Dibuang Pakistan, Inilah Abdus Salam: Ilmuwan Muslim Pertama Peraih Nobel

Pengamat Geopolitik dan Pengamat Timur Tengah. Alumni Ilmu Sejarah Universitas Indonesia. Mahasiswa S2 Islamic Studies Universitas Paramadina. Penulis dan Sejarawan.
·waktu baca 22 menit
Tulisan dari Irsyad Mohammad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tanggal 10 Desember 1979, suasana Aula Konser Stockholm, Swedia, tampak begitu megah dan penuh wibawa. Para ilmuwan besar dunia, diplomat, bangsawan, akademisi, hingga petinggi negara duduk rapi berkumpul di kursi-kursi beludru merah dalam sebuah acara paling prestisius dalam dunia ilmu pengetahuan modern: penganugerahan Hadiah Nobel.
Raja Carl XVI Gustaf dari Swedia berdiri dengan anggun, siap menyematkan medali emas bergambar Alfred Nobel kepada tiga orang fisikawan yang telah mengubah pemahaman manusia tentang alam semesta.
Kala itu mata para hadirin di Aula Konser Stockholm memandang seorang pria berkacamata berjenggot, dengan bangganya mengenakan sorban dan pakaian adat khas Punjab, Pakistan. Sosok itulah—Prof. Mohammad Abdus Salam—seorang ilmuwan jenius asal Pakistan dan menjadi ilmuwan Muslim pertama di dunia yang mendapatkan Nobel Sains dan menjadi satu-satunya orang Pakistan yang mendapatkan Nobel Sains hingga hari ini.
Hari itu Abdus Salam resmi dianugerahi Nobel Fisika bersama Steven Weinberg dan Sheldon Glashow atas kontribusi mereka dalam teori penyatuan gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah (electroweak unification theory). Penemuan tersebut bukan penemuan sembarangan. Teori itu menjadi salah satu fondasi utama Standard Model of Particle Physics, teori paling penting dalam fisika modern yang menjelaskan perilaku partikel-partikel elementer penyusun alam semesta.
Namun di tengah gegap gempita dunia Barat yang memuliakan Abdus Salam sebagai pahlawan ilmu pengetahuan, ada ironi yang begitu menyakitkan. Di Pakistan sendiri, sambutan terhadap Abdus Salam justru terasa dingin. Tidak ada euforia nasional besar-besaran sebagaimana negara lain memuliakan ilmuwan nasionalnya. Tidak ada glorifikasi seperti ketika seorang atlet memenangkan kejuaraan dunia. Padahal Abdus Salam ialah ilmuwan Muslim pertama yang memperoleh Nobel di bidang sains dan satu-satunya warga Pakistan yang pernah memperoleh Nobel sains hingga hari ini.
Masalahnya bukan karena Abdus Salam kurang berjasa kepada Pakistan. Justru sebaliknya, ia adalah salah satu arsitek utama kebangkitan sains Pakistan modern. Penyebab utamanya ialah identitas keagamaannya sebagai anggota Jemaat Muslim Ahmadiyah yang dianggap kafir dan sesat oleh sebagian besar umat Muslim di dunia. Pada tahun 1974, pemerintah Pakistan secara resmi mendeklarasikan Ahmadiyah sebagai non-Muslim melalui amendemen konstitusi negara. Sejak saat itu, nama Abdus Salam perlahan dipinggirkan dari narasi resmi Pakistan.
Bahkan ironi itu terus berlanjut hingga setelah kematiannya. Pada batu nisannya tertulis kalimat "First Muslim Nobel Laureate for His Work in Physics" (Muslim Pertama Peraih Nobel atas kontribusinya di bidang fisika) namun otoritas Pakistan kemudian menghapus kata "Muslim" dari makamnya karena dianggap bertentangan dengan hukum anti-Ahmadiyah. Sebuah tragedi yang sangat menyedihkan, bagaimana seorang ilmuwan besar dapat "dihapus" dari sejarah bangsanya sendiri akibat politik identitas dan sektarianisme.
Anak Desa Punjab yang Menaklukkan Cambridge
Jauh sebelum menjadi ilmuwan besar dunia, Abdus Salam hanyalah seorang anak desa dari wilayah Punjab. Ia lahir pada 29 Januari 1926 di Kota Jhang, wilayah Punjab yang kala itu masih berada di bawah kolonialisme Inggris. Ayahnya hanyalah pegawai sederhana di bidang pendidikan. Tidak ada latar belakang aristokrat ataupun kekayaan besar dalam keluarganya. Namun sejak kecil Salam menunjukkan kecerdasan luar biasa terutama dalam matematika.
