Budaya dalam Nama: Pemakaian Bahasa Selaku Refleksi Harapan

aktivitas saya sebagai pekerja di PT KEJAR PUSAT , pendidikan terakhir saya di MAN LEUWILIANG , dan saya sekarang kuliah karyawan di universitas pamulang
Konten dari Pengguna
23 Juni 2022 21:13
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Irvan Fadillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Budaya dalam Nama: Pemakaian Bahasa Selaku Refleksi Harapan (175986)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi foto nama. pixabay.com
ADVERTISEMENT
Dalam kenyataan tiap hari, nama ialah sesuatu aspek yang mencerminkan kebudayaan seorang. Seorang yang mempunyai nama yang direfleksikan dari budaya ataupun agama tertentu mungkin besar menganut budaya ataupun tersebut. Muhammad Ali, misalnya, yakni seseorang atlet yang menganut agama Islam. Perihal ini direfleksikan dari namanya, ialah Muhammad, seseorang nabi yang diagungkan oleh pemeluk agama Islam. Perihal begini juga berlaku pada budaya ataupun agama lain. Dari mari, muncullah persoalan,“ Kenapa aspek budaya dominan dalam sesuatu nama?”.
ADVERTISEMENT
Pada dasarnya, nama ialah sesuatu hak istimewa yang diberikan sang pemberi nama kepada seorang. Pemberian nama dapat lewat orang tua, kerabat, apalagi sang pemilik nama itu sendiri. Terdapat sesuatu doa ataupun harapan dari sang pemberi nama. Nama tidak cuma berguna selaku bukti diri untuk orang tua( lewat nama keluarga) ataupun pemilik nama, namun pula untuk orang-orang dekat, semacam kerabat, sahabat, rekan bisnis, serta sebagainya. Misalnya, seorang bisa mengenali bukti diri orang tertentu lewat namanya ataupun sanggup memperoleh hak istimewa bila tahu dengan pemilik nama tertentu.
Pemberian nama kepada seorang tidaklah perihal yang sepele. Pada hakikatnya, pemberian nama merupakan implementasi uraian kebahasaan yang sangat bernilai, baik dari segi agama, sosial budaya, ataupun tradisi. Bagi Rini dkk.( 2018), nama ialah istilah yang istimewa untuk orang tua, orang terdekat, serta pemilik nama. Dengan kata lain, nama bukan cuma semata-mata formalitas belaka, namun ialah sesuatu harapan istimewa. Perihal yang sependapat pula di informasikan oleh Herbert Newton Casson yang melaporkan kalau nama ialah istilah ataupun panggilan yang sangat indah untuk pemiliknya.
ADVERTISEMENT
Penciptaan nama tidak bisa terlepas dari kebudayaan warga. Selaku salah satu faktor dominan yang senantiasa menempel dalam sistem warga, manusia tidak bisa terlepas dari budaya. Budaya merupakan hal yang senantiasa hidup berdampingan dengan manusia: pengaruhi pola pikirnya, perilakunya, serta tindakannya, di mana juga mereka terletak. Budaya ialah sesuatu Kerutinan yang menempel dengan warga. Selaku makhluk yang berbudaya, mereka juga menghasilkan standar tertentu yang bertabiat nyata, misalnya norma, bahasa, perlengkapan hidup, organisasi sosial, seni, serta lain-lain. Seluruh perihal tersebut bertujuan buat menolong manusia dalam melakukan kehidupan bermasyarakat.
Selaku salah satu aspek yang menempel dengan warga, pemberian nama tidak terlepas dari budaya. Budaya warga bisa ditatap selaku sesuatu“ panduan” buat pemberian nama seorang. Pemberian nama dalam bermacam budaya sangat merefleksikan keadaan budaya yang dianut oleh masyarakatnya. Dengan keadaan ini, warga cenderung memakai budaya mereka( contohnya bahasa) buat menghasilkan harapan yang dilansir dalam nama. Salah satu contoh nama yang merefleksikan harapan merupakan Baskara. Kata baskara berasal dari bahasa Jawa yang berartimataharihari’. Dengan memakai baskara selaku nama anak, warga Jawa mempunyai harapan kalau anak mereka nanti seperti semacam matahari, yang bisa menolong sesama serta berguna untuk seluruh orang.
ADVERTISEMENT
Bersumber pada uraian tersebut, pemberian nama sangat berkaitan ekspresi kebahasaan si pembentuk nama bersumber pada kebudayaannya. Permasalahan pemilihan serta pemberian nama pada seorang sangat berkaitan ataupun berhubungan erat dengan bahasa. Bahasa juga diimplementasikan dalam budaya sesuatu kelompok warga, yang pasti saja bersinggungan dengan kebudayaannya. Nama ialah sesuatu harapan yang direfleksikan oleh pembentuk nama kepada kanak-kanak mereka. Seperti itu keluarga dari agama tertentu hendak menamakan nama anak mereka dengan faktor agama tersebut, bukan agama lain.
Catatan Jurnal
Rini, N., Zees, S. R., serta Pandiya.( 2018). Pemberian nama anak dalam sudut pandang bahasa. Harian Epigram, 15( 2), 145- 153.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020