Konten dari Pengguna

Dari Kosovo hingga Ratko Mladić: Gereja Ortodoks dalam Membentuk Bangsa Serbia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Irsyad Mohammad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemakaman Ratko Mladić pada 7 September 2026 di Beograd, Ibukota Serbia. Kematian terpidana kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan Ratko Mladić dimakamkan dalam upacara kenegaraan di Serbia. Sumber gambar: gambar buatan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Pemakaman Ratko Mladić pada 7 September 2026 di Beograd, Ibukota Serbia. Kematian terpidana kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan Ratko Mladić dimakamkan dalam upacara kenegaraan di Serbia. Sumber gambar: gambar buatan AI.

Pada 7 September 2026, ribuan orang memadati Beograd untuk mengantarkan Ratko Mladić ke tempat peristirahatan terakhirnya. Peti mati mantan Panglima Tentara Republika Srpska itu diselimuti bendera Serbia dan Republika Srpska, dibawa anggota militer, diiringi orkes militer, serta dihadiri sejumlah pejabat Serbia dan tokoh Serbia Bosnia. Namun perhatian terbesar justru tertuju ke Gereja Santo Lukas. Di sana, Patriark Porfirije, pemimpin tertinggi Gereja Ortodoks Serbia, memimpin langsung upacara pemakaman Mladić.

Pemandangan itu menimbulkan ironi yang sulit diabaikan. Mladić meninggal ketika menjalani hukuman penjara seumur hidup setelah pengadilan internasional menyatakannya bersalah atas genosida di Srebrenica, kejahatan terhadap kemanusiaan, serta kejahatan perang. Putusannya dikuatkan di tingkat banding pada 2021. Ia dinyatakan bertanggung jawab antara lain atas pembunuhan dan pemusnahan di Srebrenica, kampanye teror terhadap Sarajevo, deportasi, pemindahan paksa, hingga penyanderaan personel PBB.

Namun yang dilakukan Patriark Porfirije bukan sebatas mendoakan seorang manusia yang telah meninggal. Dalam khotbahnya, ia mengatakan bahwa nama Mladić akan tetap tertanam dalam ingatan dan doa sebagian besar masyarakat Ortodoks Serbia yang merasa berterima kasih kepadanya. Mladić digambarkan sebagai seorang prajurit dan komandan yang memikul pengorbanan bagi kebebasan, pertahanan, serta kelangsungan bangsanya.

Bagi Bosnia-Herzegovina, pemandangan itu bukan sekadar urusan domestik Serbia. Pemakaman seorang terpidana genosida dengan penghormatan militer, kehadiran pejabat pemerintah, dan ribuan orang yang meneriakkan namanya kembali membuka luka lama Perang Bosnia (1992-1995) yang masih bernanah dan belum sepenuhnya kering.

Menteri Luar Negeri Bosnia-Herzegovina Elmedin Konaković bahkan mengatakan Serbia telah “melewati semua garis merah.” Sarajevo kemudian mengusir dua diplomat Serbia, menarik sebagian besar staf kedutaannya dari Beograd, serta menangguhkan rencana penandatanganan memorandum kerja sama dan hubungan bertetangga baik dengan Serbia.

Kecaman keras juga datang dari Uni Eropa. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut gambar-gambar pemakaman Mladić “mengejutkan” dan menilai kehadiran pejabat senior serta unsur dukungan resmi menunjukkan kegagalan menghadapi salah satu bab paling gelap dalam sejarah Eropa modern. Ironinya semakin kentara karena Serbia sendiri masih berusaha masuk ke Uni Eropa. Bagi Brussel, glorifikasi penjahat perang, penyangkalan genosida, dan revisionisme sejarah bukan sekadar persoalan masa lalu, tetapi bertentangan langsung dengan nilai-nilai yang menjadi dasar proses keanggotaan Uni Eropa.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar daripada sebuah pemakaman. Ratko Mladić boleh didoakan sebagai seorang manusia yang telah meninggal. Namun ketika petinya diarak dengan penghormatan militer, pejabat negara hadir, ribuan orang meneriakkan namanya, dan pemimpin tertinggi Gereja Ortodoks Serbia menempatkannya dalam narasi pengorbanan demi bangsa, batas antara doa, politik ingatan, dan glorifikasi seorang penjahat perang menjadi semakin kabur.