Konon ketika masih berusia belasan tahun, ia telah mampu menyelesaikan soal-soal matematika tingkat tinggi yang sulit dipahami murid sekolah biasa. Banyak guru-gurunya percaya bahwa Abdus Salam adalah anak ajaib. Di tengah kondisi dunia Islam yang sedang mengalami kemunduran panjang akibat kolonialisme dan keterbelakangan pendidikan, kemunculan Abdus Salam terasa seperti anomali sejarah.
Pada masa itu banyak orang di dunia kolonial percaya bahwa bangsa-bangsa Asia dan Muslim tidak mungkin mampu menyaingi intelektualitas Eropa. Dunia ilmu pengetahuan modern dianggap sebagai monopoli Barat. Namun Abdus Salam mematahkan asumsi itu. Berkat kecerdasannya, ia memperoleh beasiswa ke University of Cambridge dan belajar di St John's College, Cambridge.
Di Cambridge nama Abdus Salam mulai dikenal luas. Ia bukan hanya mahasiswa cerdas biasa, melainkan salah satu mahasiswa paling berbakat dalam bidang fisika teoretis dan matematika. Di era itu dunia fisika sedang mengalami revolusi besar. Para ilmuwan berlomba memahami rahasia partikel subatom, mekanika kuantum, dan gaya-gaya fundamental alam semesta. Nama-nama seperti Albert Einstein, Niels Bohr, hingga Paul Dirac mendominasi dunia akademik. Abdus Salam datang dari negeri Muslim miskin yang baru merdeka, namun ia mampu berdiri sejajar dengan ilmuwan-ilmuwan besar itu.
Selepas menamatkan studinya, Abdus Salam sempat kembali ke Pakistan dengan idealisme besar. Ia bermimpi membangun tradisi sains modern di dunia Islam. Bagi Salam, kemunduran umat Islam bukan disebabkan Islam itu sendiri, melainkan runtuhnya budaya ilmu pengetahuan dalam dunia Muslim. Dalam banyak pidatonya ia sering menyebut bagaimana dahulu ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina, Al-Khwarizmi, dan Ibn al-Haytham pernah memimpin peradaban ilmu dunia.
Namun Pakistan kala itu belum siap menerima visi besar Abdus Salam. Infrastruktur pendidikan masih lemah, laboratorium terbatas, dan dunia politik Pakistan penuh konflik identitas. Salam akhirnya kembali ke Inggris dan melanjutkan karier akademiknya di Eropa. Di sanalah namanya kemudian benar-benar meledak dalam dunia fisika modern.
Menyatukan Gaya Alam Semesta: Revolusi Elektrolemah
Kontribusi terbesar Abdus Salam dalam dunia sains ialah teori penyatuan gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah. Sebelum teori ini muncul, para ilmuwan menganggap gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah sebagai dua fenomena berbeda. Namun Abdus Salam bersama Weinberg dan Glashow berhasil menunjukkan bahwa pada tingkat energi sangat tinggi, kedua gaya tersebut sebenarnya berasal dari satu sumber yang sama.
Secara matematis, teori itu digambarkan melalui persamaan:
SU(2)L×U(1)Y→U(1)emSU(2)L×U(1)Y→U(1)em
Bagi orang awam, persamaan ini mungkin terlihat seperti kode alien. Namun justru dari sinilah Abdus Salam membantu manusia memahami bahwa gaya-gaya fundamental alam semesta sebenarnya memiliki keterhubungan yang elegan. Teori ini kemudian menjadi bagian utama dari Standard Model, teori fisika modern yang menjelaskan perilaku elektron, neutrino, quark, dan berbagai partikel dasar lainnya.
Bisa dikatakan Abdus Salam membantu manusia memahami "bahasa tersembunyi" alam semesta. Sebagaimana Einstein membantu menjelaskan gravitasi dan ruang-waktu melalui relativitas, Salam membantu menjelaskan bagaimana gaya-gaya dasar alam bekerja pada tingkat paling kecil.
Teori Abdus Salam kemudian terbukti benar ketika CERN berhasil menemukan partikel boson W dan Z pada awal 1980-an. Penemuan itu menjadi validasi besar terhadap teori elektrolemah. Dunia fisika pun akhirnya mengakui Abdus Salam sebagai salah satu fisikawan terbesar abad ke-20.
Namun menariknya, Abdus Salam bukan tipe ilmuwan yang hanya sibuk dengan laboratorium dan rumus. Ia memiliki obsesi besar terhadap kebangkitan dunia Islam dan dunia ketiga melalui sains. Ia percaya ilmu pengetahuan tidak boleh menjadi monopoli Barat. Dalam banyak pidatonya, Salam sering mengkritik dunia Muslim yang terlalu sibuk dengan konflik internal tetapi melupakan tradisi intelektual.
