Konten dari Pengguna

Ketika Pendidikan Bicara AI, Sekolah Ini Masih Berjuang Menarik Murid Datang

Ira Maulidia
Mahasiswi Universitas Jember, Prodi Pendidikan Sejarah
7 November 2025 19:19 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ketika Pendidikan Bicara AI, Sekolah Ini Masih Berjuang Menarik Murid Datang
Di tengah maraknya inovasi pendidikan berbasis digitalisasi dan AI, ada sekolah-sekolah kecil yang sedang berjuang untuk sekedar mempertahankan jumlah muridnya.
Ira Maulidia
Tulisan dari Ira Maulidia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Ketika sekolah-sekolah di perkotaan mulai berbicara tentang AI dan digitalisasi, di suatu desa kecil yang dikenal dengan wilayah 3T masih memikirkan cara-cara agar banyak anak yang mau sekolah. Kemajuan teknologi seharusnya tidak hanya mencerdaskan sebagian wilayah, tetapi juga menjangkau mereka yang hampir tidak mendapatkan perhatian dalam sistem pendidikan.
ADVERTISEMENT
Bertambahnya zaman yang beriringan dengan ragamnya kemajuan dunia, salah satu diantaranya adalah perkembangan teknologi yang semakin pesat. Berawal dari kehidupan yang belum mengenal adanya teknologi hingga beralih ke era digitalisasi yang semakin canggih. Dengan segala keterbaruannya, teknologi saat ini digunakan dalam banyak hal. Pada era saat ini, tidak dapat dipungkiri adanya isu AI, digitalasi, ChatGpt di sekolah, integrasi teknologi di kelas dan hal lainnya yang sedang ramai diperbincangkan. Di tengah riuhnya dunia pendidikan yang membicarakan tentang kecerdasan buatan, semesta menunjukkan suatu hal baru yang berhasil mengalihkan fokus pikiran saya ke suatu hal yang bertolak belakang dengan ramainya perbincangan AI dan digitalisasi masa kini.
Foto bersama dengan para kakak panitia pendamping. Sumber: Dokumentasi pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Foto bersama dengan para kakak panitia pendamping. Sumber: Dokumentasi pribadi.
Beberapa bulan lalu, tepatnya 30 Agustus 2025 saya mengikuti kegiatan Volunteer UJAR Batch 2 yang diselenggarakan oleh UKM UJAR. Setelah sekian lama menunggu kesempatan untuk menjadi relawan mengajar yang sebelumnya belum sempat berpihak, akhirnya kesempatan itu datang memberikan saya pengalaman sekaligus pelajaran berharga. Menjadi bagian dari sobat Volunteer UJAR Batch 2 tentunya tidaklah mudah diikuti begitu saja. Terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui demi bisa berinteraksi secara lansung dengan para adik-adik. Mulai dari tahap seleksi administrasi hingga wawancara. Tidak dipungkiri bahwa awalnya ada rasa takut yang menyelimuti diri. Takut akan kegagalan, takut akan kesempatan yang tidak akan berpihak, takut akan tidak seperti teman-teman pendaftar lainnya yang jauh lebih kompeten, dan banyak ketakutan-ketakutan lainnya yang dirasa. Namun nyatanya, kali ini semesta sedang berpihak untuk memberi kesempatan menambah pengalaman baru. Hingga tiba saatnya pengumuman lulus seleksi, rasanya tidak mampu diungkapkan, antara terharu, bahagia, dan tidak percaya kalau ternyata diri ini juga bisa sampai di titik yang diimpikan.
ADVERTISEMENT
Sebelum tiba waktunya untuk terjun langsung ke lapangan, banyak hal yang harus dipersiapkan, mulai dari kesiapan anggota kelompok hingga media ajar dan ice breaking yang akan digunakan. Dilakukan beberapa kali pertemuan, baik secara daring maupun luring untuk menyiapkan segala hal yang diperlukan. Beruntungnya saya dipersatukan dengan anggota kelompok dan kakak panita pendamping yang sangat luar biasa. Kami diarahkan, dibimbing, dan diberikan pencerahan tentang apa saja yang harus kami lakukan sekaligus bagaimana cara mengolah emosional yang baik ketika berinteraksi secara langsung dengan adik-adik selama proses pembelajaran.
Pada kegiatan volunteer kali ini, kelompok saya yang beranggotakan 8 orang mendapat kesempatan untuk mengajar di SD Az-Ziyadah Jember. SD Az-Ziyadah merupakan salah satu sekolah 3T yang ada di Jember. Perjalanan untuk sampai ke tempat tujuan membutuhkan waktu sekitar satu jam. Dikarenakan lokasinya 3T, akses jalan untuk menuju kesana tentunya tidak berjalan dengan mulus begitu saja. Kami melalui jalanan yang kecil, sepi, dan sebagian jalan bebatuan. Namun, hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi kami sebagai sobat volunteer. Justru hal ini semakin menumbuhkan semangat untuk berbagi ilmu tanpa harus memandang latar belakang sekolahnya. Hal ini dikarenakan siapapun mempunyai hak yang sama dan setara untuk memperoleh pendidikan yang terbaik.