Mengapa Gereja Ortodoks Serbia memberikan penghormatan seperti itu kepada seorang penjahat perang, pelanggar HAM, penjahat kemanusiaan, dan terpidana genosida dalam Tragedi Srebrenica?

Jawabannya tidak cukup dicari dalam Perang Bosnia. Kita harus mundur hampir delapan abad ke belakang. Sebab di Serbia, gereja bukan sekadar lembaga yang mengurus hubungan manusia dengan Tuhan semata. Gereja Ortodoks ikut membentuk bagaimana bangsa Serbia memahami asal-usulnya, mengenang tragedi serta kekalahannya, memilih pahlawannya, dan menentukan tanah mana yang dianggap sakral.

Ketika Negara Serbia Lenyap dari Peta, Gereja Turut Menyimpan Identitas Serbia

Ilustrasi Pertempuran Kosovo 1389, pada saat itu Pangeran Lazar Hrebeljanović digambarkan memimpin pertempuran heroik melawan pasukan Ottoman. Memang dalam pertempuran ini Serbia kalah dan pada akhirnya Serbia tunduk di bawah Ottoman. Namun tragedi kekalahan ini yang kemudian dimistifikasi dan diromantisasi menjadi memori kolektif bangsa Serbia hingga sekarang. Sumber gambar: gambar buatan AI.

Kisah itu lazim dimulai dari Santo Sava. Pada 1219, Sava memperoleh kemandirian bagi Gereja Serbia dan menjadi uskup agung pertamanya. Gereja kemudian berkembang berdampingan dengan Dinasti Nemanjić yang membangun kerajaan Serbia abad pertengahan. Penguasa mendirikan biara dan melindungi gereja, sementara gereja memberikan legitimasi sakral kepada kerajaan.

Ketika kerajaan Serbia kemudian berangsur-angsur jatuh di bawah kekuasaan Ottoman, negaranya boleh menghilang, tetapi Gereja Ortodoks Serbia tidak. Biara-biara tetap berdiri, para santo tetap diperingati, kisah Dinasti Nemanjić terus diwariskan, sementara Patriarkat Peć menjadi simbol kesinambungan spiritual Serbia. Gereja pun berfungsi seperti arsip hidup yang menyimpan ingatan tentang Serbia ketika negara Serbia sendiri berkali-kali hilang atau tidak lagi hadir sebagai kekuasaan politik.

Namun hubungan antara Gereja Ortodoks dan kebangsaan Serbia tidak boleh dibayangkan seolah-olah sudah berbentuk nasionalisme modern sejak abad pertengahan. Struktur Gereja Ortodoks Serbia seperti sekarang merupakan hasil proses sejarah yang jauh lebih panjang, sementara nasionalisme modern baru kemudian mengambil berbagai warisan abad pertengahan tersebut dan menyusunnya menjadi sebuah cerita kebangsaan. Para raja, santo, biara, kemenangan, kekalahan, penderitaan, dan kebangkitan ditarik ke dalam satu garis sejarah panjang.

Di sinilah nation-building bekerja dalam membentuk imaji bangsa Serbia. Sebuah bangsa tidak cukup hanya mempunyai pemerintah, tentara, dan perbatasan. Ia juga membutuhkan cerita mengenai siapa dirinya, dari mana ia berasal, siapa martirnya, serta penderitaan apa yang tidak boleh dilupakan.

Dalam kasus Serbia, Gereja Ortodoks Serbia menyediakan banyak bahan bagi cerita tersebut.

Tidak ada contoh yang lebih kuat daripada Kosovo dalam membentuk imaji kebangsaan, identitas, dan memori kolektif bangsa Serbia.

Pertempuran Kosovo pada 1389 secara historis jauh lebih rumit daripada cerita sederhana Serbia melawan Ottoman. Namun dalam tradisi epik dan keagamaan Serbia yang berkembang kemudian, Pangeran Lazar Hrebeljanović dikenang sebagai martir yang memilih mempertahankan iman dan kehormatan daripada tunduk. Gereja Ortodoks Serbia sendiri sampai sekarang menggambarkan Lazar sebagai tokoh yang memilih “kerajaan surgawi” dibandingkan “kerajaan duniawi”, lalu menghubungkan pilihannya dengan perjuangan bagi salib dan kebebasan.

Kekalahan militer pun mengalami perubahan makna. Serbia boleh kalah di medan perang dan Lazar boleh mati, tetapi dalam memori religius yang berkembang kemudian ia justru dianggap memenangkan peperangan yang lebih besar: kemenangan moral dan spiritual.