Abdus Salam dan Jalan Nuklir Pakistan
Ketika Pakistan berdiri sebagai negara baru pasca pemisahan dari India, negara itu menghadapi banyak persoalan: kemiskinan, konflik identitas, ketertinggalan teknologi, dan ancaman geopolitik dari India. Situasi semakin memburuk setelah Pakistan mengalami kekalahan besar dalam perang melawan India tahun 1971 yang menyebabkan lahirnya Bangladesh.
Kekalahan itu mengguncang elite Pakistan. Mereka sadar bahwa Pakistan membutuhkan kekuatan strategis baru agar tidak selalu kalah dari India. Salah satu jawabannya ialah pengembangan teknologi nuklir. Dalam konteks inilah Abdus Salam memainkan peran penting.
Pada era 1960-an hingga awal 1970-an, Abdus Salam menjabat sebagai penasihat ilmiah utama pemerintah Pakistan. Dalam posisi tersebut ia membantu membangun infrastruktur sains Pakistan, mendirikan lembaga-lembaga penelitian, mengirim ilmuwan muda belajar ke luar negeri, dan memperkuat pendidikan fisika modern di Pakistan.
Nama yang paling populer dalam program nuklir Pakistan memang Abdul Qadeer Khan. Namun jauh sebelum Abdul Qadeer Khan menjadi simbol nasional, Abdus Salam telah lebih dulu membangun fondasi intelektual komunitas ilmiah Pakistan. Banyak fisikawan Pakistan generasi awal lahir dari sistem yang dibangun Abdus Salam.
Salam sendiri lebih dikenal sebagai fisikawan teoretis ketimbang ilmuwan senjata. Namun kontribusinya terhadap pembangunan komunitas fisika Pakistan membuatnya menjadi salah satu tokoh penting dalam jalan panjang Pakistan menuju negara nuklir. Ia membantu menciptakan atmosfer ilmiah yang memungkinkan Pakistan mengembangkan teknologi reaktor dan riset nuklir.
Ironisnya, setelah Pakistan berhasil menjadi negara nuklir, jasa Abdus Salam justru semakin tenggelam akibat sentimen sektarian. Politik identitas di Pakistan berkembang semakin keras. Ahmadiyah dipersekusi dan ruang gerak mereka dibatasi. Abdus Salam yang kecewa terhadap keputusan Pakistan mendeklarasikan Ahmadiyah sebagai non-Muslim akhirnya memilih menjauh dari pemerintahan Pakistan.
ICTP dan Mimpi Kebangkitan Sains Dunia Ketiga
Salah satu warisan terbesar Abdus Salam bukan hanya teori fisika, melainkan juga perjuangannya membangun dunia ketiga melalui ilmu pengetahuan. Salam memahami bahwa ilmuwan dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin sering tertinggal bukan karena mereka bodoh, melainkan karena tidak memiliki fasilitas dan akses pendidikan seperti ilmuwan Barat.
Karena itu, pada tahun 1964 Abdus Salam mendirikan International Centre for Theoretical Physics (ICTP) di Trieste. Lembaga ini kemudian diganti Namanya pada tahun 1997 menjadi Abdus Salam International Centre for Theoretical Physics, setelah meninggalnya Abdus Salam pada tahun 1996–untuk menghormati jasanya dalam mendirikan ICTP.
ICTP menjadi pusat pendidikan dan riset bagi ilmuwan dari negara-negara berkembang. Ribuan ilmuwan Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin datang belajar ke sana. Dalam banyak hal, ICTP adalah bentuk perlawanan intelektual terhadap dominasi Barat dalam dunia sains. Salam ingin menciptakan ruang di mana ilmuwan dunia ketiga dapat berkembang tanpa harus sepenuhnya tunduk kepada pusat-pusat akademik Eropa dan Amerika.
Bagi Abdus Salam, kebangkitan dunia Islam tidak cukup hanya dengan retorika politik atau romantisme kejayaan masa lalu. Dunia Islam harus kembali membangun laboratorium, universitas, budaya riset, dan tradisi berpikir rasional. Ia percaya bahwa kemiskinan dan keterbelakangan dunia Muslim hanya dapat diatasi melalui ilmu pengetahuan.
Nestapa Abdus Salam: Hujan Emas di Negeri Orang, Hujan Batu di Negeri Sendiri
Tragedi terbesar Abdus Salam justru datang dari negerinya sendiri. Pada tahun 1974, pemerintah Pakistan di bawah Zulfikar Ali Bhutto, karena tekanan kelompok garis keras, secara resmi mendeklarasikan Ahmadiyah sebagai non-Muslim melalui amendemen konstitusi kedua Pakistan. Dalam amandemen itu dinyatakan bahwa penganut Ahmadiyah, baik dari kelompok Qadian maupun Lahore, keduanya non-Muslim. Keputusan itu menjadi titik balik hubungan Abdus Salam dengan Pakistan.