ADVERTISEMENT
Seiring berjalannya waktu, sampailah di lokasi tujuan dengan selamat. Sedikit terkejut ketika sesampainya disana. Lingkungan yang sepi, sunyi, dan sekolah yang tidak dipenuhi dengan ramainya canda tawa peserta didik sebagaimana seharusnya. Hanya ada beberapa siswa saja yang dapat dihitung dengan jari dan hanya seorang guru pada waktu itu. Banyak pertanyaan yang berputar di kepala. Mengapa sekolah ini sepi? mengapa jumlah murid tidak seperti di sekolah biasanya?, dan banyak pertanyaan lainnya. Untuk memutus kebingungan yang tak kunjung menemukan jawabannya, akhirnya saya bertanya kepada kakak panitia pendamping. Dikatakan bahwa mayoritas masyarakat sekitar menganggap pendidikan itu bukanlah suatu hal yang sangat penting. Pola pikir mereka masih seperti orang-orang zaman dulu dan tentunya jika dibandingkan dengan wilayah kota sudah tertinggal dengan kemajuan-kemajuan yang ada. Hal tersebut lah yang menjadi faktor penyebab sedikitnya jumlah minat siswa yang menempuh pendidikan di SD Az-Ziyadah.
ADVERTISEMENT
Selang beberapa waktu, kami membagi 2 bagian yang dimana 4 orang akan mengajar di kelas atas dan 4 orang mengajar di kelas bawah. Kelas bawah merupakan gabungan dari kelas 1-3, sedangkan kelas atas merupakan gabungan dari kelas 4-6. Hal ini dikarenakan jumlah siswa di SD Az-Ziyadah hanya sedikit, sekitar 10 orang siswa secara keseluruhan. Proses pembelajaran kali ini dapat berjalan dengan lancar berkat kerja sama antar anggota yang baik dan di dukung dengan para adik-adik yang bersedia untuk tertib selama pembelajaran berlangsung.
Di SD Az-Ziyadah ini sangat minim fasilitas yang memadai. Bahkan papan tulisnya saja masih menggunakan kapur tulis. Namun, hal itu tidak menjadi alasan seluruh peserta didik disini untuk tidak semangat belajar. Justru diantara sebagian masyarakat sekitar yang tidak memberikan anaknya kesempatan untuk merasakan bangku pendidikan, mereka menjadi anak yang beruntung karena masih bisa bersekolah.
Kegiatan pembelajaran sesi ice breaking. Sumber: Dokumentasi pribadi.
Pembelajaran di awali dengan doa bersama dan perkenalan diri terlebih dahulu agar memudahkan interaksi antara sobat volunteer UJAR dengan para adik-adik. Setelah itu, dilanjutkan dengan memberikan sedikit penjelasan pengantar tentang pelajaran Bahasa Indonesia, yaitu Kalimat Opini dan Fakta. Dilanjutkan dengan memberikan contoh-contoh kalimat opini dan fakta sebelum berlanjut ke penugasan untuk mengukur sejauh mana pemahaman mereka terhadap materi yang telah disampaikan. Sebelum itu, kami mengajak mereka untuk bermain sejenak agar bisa lebih fokus dalam mengerjakan soal melalui ice breaking. Antusias mereka sangat tinggi ketika tiba waktunya ice breaking. Seolah hal itu merupakan hal yang paling dinanti. Selang beberapa saat, usai sudah ice breaking yang kemudian dilanjutkan dengan pengerjaan tugas. Tidak sedikit diantara dari mereka yang sembari menanyakan kepada kami untuk memastikan kebenaran jawaban mereka.
Foto bersama setelah proses pembelajaran selesai. Sumber: Dokumentasi pribadi.
Setelah melakukan pengajaran, kami bisa membedakan sejauh mana tertinggalnya pendidikan di wilayah ini. Terlihat dari kesulitan-kesulitan mereka dalam memahami materi yang jika dibandingkan dengan anak-anak yang bersekolah di wilayah kota, hal itu merupakan materi dengan tingkatan mudah yang seharusnya sangat mudah untuk dimengerti. Bahkan, masih ada sebagian anak yang belum bisa membaca walaupun sudah menginjak kelas atas (antara kelas 4-6). Namun, apalah daya, bukan sepenuhnya salah mereka karena memiliki tingkat pemahaman yang berbeda dengan anak yang bersekolah di kota. Walaupun dengan keadaan yang seperti itu, terpancar semangat dari para adik-adik sangatlah membara. Tetap bersemangat untuk belajar meski dengan keadaan sekolah yang seperti itu saja, mereka sudah menjadi anak-anak yang hebat. Mereka tidak menjadikan keterbatasan dalam bentuk apapun itu sebagai penghalang bagi langkah mereka untuk memperjuangkan pendidikan.
ADVERTISEMENT
Dari kegiatan ini dapat terlihat bahwa fasilitas pendidikan di Indonesia belum merata. Sekolah-sekolah yang memiliki nasib berada di wilayah 3T ini seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah. Selain itu, perlunya kesadaran bahwa pendidikan di masa kini itu sangatlah penting. Untuk merubah pola pikir masyarakat sekitar, mungkin bisa diadakannya sosialisasi terkait pentingnya pendidikan di era digital saat ini. Ketika d wilayah perkotaan sudah mengenal banyak macamnya teknologi yang canggih, hingga adanya AI di sekolah yang memudahkan segala pihak, baik guru dan siswa, namun dengan catatan harus digunakan sesuai etika pendidikan dan digital. Di sisi lain, ternyata ada wiayah yang sangat tertinggal jauh dan sudah seharusnya mendapat perhatian penuh.