Saking sucinya narasi itu, Lazar tidak berhenti dikenang sebagai seorang pangeran yang gugur dalam peperangan. Ia masuk ke dalam tradisi kesucian Gereja Ortodoks Serbia dan sampai hari ini dihormati sebagai Santo Pangeran Lazar, atau Saint Prince Lazar, martir besar Kosovo. Bahkan pada Vidovdan 2026, Patriark Porfirije memimpin liturgi di Biara Ravanica di hadapan relik Lazar dan menyebut pilihannya sebagai pilihan yang melampaui satu zaman dan satu bangsa. Gereja Ortodoks Serbia juga memiliki penghargaan resmi bernama Order of Saint Prince Lazar, yang oleh gereja sendiri dikaitkan dengan identitas spiritual dan nasional Serbia.

Dengan demikian, Lazar tidak lagi hanya menjadi tokoh sejarah. Ia berubah menjadi figur suci yang berdiri tepat di persimpangan antara agama dan bangsa. Di sinilah politik ingatan bekerja dengan sangat kuat: seorang penguasa abad ke-14 dapat hidup kembali berabad-abad kemudian sebagai santo, martir, sekaligus simbol kebangsaan.

Orang-orang yang kemudian menulis, menyanyikan, dan mewariskan kisah Pertempuran Kosovo menggambarkannya secara epik dan hagiografis, selayaknya kisah Perang Salib. Analogi itu mudah tumbuh karena musuh yang dihadapi adalah Kekaisaran Ottoman yang Muslim, sedangkan Serbia mengidentifikasi dirinya dengan Kekristenan Ortodoks.

Pertempuran politik akhirnya tidak lagi dikenang semata-mata sebagai perebutan kekuasaan dan wilayah, tetapi perlahan memperoleh corak pertarungan antara Kristen dan Muslim, salib dan bulan sabit, serta sebuah bangsa yang merasa dirinya berdiri di garis depan mempertahankan iman. Kajian tentang narasi Ortodoks Serbia memang menunjukkan bagaimana pembacaan religius terhadap Kosovo kemudian semakin kuat dan pada masa modern ikut dipakai untuk membangun identitas nasional Serbia.

Kisah tragedi kematian Pangeran Lazar pun dibentuk menyerupai figur Yesus Kristus. Bukan berarti ia diceritakan mati dengan cara disalib, melainkan struktur kisahnya dibuat sangat Kristologis. Pangeran Lazar mengetahui dirinya menuju kematian, menerima pengorbanannya, mengadakan perjamuan terakhir, dan memilih kematian duniawi demi “kerajaan surgawi”.

Dalam tradisi epik Serbia, kisah menjelang Pertempuran Kosovo bahkan dibentuk seperti kisah Yesus Kristus lengkap dengan adegan yang menyerupai The Last Supper (Perjamuan Terakhir), lengkap dengan figur pengkhianat yang mengingatkan pada Yudas. Sejumlah kajian menyebut pengorbanan Lazar sebagai bentuk pengorbanan yang disejajarkan dengan Kristus dan ikut “menyucikan” nasionalisme Serbia modern.

Logikanya kurang lebih sama dengan kisah Kristus dalam iman Kristen. Kristus memang mati secara jasmani, tetapi kematiannya tidak dipahami sebagai kekalahan terakhir. Sebaliknya, ia dianggap menang dalam “kerajaan surgawi” secara moral dan rohani karena ajarannya terus hidup dan tersebar ke berbagai belahan dunia hingga hari ini. Begitu pula Pangeran Lazar: ia tewas dan kerajaannya pada akhirnya tidak mampu menghentikan ekspansi Ottoman, tetapi kematiannya tidak melenyapkan Gereja Ortodoks ataupun identitas Serbia.

Justru karena negara Serbia kemudian menghilang selama berabad-abad, Lazar memperoleh kehidupan kedua dalam ingatan bangsanya.

Inilah kekuatan utama mitos Kosovo. Kekalahan tidak lagi perlu diterima sebagai kehancuran, karena ia dapat diubah menjadi martir. Bangsa yang kalah tidak merasa benar-benar kalah karena kemenangan sejatinya ditempatkan di “kerajaan surgawi”. Dalam proses panjang itu, kisah Kosovo membentuk secara sangat kuat imajinasi nasional Serbia: Serbia sebagai bangsa yang menderita, bertahan, dan berkali-kali merasa harus mempertahankan dirinya dari ancaman yang datang dari luar.