Abdus Salam yang kecewa kemudian mengundurkan diri dari berbagai jabatan negara dan pergi ke Inggris. Sejak saat itu, namanya perlahan dihapus dari memori kolektif Pakistan. Buku-buku sekolah jarang membahas jasanya. Negara lebih memilih mengangkat tokoh lain ketimbang Abdus Salam. Bahkan hingga hari ini, banyak anak muda Pakistan yang tidak benar-benar memahami siapa Abdus Salam.
Selepas konflik politik dan sektarian itu, Abdus Salam akhirnya lebih banyak menetap di Inggris, terutama di London. Di sana ia melanjutkan aktivitas akademiknya dengan kembali mengajar di Imperial College dan melakukan riset saintifik.
Namun ada peristiwa penting lain yang turut memengaruhi kehidupan spiritualnya di London. Pada tahun 1984, Khalifatul Masih IV, Mirza Tahir Ahmad, terpaksa meninggalkan Pakistan dan memindahkan pusat Jemaat Ahmadiyah sedunia dari Rabwah ke London. Ia pergi atas desakan umatnya yang khawatir ia akan ditangkap dan dieksekusi oleh rezim Zia-ul-Haq, meskipun mulanya ia enggan dan memilih tetap tinggal di Pakistan menderita bersama umatnya.
Kedatangan Khalifatul Masih IV ke London membuat Abdus Salam kembali memperdalam pengetahuan religiusnya. Ia hidup lebih dekat dengan pemimpin spiritualnya dan para pengurus Jemaat Ahmadiyah. Menurut berbagai sumber yang penulis baca dan dokumenter yang penulis tonton, Abdus Salam dikenal sebagai Muslim yang taat dan rajin datang ke Masjid Fazl, masjid Ahmadiyah bersejarah di London. Ia biasa berada di shaf depan saat sholat Jumat dan selalu membawa pena serta buku catatan untuk menulis isi khutbah, terutama khutbah dari Khalifatul Masih IV. Baginya, Ahmadiyah bukan sekadar identitas administratif, melainkan bagian penting dari kehidupan spiritual dan intelektualnya.
Ironisnya, pada saat yang sama Pakistan justru bergerak semakin keras terhadap Ahmadiyah. Ketika Muhammad Zia-ul-Haq berkuasa melalui rezim militer ultra-konservatifnya, mencetuskan kebijakan Ordinance XX pada tahun 1984. Aturan kontroversial ini secara efektif membatasi kehidupan sosial dan keagamaan Ahmadiyah di Pakistan. Isinya sungguh mencengangkan. Warga Ahmadiyah dilarang menggunakan simbol-simbol Islam secara terbuka.
Mereka bahkan diancam hukuman penjara hingga tiga tahun atau denda, atau keduanya, apabila mengucapkan enam kalimat thayibah yang menjadi fondasi utama identitas Muslim: La ilaha ilallah, Muhammadur Rasulullah, Allahu Akbar, Subhanallah, Alhamdulillah, dan La hawla wa la quwwata illa billah. Bayangkan, seseorang dapat dipenjara hanya karena mengucapkan kalimat-kalimat yang bagi Muslim di seluruh dunia adalah ungkapan sehari-hari yang paling sakral. Itulah betapa absurd dan mengerikannya politik identitas yang dijalankan rezim Zia.
Warga Ahmadiyah juga dilarang menyebut tempat ibadah mereka sebagai masjid, menggunakan salam Islam di ruang publik, melantunkan azan, atau melakukan praktik peribadatan yang oleh pemerintah Pakistan dianggap sebagai "upaya meniru" cara-cara umat Muslim dalam beribadah. Kota Rabwah yang menjadi pusat dakwah Ahmadiyah diganti namanya menjadi Chenab Nagar (kota di Sungai Chenab), karena kata Rabwah dianggap diambil dari Al-Qur'an.
Rezim Zia memperketat administrasi identitas keagamaan, termasuk dalam urusan paspor dan ibadah haji. Pemerintah Pakistan membuat klasifikasi khusus antara Muslim dan non-Muslim dalam dokumen negara. Untuk kepentingan riset saat kuliah di jurusan Ilmu Sejarah dulu, penulis mengunduh formulir haji Pakistan untuk membuktikan sendiri seberapa parah persekusi terhadap mereka. Saat membaca formulir tersebut, penulis benar-benar terbelalak. Ada pernyataan yang harus ditandatangani oleh setiap orang Pakistan yang ingin pergi haji atau umroh, yang kurang lebih berbunyi: "Saya menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi palsu dan para pengikutnya, baik kelompok Qadian maupun Lahore, adalah non-Muslim."
