lihat yang lain bisa jadi konten kreator padahal bukan profesional, jadi, saya pikir, masa saya enggak bisa?" tuturnya dalam salah satu podcast di kanal Youtube.

Akun Youtube "Disabilitas Punya Cara" dan Instagram @disabilitas_punya_cara miliknya kini menjadi ruang berbagi dalam hal teknik, pengalaman kerja, dan inspirasi bagi banyak orang, baik difabel maupun nondifabel.

Kisah Inspirasi atau Eksploitasi Emosi?

Konten viral Arifin tentunya menarik banyak perhatian publik. Tak sedikit yang menjadikan Arifin sebagai "sosok inspiratif". Bahkan, salah satu host dalam sebuah podcast Youtube menyebut Arifin sebagai "tokoh yang sangat menginspirasi" dengan menambahkan, "harusnya ini menjadi contoh yang sangat luar biasa."

Pernyataan ini memang terdengar tulus, tetapi sekaligus mencerminkan pola umum narasi yang berulang di media, dimana penyandang disabilitas dipuji bukan karena keahlian atau pandangannya, melainkan karena mereka "hebat meski menjadi seorang difabel."

Dalam Kajian Disabilitas, hal seperti ini disebut sebagai inspiration-porn model, yang mengacu pada bagaimana media dan masyarakat menjadikan difabel sebagai sumber inspirasi dan bahan konsumsi emosi. Model ini menjadikan nondifabel merasa termotivasi, bersyukur, atau bahkan merasa superior secara halus. Istilah inspiration-porn model ini dipopulerkan oleh seorang aktivis asal Australia, Stella Young, yang juga pernah menyatakan dalam TED Show:

"I'm Not Your Inspiration, Thank You Very Much."

(Aku bukan inspirasimu, terima kasih banyak).

Super-Crip Model dan Tekanan Untuk Jadi "Luar Biasa"

Selain itu, media juga kerap mendorong apa yang disebut sebagai super-crip model, pandangan yang melihat penyandang disabilitas sebagai sosok yang luar biasa karena bisa melakukan hal-hal "normal" seperti bekerja, berprestasi, atau bahkan hidup mandiri hanya karena mereka difabel.

Dalam kasus keberhasilan personal seperti Arifin, seringkali dimaknai secara individual dan digunakan sebagai dalih untuk menutup mata terhadap tantangan struktural seperti akses kerja yang terbatas, infrastruktur yang tidak ramah difabel, dan minimnya dukungan terhadap kebijakan yang inklusif.

Pujian yang berlebihan justru bisa menciptakan tekanan sosial agar difabel "harus" menjadi luar biasa, bukannya mendorong inklusi sosial. Padahal, mereka juga berhak menjalankan hidup secara normal tanpa harus dihakimi.

Kisah Arifin tetap harus dan layak untuk diapresiasi, tetapi bukan karena ia "berhasil meski memiliki kekurangan", melainkan karena ia seorang yang mau untuk terus belajar, berbagi, dan berkontribusi. Arifin hadir bukan sebagai korban ataupun pahlawan, tetapi sebagai seorang pekerja bangunan yang juga seorang konten kreator.

Inspirasi seharusnya tidak muncul karena kita merasa "berbeda" dari mereka seolah hidup mereka begitu jauh dari kita, tapi dari kesadaran bahwa setiap orang termasuk difabel, berhak atas ruang hidup yang adil dan setara. Daripada hanya sekedar memberi pujian, kita bisa mulai bertanya, sudahkah lingkungan kita benar-benar mendukung orang seperti Arifin untuk hidup, bekerja dan berkarya tanpa harus dianggap luar biasa dulu?

Referensi

Burt, A. H., & McCarty, M. (2024). "The only disability in life is a bad attitude": A quantitative exploration of the impacts of inspiration porn. Modern Psychological Studies, 30(1), 1-41. Psychologicalhttps://scholar.utc.edu/mps/vol30/iss1/2

Grue, J. (2015). The problem of the supercrip: Representation and misrepresentation of disability.

Semen Tiga Roda. (2024). #InspirasiTukang jadi content creator walau fisik terbatas @disabilitaspunyacara [FULL VERSION] [Video]. YouTube. https://youtu.be/TjazpmeNI2Q

Young, S. (2014). I'm not your inspiration, thank you very much | Stella Young [Video]. TED. YouTube. https://youtu.be/8K9Gg164Bsw?si=is4Jla87B_nelshT