Namun narasi tersebut tidak muncul sekaligus pada 1389. Ia terus dibentuk ulang selama berabad-abad. Kajian mutakhir bahkan menunjukkan bahwa posisi Kosovo sebagai “jantung” nasional Serbia semakin kuat pada akhir abad ke-19, ketika elite nasional Serbia mulai mengonstruksi kawasan tersebut sebagai tempat kelahiran bangsa dan simbol kejayaan abad pertengahan. Setelah Tito meninggal pada 1980, ketika identitas Yugoslavia mulai melemah, mitos Kosovo kembali memperoleh tenaga politik yang sangat besar.

Pada dekade 1980-an, simbol Santo Lazar, Kosovo sebagai tanah suci, Gereja Ortodoks, serta gagasan mengenai penderitaan historis Serbia kembali masuk ke ruang publik. Relik Lazar bahkan dibawa berkeliling menjelang peringatan 600 tahun Pertempuran Kosovo pada 1989. Pada saat yang hampir bersamaan, Slobodan Milošević menemukan bahwa Kosovo dapat dijadikan sumber mobilisasi politik yang sangat kuat.

Mitos lama mengenai bangsa Serbia sebagai korban kekuasaan Ottoman kemudian memperoleh kehidupan baru di tengah konflik dengan masyarakat Albania Kosovo menjelang pecahnya Yugoslavia. Dalam wacana nasionalis Serbia pada 1980-an, orang Albania kerap dibingkai sebagai pewaris atau perpanjangan dari masa lalu Ottoman: sebagian besar beragama Islam, sementara dalam sejarah Kekaisaran Ottoman memang terdapat banyak tokoh Albania yang menduduki jabatan penting dalam pemerintahan dan militer.

Narasi semacam itu kemudian dipakai untuk menempatkan konflik kontemporer di Kosovo seolah-olah merupakan kelanjutan dari pertarungan berabad-abad antara Serbia dan kekuasaan Ottoman. Kajian mengenai nasionalisme Serbia menunjukkan bahwa pembingkaian terhadap masyarakat Albania sebagai ancaman historis dan demografis menjadi salah satu unsur penting mobilisasi nasional pada akhir 1980-an dan 1990-an.

Kosovo pun lambat laun tidak lagi hanya berarti sebidang wilayah. Di sana terdapat Patriarkat Peć, Visoki Dečani, Gračanica, serta berbagai situs yang menghubungkan Serbia modern dengan kerajaan Serbia abad pertengahan. Bagi Gereja Ortodoks Serbia, tempat-tempat itu bukan sekadar peninggalan arkeologis, tetapi bagian dari kesinambungan spiritual bangsa. Gereja sendiri hingga kini menyebut Kosovo dan Metohija sebagai sumber identitas spiritual dan nasional Serbia.

Perlu diluruskan pula istilah Metohija yang sering disalahpahami. Metohija bukan kawasan utara Kosovo yang “masih dikuasai Serbia”, melainkan nama historis-geografis untuk kawasan barat Kosovo yang berkaitan erat dengan tanah-tanah biara. Adapun pusat masyarakat Serbia kontemporer terutama berada di Kosovo Utara, yakni Mitrovica Utara, Zvečan, Zubin Potok, dan Leposavić.

Di sinilah peranan Gereja Ortodoks menjadi begitu penting. Ketika kekuasaan politik Serbia atas Kosovo melemah dan perbatasan berubah, gereja tetap mempertahankan hubungan simbolik antara bangsa Serbia dengan wilayah tersebut melalui biara, relik, santo, liturgi, dan memori sejarah. Karena itu bagi banyak orang Serbia, Kosovo tidak hanya berbicara tentang siapa yang memerintah wilayah tersebut hari ini, tetapi juga siapa yang merasa mewarisi sejarahnya.

Di titik inilah Kosovo berhenti menjadi sekadar wilayah sengketa dan berubah menjadi bagian dari imajinasi kebangsaan Serbia.

Yugoslavia Retak, Masa Lalu Kembali Hidup

Selepas Perang Dunia II, Josip Broz Tito mencoba membangun Yugoslavia melalui narasi yang berbeda. Bukan Serbia, Kroasia, Slovenia, Bosnia, Makedonia, atau Montenegro yang boleh merasa menjadi penguasa tunggal negara, melainkan semuanya ditempatkan dalam federasi sosialis. Semboyannya terkenal, Bratstvo i Jedinstvo atau Brotherhood and Unity (Persaudaraan dan Persatuan), motto yang puluhan tahun sempat menyatukan Yugoslavia.