Penulis pernah membaca sebuah esai opini di media Pakistan yang mengkritik keras tindakan ini. Penulis esai tersebut mengakui bahwa ia menandatangani pernyataan itu hanya sebagai formalitas agar bisa pergi haji, dan membandingkan Indonesia yang jauh lebih toleran karena mengizinkan Ahmadiyah pergi haji atau umroh.
Memang, penulis sendiri menyadari bahwa Indonesia tidak sepenuhnya toleran terhadap Ahmadiyah. Ada Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri yang membatasi aktivitas Ahmadiyah dan mereka tidak bisa mengadakan kegiatannya secara terbuka. Penulis sedari lama sangat-sangat keras menentang SKB 3 Menteri, karena mencederai kebebasan beragama di Indonesia. Namun terlepas dari itu, Indonesia tetap lebih toleran terhadap Ahmadiyah, baik Qadian maupun Lahore, dibandingkan Pakistan. Jelaslah bahwa Ahmadiyah secara praktis dipersulit, bahkan nyaris mustahil, untuk pergi haji maupun umroh karena negara menganggap mereka bukan Muslim.
Namun di sinilah paradoks rezim kediktatoran Zia-ul-Haq terlihat sangat jelas. Meski rezim Jenderal Zia menindas Ahmadiyah, mereka tetap memahami bahwa Abdus Salam adalah aset prestise internasional Pakistan. Ketika Salam memenangkan Nobel Fisika tahun 1979, pemerintah Pakistan tidak mungkin sepenuhnya mengabaikannya. Dunia internasional telanjur mengenal Abdus Salam sebagai ilmuwan Pakistan paling terkenal sepanjang sejarah.
Karena itu, Abdus Salam tetap diundang pulang ke Pakistan dan bahkan memperoleh penghargaan resmi negara yang disematkan langsung oleh Jenderal Zia-ul-Haq di Istana Kepresidenan. Suasana itu terasa sangat ironis. Di satu sisi rezim Zia meminggirkan Ahmadiyah dan menganggap mereka kafir, namun di sisi lain negara tetap ingin menikmati prestise global Abdus Salam demi citra Pakistan di mata dunia.
Ironi itu mencapai puncaknya ketika rezim Zia menawarkan paspor khusus kepada Abdus Salam yang menyatakan dirinya sebagai seorang Muslim agar ia dapat pergi haji ke Mekkah. Pada masa itu, rezim Pakistan secara efektif melarang Ahmadiyah pergi haji karena mereka dianggap bukan Muslim. Namun untuk Abdus Salam, pengecualian hendak diberikan oleh negara. Secara tersirat, rezim Zia seolah berkata: “semua orang Ahmadiyah sesat dan kafir, kecuali ente karena ente berjasa dan berguna bagi bangsa dan negara.”
Namun justru di titik inilah kebesaran moral Abdus Salam terlihat sangat jelas. Salam menolak paspor khusus tersebut. Ia memilih solidaritas bersama komunitas Ahmadiyah yang tertindas di Pakistan, ketimbang menerima privilese khusus untuk dirinya sendiri. Abdus Salam tidak ingin diperlakukan berbeda hanya karena dirinya ilmuwan terkenal dan peraih Nobel. Sikap itu memperlihatkan bahwa di balik kejeniusannya sebagai fisikawan, ia juga memiliki solidaritas moral yang sangat kuat terhadap komunitasnya.
Lantas, apa saja bentuk "hujan emas" yang ia terima di negeri orang? Setelah wafatnya, dunia internasional justru semakin gencar mengabadikan namanya. Pusat fisika teoretis yang ia dirikan di Trieste, Italia, secara resmi diubah namanya menjadi Abdus Salam International Centre for Theoretical Physics pada tahun 1997. Di London, English Heritage memasang plakat biru di rumahnya di Campion Road pada tahun 2020 sebagai tanda penghormatan bagi tokoh penting yang pernah tinggal di sana.
Bahkan Imperial College London, tempat ia mengajar puluhan tahun, mengganti nama perpustakaan pusatnya menjadi Abdus Salam Library pada Juni 2023. Di CERN, Swiss, ada sebuah jalan bernama Route Salam. Di Kanada, ada Abdus Salam Street. Di Amerika dan Kanada, dua pameran sains tahunan diselenggarakan atas namanya untuk memotivasi ilmuwan muda. Ratusan ilmuwan setiap tahun mengenang dan mengembangkan warisan keilmuannya.
