Setelah Festival Selesai, Apakah Transaksi Syariah Tetap Berjalan?

Kepala Tim Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah-Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ircham Andrianto Taufick tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang pelaku usaha makanan halal menjadi peserta di festival syariah dengan membawa produk terbaiknya. Sepanjang pameran, ia bertemu calon pembeli, agregator, lembaga pembiayaan, dan mitra distribusi. Katalog produk diberikan, sampel dicoba, nomor kontak disimpan, bahkan muncul komitmen pembelian.
Dari luar, semua itu terlihat sebagai keberhasilan. Namun ujian sebenarnya dimulai ketika stan dibongkar dan peserta kembali ke tempat masing-masing. Tiga bulan setelah pameran, apakah pembeli tadi masih memesan? Apakah komitmen pembiayaan benar-benar terjadi? Apakah pelaku usaha berhasil menambah produksi karena pertemuan tersebut?
Pertanyaan ini relevan setelah Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Jawa 2026 berlangsung pada 25–27 September. Sebagai bagian dari rangkaian menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 pada 14–18 Oktober, FESyar menjadi tempat bertemunya UMKM halal, lembaga keuangan, agregator, calon pembeli, serta berbagai pelaku dalam ekosistem ekonomi dan keuangan syariah.
Indonesia tidak kekurangan ruang untuk mempertemukan pelaku ekonomi. Tantangannya adalah memastikan pertemuan tersebut benar-benar berubah menjadi hubungan bisnis yang bertahan.
Pada 2025, Bank Indonesia mencatat transaksi bisnis sepanjang rangkaian ISEF dan Road to ISEF mencapai Rp3,1 triliun, termasuk komitmen dan realisasi pembiayaan serta perdagangan. Angka itu menunjukkan kuatnya fungsi festival dalam mempertemukan pasar dan pembiayaan. Ukuran keberhasilan berikutnya: berapa % transaksi yang masih berlangsung setelah pameran selesai?
Dari Pertemuan ke Transaksi Berulang
Business matching penting karena salah satu persoalan UMKM adalah tingginya biaya untuk menemukan pasar dan pembiayaan. Seorang produsen makanan skala kecil dapat memiliki produk yang baik, tetapi belum tentu mengetahui distributor yang tepat, pembeli yang membutuhkan produknya, atau lembaga pembiayaan yang memahami model usahanya. Keikutsertaan di festival bertujuan untuk mempertemukan UMKM dengan pihak-pihak tersebut.
Namun, pertemuan hanyalah awal. Ada perbedaan antara pembeli yang mengatakan tertarik dengan pembeli yang benar-benar menerbitkan pesanan. Ada pula perbedaan antara komitmen pembiayaan dan dana yang cair untuk meningkatkan produksi, yang selanjutnya menghasilkan pendapatan baru.
Ukuran keberhasilan festival harus diperluas untuk mengetahui berapa banyak pertemuan yang berlanjut menjadi kesepakatan, berapa kesepakatan yang terealisasi, dan berapa yang menghasilkan transaksi berulang. Di sinilah business matching perlu berkembang menjadi business continuity.
Mengukur Apa yang Terjadi Setelah Acara
Sebuah pertemuan bisnis setidaknya melewati empat tahap: pertemuan, kesepakatan, realisasi, dan transaksi berulang. Perbedaannya penting. Misal sebuah UMKM memperoleh pesanan besar selama festival. Secara statistik, transaksi itu tampak impresif. Namun jika pembeli tidak kembali, dampaknya terhadap usaha bisa terbatas. Sebaliknya, pembeli yang memesan dalam jumlah lebih kecil tetapi kembali setiap bulan, akan memberi kepastian permintaan.
Kepastian tersebut dapat memperbaiki arus kas. Pelaku usaha dapat merencanakan lebih banyak pembelian bahan baku, menambah tenaga kerja, memperbaiki kualitas produk, bahkan lebih mudah dinilai oleh bank karena pendapatannya menjadi lebih terprediksi.
Di sinilah muncul efek lanjutan dari mengikuti festival. Pertemuan membuka pasar. Pasar menciptakan transaksi. Transaksi menghasilkan arus kas. Arus kas memperbaiki kelayakan usaha. Kelayakan yang lebih baik kemudian membuka akses pembiayaan untuk memperbesar kapasitas produksi.
Jika rangkaian itu terjadi, keikutsertaan di festival dapat membantu membangun jalur pertumbuhan usaha. Karena itu, menarik untuk mengukur berapa besar conversion rate dari business matching menjadi transaksi nyata, berapa pembiayaan yang terealisasi, dan berapa banyak pembeli yang melakukan repeat order setelah acara selesai.
Ketika Matching Tidak Menjadi Transaksi
Namun tidak semua pertemuan harus berakhir dengan kesepakatan. Ada UMKM yang mungkin belum mampu memenuhi volume pesanan. Ada produk yang kualitas atau kemasannya belum sesuai standar yang diharapkan pembeli. Ada pula pembiayaan yang tidak dapat dilanjutkan karena profil risiko usaha yang tidak sesuai dengan standar lembaga keuangan.
Kegagalan seperti ini dapat memberikan informasi penting. Jika banyak UMKM gagal memenuhi pesanan karena kapasitas produksi, maka persoalannya adalah terkait investasi. Jika pembeli tertarik tetapi kualitas produk belum konsisten, kebutuhannya adalah pendampingan produksi. Jika kualitas produk sangat baik namun biaya distribusi terlalu mahal, hambatannya berada di sisi logistik.
Dengan demikian, tindak lanjut setelah festival dapat menjadi alat diagnostik untuk memahami mengapa sebagian hubungan bisnis tidak berlanjut. Transformasi digital dapat membantu proses ini. Digitalisasi dapat membuat proses itu lebih terukur. Peserta business matching dapat ditelusuri beberapa bulan setelah acara: apakah kontak berubah menjadi kontrak, kontrak menjadi pembayaran, dan pembayaran berkembang menjadi repeat order. Dengan demikian, teknologi dapat membantu mengukur apakah dampaknya bertahan setelah festival selesai.
Dari FESyar ke ISEF
FESyar dan ISEF dapat menjadi bagian dari jalur pertumbuhan yang sama: mempertemukan usaha dengan pasar yang semakin luas. Namun nilai jalur itu tidak ditentukan oleh berapa banyak pertemuan yang terjadi, melainkan berapa banyak hubungan ekonomi yang bertahan setelah acara selesai.
Pertanyaan tentang keberhasilan festival seharusnya lebih tertuju pada berapa banyak UMKM yang naik kelas setelah mengikutinya dan berapa banyak transaksi yang masih berlangsung beberapa bulan kemudian. Ekonomi syariah tidak kekurangan momentum. Yang dibutuhkan adalah memastikan momentum berubah menjadi hubungan ekonomi yang bertahan.
UMKM tumbuh ketika orang yang ditemui hari ini masih membeli produknya beberapa waktu kemudian. FESyar dapat membuka pintu. ISEF dapat memperluas jejaring. Namun ukuran paling menarik dari kedua kegiatan tersebut baru terlihat setelah stan pameran dibongkar: berapa banyak UMKM yang naik kelas setelah mengikuti festival?