Tito memang menjalankan rezim satu partai yang represif terhadap lawan politik. Tetapi pada saat bersamaan, sistemnya berusaha memberi tempat kepada berbagai bangsa dan etnis dalam struktur federasi serta menekan nasionalisme yang dianggap dapat membangkitkan kembali trauma Perang Dunia II pasca pendudukan Nazi Jerman dan Fasis Italia.

Gagasan “Brotherhood and Unity” dibangun melalui pendidikan, simbol negara, representasi etnis dalam lembaga publik, dan kultus perjuangan Partisan Yugoslavia dalam melawan pendudukan Nazi Jerman dan Fasis Italia.

Selama Marsekal Tito hidup, formula itu relatif mampu menahan Yugoslavia. Masalah mulai membesar setelah ia meninggal pada 1980. Negara menghadapi krisis ekonomi, utang, pengangguran, pertarungan antarelite republik, serta institusi federal yang semakin lemah.

Dan salah satu retakan pertama yang paling berbahaya muncul di Kosovo yang kemudian berakibat kepada bubarnya Yugoslavia.

Pada 1981, demonstrasi mahasiswa di Pristina yang awalnya menyangkut kondisi kampus berkembang menjadi tuntutan agar Kosovo memperoleh status republik. Bagi banyak warga Albania Kosovo, persoalannya menyangkut kesetaraan politik, ekonomi, serta kedudukan mereka di Yugoslavia. Sebaliknya, sebagian masyarakat Serbia Kosovo merasa posisi mereka semakin terdesak dan khawatir bahwa peningkatan otonomi Albania akan semakin melemahkan hubungan Kosovo dengan Serbia.

Agama ikut mempertegas batas identitas itu. Mayoritas Albania Kosovo beragama Islam, sedangkan masyarakat Serbia pada umumnya Ortodoks. Namun konflik Kosovo tidak pernah sesederhana Islam melawan Kristen. Otonomi, distribusi kekuasaan, ketimpangan ekonomi, perubahan demografi, nasionalisme, serta hubungan Pristina dengan Beograd jauh lebih menentukan. Agama bekerja terutama sebagai penanda identitas yang membuat batas “Serbia” dan “Albania” semakin mudah dikenali.

Gereja Ortodoks Serbia melihat peluang sekaligus ancaman. Sejak awal 1980-an, sebagian tokohnya semakin vokal membicarakan nasib orang Serbia dan situs-situs suci di Kosovo. Kajian mengenai Kosovo era 1980-an menunjukkan bagaimana gereja mulai memosisikan dirinya sebagai pembela identitas spiritual, budaya, dan historis bangsa Serbia setelah puluhan tahun dipinggirkan rezim komunis.

Di tengah suasana inilah Slobodan Milošević muncul.

Milošević bukan aktivis ekstrem kanan yang sejak muda bercita-cita membangun Serbia Raya. Ia produk sistem komunis Yugoslavia: lulusan hukum, pernah memimpin perusahaan negara dan Beobanka, lalu naik melalui jaringan Liga Komunis berkat dukungan mentornya, Ivan Stambolić. Pada 1986 ia sudah menjadi ketua Presidium Komite Sentral Liga Komunis Serbia, Savez komunista Srbije atau Liga Komunis Serbia (SKS), cabang Serbia dari Liga Komunis Yugoslavia, Savez komunista Jugoslavije (SKJ).

Pada April 1987, Milošević datang ke Kosovo Polje sebagai pejabat komunis Serbia untuk menghadapi keluhan masyarakat Serbia setempat. Ketika terjadi bentrokan antara demonstran Serbia dan polisi Kosovo, ia keluar dan melontarkan kalimat yang kemudian terkenal: “Niko ne sme da vas bije”, artinya “tidak seorang pun boleh memukuli kalian.”

Kalimat pendek itu mengubah karier politiknya.