Sementara itu, bagaimana dengan negerinya sendiri? Pengakuan dari Pakistan baru datang pada tahun 2016, ketika Perdana Menteri Nawaz Sharif melakukan rehabilitasi terhadap Prof. Dr. Abdus Salam dengan meresmikan perubahan nama pusat fisika di Universitas Quaid-i-Azam menjadi Professor Abdus Salam Center for Physics. Butuh waktu hampir empat puluh tahun sejak ia diusir secara politik pada tahun 1974. Sebuah editorial di surat kabar Pakistan, Dawn, dengan tajam menyindir:
"That it has taken nearly four decades for this country to honour a globally renowned scientist who was one of its own, is a sad reflection of the priorities that hold sway here... For Dr Salam was an Ahmadi, a persecuted minority in Pakistan, and his faith rather than his towering achievements was the yardstick by which he was judged.”
(“Butuh waktu hampir empat puluh tahun bagi negara ini untuk menghormati seorang ilmuwan kelas dunia yang merupakan salah satu putranya sendiri. Itu adalah cerminan menyedihkan dari prioritas yang berlaku di sini. Karena Dr. Salam adalah seorang Ahmadi, minoritas yang teraniaya di Pakistan, dan keyakinannya, bukan pencapaiannya yang luar biasa, yang menjadi tolok ukur penilaian terhadap dirinya.”)
Di luar negeri, Abdus Salam dihormati sebagai peraih Nobel dan pelopor fisika modern. Namanya diabadikan di perpustakaan, pusat penelitian, dan jalan-jalan di kota besar. Di dalam negerinya sendiri, ia baru diakui setelah puluhan tahun, itupun dengan setengah hati. Hujan emas dan penghormatan ia terima di negeri orang, tetapi hujan batu dan pengucilan ia dapatkan dari negeri sendiri. Itulah nestapa terbesar Abdus Salam. Ia adalah ilmuwan Muslim di dunia modern yang menjadi pahlawan sains bagi dunia, tetapi bagi negerinya sendiri, ia hanya seorang Ahmadi yang harus dilupakan.
Refleksi Pribadi: Mengenal Abdus Salam dari Cerita Lisan hingga Riset
Nama Abdus Salam pertama kali saya dengar bukan dari buku pelajaran, melainkan dari obrolan santai di kantor penerbit Komodo Books dan Jurnal Sajak-Jurnal Kritik dengan Muhammad Alfaris atau saya biasa memanggilnya Oom Faris, mantan aktivis pers mahasiswa UGM, saat saya masih duduk di bangku SMP kelas 9 dan tengah bersiap menghadapi ujian nasional pada tahun 2011.
Ia bercerita dengan sangat gamblang tentang rezim Jenderal Zia-ul-Haq dan kebijakan Islamisasi garis kerasnya di Pakistan, mulai dari toko-toko yang wajib tutup saat azan berkumandang hingga polisi syariah yang berpatroli selepas dzuhur untuk memaksa orang-orang pergi ke masjid, sampai-sampai banyak yang ikut shalat tanpa wudhu karena takut dipenjara. Namun yang paling membekas di ingatan saya justru cerita Oom Faris tentang bagaimana Pakistan menjadi negara Islam pertama yang memiliki senjata nuklir berkat peran Abdus Salam sebagai pionir riset fisika nuklir di sana, meskipun ironisnya ia justru dikucilkan karena latar belakang Ahmadiyahnya.
Oom Faris juga bercerita apa yang menyebabkan Abdus Salam demikian bersemangat agar Pakistan punya nuklir. Katanya, Abdus Salam pernah mengatakan: "Hindu punya nuklir, Kristen punya nuklir, atheis punya nuklir, bahkan Yahudi punya nuklir. Kenapa umat Islam tidak punya nuklir?" Baginya, umat Islam tidak boleh terus-menerus menjadi bangsa yang lemah dan tertindas. Sains dan teknologi adalah jalan keluar dari keterbelakangan.
Cerita itu saya simpan cukup lama, hingga ketika saya masuk kuliah dan bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di semester kedua, saya mulai meriset Ahmadiyah secara lebih serius. Saya membaca sendiri pertama kali karya Mirza Ghulam Ahmad, yaitu buku Pidato Sialkot (1980). Buku ini diberikan oleh paman saya, Oom Arif yang ia dapat waktu ia pergi ke Semarang dan berkenalan dengan para anggota Jemaat Ahmadiyah. Ia sendiri bukanlah penganut Ahmadiyah, cuma ia punya koleksi buku-buku Ahmadiyah dan diberikan semuanya ke saya.
