Orang Asia Sensitif Alkohol Obat Tertentu? Ini Penjelasan Ilmiah

Pharmacy Major,State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Irdina Lailani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sudah bukan rahasia bahwa orang Asia sensitif alkohol wajah merah, jantung berdebar, mual hanya dari segelas kecil. Tapi tahukah kamu, sensitivitas serupa juga berlaku pada obat tertentu? Fenomena orang Asia sensitif alkohol obat ini bukan soal kuat atau tidak kuat. Ini soal gen yang memang berbeda sejak lahir, dan ilmu pengetahuan sudah lama membuktikannya.

Kenapa Orang Asia Sensitif terhadap Alkohol? Ini Gen Penyebabnya
Di dalam tubuh kita ada "petugas kebersihan" bernama enzim ALDH2. Tugasnya sederhana mengurai zat racun bernama asetaldehida yang muncul saat kita minum alkohol. Kalau petugas ini bekerja normal, asetaldehida cepat dibersihkan dan tubuh baik-baik saja.
Masalahnya, sekitar 35–40% orang Asia Timur termasuk banyak orang Indonesia, Jepang, Korea, dan Cina punya versi "cacat" dari gen ini. Akibatnya, enzim ALDH2 mereka bekerja 80–90% lebih lemah dari orang kebanyakan. Asetaldehida menumpuk di dalam tubuh, dan muncullah gejala yang familiar muka merah, jantung berdebar, mual, sampai pusing bahkan dari segelas kecil saja.
Dalam jumlah yang lebih nyata lebih dari 500 juta orang di seluruh dunia hampir semua keturunan Asia Timur membawa gen seperti ini.
Apa yang Sebetulnya Terjadi di Dalam Tubuh?
Bayangkan alkohol harus melewati dua pos pemeriksaan sebelum keluar dari tubuh. Di pos pertama, alkohol diubah menjadi asetaldehida zat yang sebenarnya lebih beracun dari alkohol itu sendiri. Di pos kedua, asetaldehida seharusnya diurai menjadi zat aman bernama asetat.
Bagi yang punya gen ALDH2 "cacat", pos kedua ini macet. Asetaldehida tertahan, menumpuk, dan menyerang tubuh itulah yang menyebabkan reaksi muka merah atau Asian flush tadi.
Uniknya, efek ini mirip sekali dengan obat Antabuse obat yang sengaja diberikan dokter kepada pecandu alkohol agar mereka jera minum. Bedanya, sebagian besar orang Asia mengalami ini secara alami karena faktor genetik.
Bukan Cuma Tidak Nyaman Ada Risiko Serius
Yang perlu diketahui Asian flush bukan sekadar malu-maluin di pesta. Penelitian menunjukkan bahwa menumpuknya asetaldehida secara terus-menerus bisa meningkatkan risiko kanker tenggorokan dan kerongkongan, serta penyakit jantun terutama bagi mereka yang tetap memaksakan diri minum alkohol meski sudah ada reaksi seperti itu.
Jadi kalau wajahmu atau orang terdekatmu mudah merah setelah minum alkohol, itu bukan tanda "toleransi rendah yang bisa dilatih". Itu sinyal dari tubuh yang sebaiknya didengarkan.
Orang Asia Juga Lebih Sensitif terhadap Beberapa Obat Ini Alasannya
Cerita soal gen dan sensitivitas ini tidak berhenti di alkohol saja. Ada enzim lain di hati bernama CYP2C19 yang bertugas "mencerna" berbagai jenis obat mulai dari obat maag, antidepresan, obat pengencer darah, sampai obat jantung.
Pada sebagian orang Asia, enzim ini bekerja lebih lambat dari rata-rata. Akibatnya, obat tidak segera diproses dan kadarnya di dalam darah menumpuk lebih tinggi dari yang seharusnya. Efek sampingnya pun lebih mudah muncul, bahkan dari dosis yang tergolong "standar" untuk orang Barat.
Di sisi lain, ada juga yang enzimnya justru bekerja terlalu cepat obat habis diproses sebelum sempat bekerja optimal, sehingga pengobatan tidak efektif.
Inilah mengapa penelitian pada pasien Asia menunjukkan bahwa dosis obat pengencer darah warfarin yang dibutuhkan jauh lebih kecil dibanding pasien Eropa. Bukan karena obatnya berbeda, tapi karena cara tubuh memprosesnya memang berbeda.
Apa Artinya Ini untuk Kita Sehari-hari?
Dunia kedokteran modern kini semakin memperhatikan perbedaan genetik ini. Dokter mulai mempertimbangkan latar belakang etnis pasien saat menentukan dosis obat sebuah pendekatan yang dikenal sebagai precision medicine atau pengobatan yang dipersonalisasi.
Untuk kita sebagai masyarakat, ada dua hal yang bisa langsung dipraktikkan. Pertama, jika kamu atau anggota keluargamu mengalami reaksi muka merah setelah minum alkohol, jangan diabaikan ini sinyal penting dari tubuh. Kedua, saat dokter meresepkan obat, jangan ragu menyampaikan jika ada efek yang terasa tidak wajar, karena bisa jadi dosis perlu disesuaikan.