Penelitian mutakhir menyebut pidato “Kosovo Polje” atau dikenal juga sebagai “Pidato Gazimestan” sebagai salah satu momen pertama ketika Milošević menunjukkan bakat retorika populisnya. Ia yang setahun sebelumnya ikut mengecam Memorandum Akademi Ilmu Pengetahuan dan Seni Serbia karena dianggap nasionalistis, kini menemukan bahwa keluhan masyarakat Serbia Kosovo dapat menjadi sumber kekuatan politik yang jauh lebih besar daripada jargon komunis lama.

Ilustrasi Slobodan Milošević berpidato mengumandangkan gagasan "Serbia Raya" di depan rakyat di Beograd, ibukota Serbia. Gagasan Serbia Raya turut membuat takut etnis lain di Yugoslavia dan berkontribusi sangat besar memecah belah Yugoslavia, hingga akhirnya Yugoslavia bubar. Sumber gambar: gambar buatan AI.

Di tahun yang sama, Serbia memperingati 600 tahun Pertempuran Kosovo, bahkan film pertempuran itu dibuat dan disiarkan di secara luas di TV. Relik Pangeran Lazar dibawa berkeliling, perayaan keagamaan bercampur dengan mobilisasi nasional, sedangkan Milošević tampil di Gazimestan di hadapan massa raksasa.

Gereja dan politik negara yang sebelumnya sering bersitegang akhirnya sama-sama memperoleh keuntungan dari kebangkitan kembali Kosovo sebagai simbol nasional. Kajian tentang dekade 1980-an mencatat adanya konvergensi nyata antara mobilisasi gereja dan politik pada puncak peringatan tersebut.

Kosovo telah memberi Milošević sesuatu yang tidak diberikan komunisme untuknya: emosi massa dan dukungan politik untuknya. Hal yang di kemudian hari turut melejitkan karier politik nasionalnya.

Dari Imaji Kosovo Menuju Gagasan Serbia Raya

Ilustrasi lintasan perjalanan sejarah Serbia dari masa Pertempuran Kosovo hingga pemakaman Ratko Mladić. Sumber gambar: gambar buatan AI.

Di sinilah perjalanan Milošević berubah semakin jauh dari retorika Yugoslavia lama tentang “Bratstvo i jedinstvo” atau Brotherhood and Unity (Persaudaraan dan Persatuan). Ia tidak pernah menerbitkan sebuah manifesto tunggal berjudul “Serbia Raya” pada 1987. Karena itu, akan terlalu sederhana jika seolah-olah sejak awal seluruh kariernya bergerak mengikuti satu cetak biru yang sudah selesai.

Namun arah politiknya semakin jelas. Milošević berulang kali menegaskan bahwa orang Serbia tidak boleh dipaksa hidup terpisah dalam negara-negara berdaulat berbeda ketika Yugoslavia mulai pecah. Ketika Slovenia dan Kroasia bergerak menuju kemerdekaan, persoalannya tidak lagi semata mempertahankan Yugoslavia, tetapi juga siapa yang akan menguasai wilayah-wilayah berpenduduk Serbia di luar Republik Serbia.

Catatan pengadilan internasional kemudian menunjukkan bahwa politik tersebut bukan sekadar retorika. Dalam putusan final terhadap pejabat intelijen Serbia Jovica Stanišić dan Franko Simatović pada 2023, pengadilan menetapkan adanya usaha kriminal bersama untuk secara paksa dan permanen mengeluarkan sebagian besar penduduk non-Serbia dari wilayah-wilayah yang diklaim Serbia di Bosnia dan Kroasia.

Kantor Jaksa International Residual Mechanism for Criminal Tribunals (IRMCT) sebuah badan ad hoc PBB untuk mengadili para penjahat perang bekas negara Yugoslavia, menyebut Milošević dan Mladić bersama sejumlah pemimpin Serbia, Serbia Kroasia, dan Serbia Bosnia sebagai bagian dari usaha tersebut.

Perang Yugoslavia kemudian membuat identitas agama semakin sulit dipisahkan dari identitas etnis. Dulu pada masa pemerintahan komunis Yugoslavia garis batas antar etnis relatif samar, namun setelah pecah Perang Bosnia, garis itu semakin jelas. Serbia diasosiasikan dengan Ortodoks, Kroasia dengan Katolik, sedangkan Bosnia dengan Islam. Ini tidak berarti perang Bosnia merupakan perang agama. Perebutan wilayah, pembentukan negara, keamanan, nasionalisme, dan kekuasaan politik adalah faktor utama. Tetapi agama memberikan simbol, ritual, sejarah, dan bahasa moral yang dapat dipakai untuk menguatkan masing-masing identitas.