Mulailah saya meriset Ahmadiyah dengan lebih detail, pertama-tama aliran Lahore, barulah kemudian aliran Qadian yang banyak dianut di kalangan Ahmadiyah sendiri. Dari riset tersebut saya menemukan kembali nama Abdus Salam. Saat itu saya langsung teringat pada cerita Oom Faris dan semakin yakin bahwa ia benar. Abdus Salam adalah ilmuwan besar dunia, dan ia memang seorang Ahmadiyah.
Saya memang meriset Ahmadiyah cukup intensif, sampai hampir tiap hari menyetel lagu-lagu puisi pujian Ahmadiyah (nazm) dan menonton Muslim Television Ahmadiyya (MTA) hingga dokumenter-dokumenternya. Sumber-sumber kontra pun saya gali. Yang paling terkemuka ialah Ahmad Hariadi, mantan mubaligh Ahmadiyah Qadian yang kemudian keluar dan menulis buku kecaman sangat-sangat keras terhadap Ahmadiyah.
Saya juga membaca buku-buku K.H. Ahmad Hassan, tokoh ulama Persatuan Islam (Persis) yang sangat anti-Ahmadiyah. Dari sinilah saya menemukan fokus riset skripsi saya. K.H. Ahmad Hassan pernah melakukan debat terbuka dengan Maulana Rahmat Ali dan Maulana Abubakar Ayyub dari Ahmadiyah Qadian. Debat ini dilakukan pada tahun 1933, yaitu debat pertama di Bandung dan debat kedua di Batavia (kini Jakarta).
Kedua perdebatan terbuka ini dihadiri oleh G.F. Pijper, Kepala Kantoor voor Inlandsche Zaken (Kantor Urusan Pribumi), sebuah lembaga resmi pemerintah kolonial Hindia-Belanda yang mengurus urusan Islam dan keyakinan pribumi. Juga dihadiri perwakilan semua ormas Islam terkemuka, termasuk NU, Muhammadiyah, dan Al-Irsyad. Semua media pada masa itu meliputnya. Debat ini berlangsung tertib, dikawal polisi Hindia-Belanda, dan tidak ada persekusi terhadap Ahmadiyah setelahnya. Semua catatan argumennya dicatat dalam Officieel Verslag Debat (Catatan Debat Resmi). Isinya sama, yang membedakan hanyalah penerbitnya, karena Ahmadiyah dan Persis sama-sama menerbitkan catatan perdebatan itu.
Saya menjadikan perdebatan ini sebagai topik skripsi saya di Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), Universitas Indonesia. Skripsi saya kemudian saya ringkas menjadi artikel pendek (prosiding) untuk konferensi internasional yang diselenggarakan UIN Jakarta, yaitu "the 2nd International Conference on Culture and Language in Southeast Asia" (ICCLAS 2018). Prosiding saya yang berjudul "The Dialogue between Qadian Ahmadiyya and Persatuan Islam in 1933" (2019) diterbitkan enam bulan setelah konferensi oleh Atlantis Press dan tautannya sudah saya sertakan dalam tulisan ini. Untuk menulisnya, saya melakukan riset di dua kubu: ke Kantor Pengurus Pusat Persis dan juga ke Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Saya berusaha cover both sides.
Bagi saya, perdebatan 1933 ini adalah pengingat penting. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia pernah punya tradisi debat intelektual yang bermartabat. Saya sulit membayangkan peristiwa seperti ini akan terjadi di Indonesia, apalagi di Pakistan, negeri Abdus Salam, pada hari ini. Di mana perbedaan pada isu agama yang paling sensitif sekalipun bisa tuntas di arena perdebatan intelektual tanpa kekerasan.
Setelah momen skripsian dan publikasi jurnal itu, sejak 2019 terlintas niat saya untuk menulis esai ini. Bukan sekadar berbagi cerita lama, melainkan benar-benar ingin mengajak umat Islam untuk menghargai kontribusi keilmuannya, terlepas dari apa pun latar belakang mazhab yang dianutnya.
Kita sering berdiskusi di masjid, di kampus, maupun di sekolah tentang kerinduan pada Zaman Keemasan Islam yang secara historis berlangsung kira-kira dari abad ke-8 hingga ke-13 Masehi, dan bagaimana menghidupkan kembali tradisi saintifik seperti dulu. Abdus Salam pun turut berbicara tentang hal yang persis sama, tetapi bedanya ia tidak hanya berwacana, ia benar-benar membuktikannya.