Gereja Ortodoks Serbia bukan penonton pasif dalam proses tersebut. Sejarawan Vjekoslav Perica menunjukkan bagaimana sebagian kalangan agamawan Gereja Ortodoks Serbia sudah sangat aktif dalam mobilisasi nasional Serbia sejak 1980-an yang akhirnya memicu pecahnya Yugoslavia dan membuat terjadinya perang antar etnis dan agama di Yugoslavia.

Penelitian yang terbit pada 2026 terhadap publikasi resmi gereja sepanjang 1990–2000 bahkan menemukan adanya narasi teologis-politik mengenai nasionalisme Serbia, mitologi serta romantisasi perang Kosovo, dan perang yang dianggap adil, yang ikut dipakai untuk membenarkan perang serta kekerasan dari pihak Serbia.

Tentu gereja bukan satu-satunya aktor tunggal. Tidak setiap imam atau uskup mengambil posisi yang sama, dan terdapat pula tokoh agama yang menyerukan perdamaian. Tetapi secara kelembagaan, gereja telah memperoleh kembali posisi yang sempat hilang selama komunisme: menjadi salah satu lembaga yang ikut menentukan identitas orang Serbia dan juga membentuk imaji kebangsaan Serbia, serta memori kolektif rakyat Serbia.

Republika Srpska dan Bangsa yang Melampaui Negara

Peta Republik Srpska yang merupakan negara bagian dari Bosnia-Herzegovina. Negara bagian Republik Srpska didominasi oleh etnis Serbia dan menjadi satu dari 3 entitas yang membentuk Bosnia-Herzegovina, entitas lainnya ialah Federasi Bosnia-Herzegovina dan Distrik Brčko atau Kondominium Brčko, sebuah wilayah yang diperintah bersama oleh Republik Srpska dan Federasi Bosnia-Herzegovina, dalam istilah hubungan internasional wilayah yang diperintah bersama oleh 2 negara atau lebih disebut kondominium. Bisa dilihat bendera Republik Srpska sangat mirip dengan Republik Serbia. Sumber gambar: gambar buatan AI.

Untuk memahami Republika Srpska, terlebih dahulu perlu melihat bentuk negara Bosnia-Herzegovina yang tidak biasa. Secara sederhana, negara ini dapat dibayangkan terbagi ke dalam tiga unit teritorial utama: Federasi Bosnia-Herzegovina, Republika Srpska, dan Distrik Brčko.

Namun secara hukum kedudukannya tidak sama. Federasi Bosnia-Herzegovina dan Republika Srpska merupakan dua entitas yang membentuk Bosnia-Herzegovina, sedangkan Brčko bukan “negara bagian ketiga”, melainkan distrik khusus yang mempunyai pemerintahan sendiri dan berada langsung di bawah kedaulatan Bosnia-Herzegovina.

Susunan itu merupakan salah satu warisan Perjanjian Dayton 1995 yang mengakhiri Perang Bosnia. Dayton mempertahankan Bosnia-Herzegovina sebagai satu negara, tetapi membaginya ke dalam dua entitas. Satu persoalan belum selesai ketika perjanjian itu ditandatangani: status Brčko, wilayah strategis di timur laut Bosnia yang diperebutkan Federasi Bosnia-Herzegovina dan Republika Srpska. Karena tidak tercapai kesepakatan, persoalan Brčko diserahkan kepada arbitrase internasional.

Pada 1999, keputusan arbitrase menetapkan kawasan Brčko sebagai condominium kedua entitas dan memberinya pemerintahan distrik yang otonom dari kontrol politik keduanya. "Kondominium" di sini tentu bukan berarti apartemen elite, melainkan istilah hukum untuk wilayah yang secara formal menjadi milik bersama kedua entitas.

Distrik Brčko kemudian resmi berfungsi sebagai satu unit pemerintahan sendiri di bawah kedaulatan Bosnia-Herzegovina, sementara kedua entitas menyerahkan kewenangan pemerintahannya di wilayah itu kepada distrik.

Dalam susunan politik seperti inilah Republika Srpska berada. Ia bukan bagian dari Republik Serbia dan bukan pula sebuah negara merdeka, melainkan salah satu dari dua entitas Bosnia-Herzegovina.