Hadiah Nobel Fisika dan pendirian Abdus Salam International Centre for Theoretical Physics (ICTP) di Trieste, Italia, adalah bukti nyata dari komitmen itu. Ironisnya, pemerintah Arab Saudi menolak membiayai lembaga tersebut semasa hidupnya hanya karena ia Ahmadiyah, tetapi justru Iran dan Kuwait yang tercatat pernah memberikan dukungan dana.
Terlepas dari bagaimana pandangan teologis para ulama Iran terhadap Ahmadiyah yang pada umumnya menolak keras Ahmadiyah, mereka memilih untuk melihat komitmen Abdus Salam pada sains, bukan pada perbedaan mazhab. Kini Iran bahkan dikenal sebagai salah satu negara Islam yang mencapai taraf Science-Technology-Society (STS), sebagaimana dijelaskan dengan sangat detail dan menarik lewat buku Revolusi Saintifik Iran (2013) yang ditulis oleh Husain Heriyanto–seorang akademisi yang mengajar di Universitas Paramadina dan filsuf yang sangat menaruh perhatian sangat besar dalam perkembangan filsafat ilmu.
Setelah tadi kita membahas dampak global kiprah Abdus Salam, saya harus jujur mengakui satu hal. Latar belakang saya adalah ilmu sejarah dan kini sedang mengambil pascasarjana filsafat agama di Paramadina Graduate School of Islamic Studies (PGSI), bukan fisika. Saya sama sekali tidak memiliki kapasitas untuk menjelaskan secara memadai teori elektrolemah atau rincian riset fisika Abdus Salam. Saya berpegang teguh pada adagium yang diajarkan dosen saya di UI sejak semester kedua: "Akademisi boleh salah, tidak boleh bohong." Karena itu, saya tidak mau berpura-pura paham di luar kemampuan saya.
Namun justru dari posisi kejujuran akademik inilah saya merasa prihatin. Nama sebesar Abdus Salam hanya beredar di kalangan saintis dan komunitas kecil di Indonesia, sementara Albert Einstein yang juga sama-sama ahli fisika dikenal oleh anak-anak sekolah dan orang awam di mana-mana. Sungguh sangat disayangkan.
Lalu apa gunanya saya menulis ini jika saya tidak paham fisika? Saya menulis untuk memperkenalkan dan memasyarakatkan namanya. Saya sebenarnya sudah punya niatan menulis biografi Abdus Salam sejak tahun 2018–2019, tetapi saya urungkan karena takut keterbatasan saya justru akan mengkerdilkan kebesaran kiprahnya di dunia sains.
Cukup esai pendek ini saya hadirkan sebagai pancingan awal, dengan harapan kelak akan lahir tulisan yang lebih mendalam yang membahas karya ilmiahnya, juga diharapkan nantinya muncul biografi atau bahkan komik biografi, tentang Abdus Salam di Indonesia.
Jika suatu saat ada pakar fisika yang bersedia menjadi penulis tambahan, saya dengan senang hati akan menggandengnya untuk mewujudkan biografi utuh itu. Namun untuk saat ini, biarlah tulisan sederhana ini menjadi pintu masuk bagi pembaca yang belum mengenalnya.
Abdus Salam, “Einstein Dunia Islam” yang Terlupakan
Setelah melalui semua cerita dan pengakuan jujur di atas, saya ingin mengajak pembaca melihat satu hal: segala ironi dan kontroversi yang menyelimuti dirinya justru tidak mengurangi, melainkan mempertegas, betapa besarnya sosok Abdus Salam di mata dunia.
Maka tidak berlebihan bila sebagian kalangan menyebut Abdus Salam sebagai “Einstein dunia Islam.”
Memang dari sisi pengaruh historis global, Einstein tetap memiliki posisi unik dalam sejarah sains. Namun dalam konteks dunia Islam modern, Abdus Salam jelas merupakan salah satu ilmuwan Muslim terbesar yang pernah lahir pada abad ke-20.
Ia bukan hanya memenangkan Nobel. Ia membantu menjelaskan struktur dasar alam semesta, membangun tradisi riset fisika Pakistan, membantu kebangkitan sains dunia ketiga, dan menginspirasi generasi ilmuwan Muslim di berbagai negara.
Namun kisah Abdus Salam juga merupakan kisah tragis tentang bagaimana seorang jenius dapat dikucilkan oleh bangsanya sendiri akibat politik identitas. Ia menjadi simbol benturan antara ilmu pengetahuan dan sektarianisme dalam dunia modern.
Pada akhirnya Abdus Salam bukan hanya milik Pakistan atau Ahmadiyah. Ia adalah bagian dari sejarah intelektual umat manusia. Dunia Islam mungkin dapat memperdebatkan mazhabnya, tetapi dunia sains tidak dapat menghapus kontribusinya terhadap pemahaman manusia mengenai alam semesta.