Namun perbatasan politik tidak selalu sama dengan perbatasan identitas. Masyarakat Serbia Bosnia di Banja Luka dapat hidup sebagai warga Bosnia-Herzegovina, tetapi pada saat bersamaan merasa berada dalam satu ruang sejarah, kebudayaan, dan spiritual dengan masyarakat Serbia di Beograd.

Mendoakan Mladić atau Mengabadikannya?

Ilustrasi Institusi Gereja Ortodoks Serbia. Sumber gambar: gambar buatan AI.

Secara teologis, sebenarnya tidak ada sesuatu yang ganjil jika gereja mendoakan orang yang melakukan kejahatan. Kekristenan mengenal dosa, pengampunan, pertobatan, dan keyakinan bahwa keputusan terakhir mengenai keselamatan seseorang berada di tangan Tuhan.

Patriark Porfirije sendiri mengatakan Gereja Ortodoks tidak menentukan nasib kekal manusia dan bahwa Mladić pada tahun-tahun terakhir hidupnya melakukan pengakuan dosa serta menerima komuni.

Sampai di sini, pelayanan gereja masih dapat dibaca sebagai tindakan pastoral. Seorang imam dapat mendoakan seorang pembunuh tanpa membenarkan pembunuhan. Seorang terpidana genosida pun tetap manusia yang, menurut teologi Kristen, dapat meminta pengampunan.

Masalahnya muncul ketika Patriark Porfirije melangkah dari pengampunan ke ingatan nasional. Dalam khotbah yang sama, ia menyatakan bahwa masyarakat Ortodoks Serbia mempunyai rasa terima kasih mendalam kepada Mladić dan melihatnya sebagai komandan yang berkorban bagi kebebasan, pertahanan, dan kelangsungan bangsanya. Ia juga mengingatkan bahwa pengadilan dunia tidak selalu mengukur keadilan dengan ukuran yang sama.

Di sinilah batas antara doa dan politik menjadi kabur.

Ratko Mladić tidak dimakamkan dalam ritual keluarga yang sunyi. Petinya dibawa tentara, memperoleh penghormatan militer, dihadiri pejabat negara, serta disaksikan ribuan orang yang sebagian menyebutnya pahlawan. Ketika pemimpin tertinggi gereja kemudian memasukkan Mladić ke dalam narasi pengorbanan bagi bangsa, pelayanan pastoral berubah menjadi tindakan yang ikut membentuk cara masyarakat mengingat sejarah.

Gereja tentu dapat mengatakan bahwa Tuhan mungkin mengampuni Mladić. Tetapi pengampunan Tuhan tidak membatalkan putusan sejarah mengenai Srebrenica, Sarajevo, deportasi, pembunuhan, dan pemindahan paksa yang telah dibuktikan di pengadilan.

Justru dalam tradisi Kristen terdapat konsep yang lebih berat daripada pengampunan: pertobatan. Pertobatan tidak bekerja dengan menghapus dosa dari ingatan, tetapi dengan mengakuinya dan tidak bersikap denial.

Di sinilah Gereja Ortodoks Serbia menghadapi ujian terbesarnya. Selama berabad-abad gereja berjasa menjaga identitas Serbia ketika kerajaannya runtuh, ketika wilayahnya dibagi kekuatan asing, ketika perbatasan berubah, dan ketika komunisme mencoba mendorong agama keluar dari pusat kehidupan publik. Bahkan pada 2026, Kosovo masih diperlakukan gereja sebagai pusat spiritual yang menghubungkan orang Serbia masa kini dengan sejarah berabad-abad sebelumnya.

Tetapi kekuasaan untuk menjaga ingatan sekaligus membawa tanggung jawab moral mengenai apa yang hendak diingat.

Serbia berhak mengingat Kosovo. Serbia berhak mengingat korban-korbannya dalam Perang Dunia II, Perang Kroasia, Bosnia, maupun Kosovo. Tidak ada bangsa yang wajib melupakan penderitaannya sendiri.

Namun sebuah bangsa juga menjadi dewasa ketika mampu mengingat penderitaan orang lain yang pernah ditimbulkan atas namanya.

Ratko Mladić boleh didoakan sebagai manusia. Tetapi ia tidak harus diubah menjadi martir bangsa.

Selama berabad-abad, Gereja Ortodoks Serbia berhasil menjaga agar bangsa Serbia tidak kehilangan masa lalunya. Tantangan abad ke-21 jauh lebih berat: mampukah gereja membantu Serbia mengingat masa lalu tanpa terus menjadi tawanan luka sejarahnya sendiri?