Makeup Gotik : Estetika atau Stigma?

Mahasiswi Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Isda Oktaviana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Makeup Gotik Kembali Populer
Tren kecantikan terus mengalami perubahan mengikuti perkembangan budaya populer dan media sosial. Salah satu gaya yang kembali mendapatkan perhatian adalah makeup gotik. Ciri khasnya dapat terlihat dari penggunaan warna gelap, riasan mata yang tegas, complexion yang memberikan kesan dramatis, serta warna bibir yang cenderung gelap.
Gaya tersebut banyak ditemukan dalam berbagai konten di media sosial. Tutorial makeup, transformasi wajah, hingga inspirasi fashion membuat gaya gotik semakin mudah dikenal dan diikuti oleh berbagai kalangan.
Namun, di tengah popularitasnya, muncul pula anggapan bahwa makeup gotik memiliki kaitan dengan hal-hal satanik atau simbol kepercayaan tertentu. Anggapan tersebut kemudian memunculkan perdebatan: apakah penggunaan makeup gotik memang menunjukkan keterkaitan dengan satanisme, atau hanya merupakan bentuk ekspresi estetika?
Gotik Tidak Sama dengan Satanik
Penting untuk membedakan antara gaya gotik sebagai estetika dan satanisme sebagai konsep kepercayaan atau gerakan tertentu. Keduanya tidak dapat disamakan hanya berdasarkan penggunaan warna hitam, simbol tertentu, atau penampilan yang terlihat gelap.
Budaya gotik memiliki sejarah panjang yang berkembang melalui musik, fashion, seni, sastra, dan berbagai bentuk ekspresi budaya. Estetika gotik umumnya menggunakan unsur gelap, dramatis, misterius, dan terkadang melankolis.
Sementara itu, istilah satanisme memiliki konteks yang jauh lebih kompleks dan tidak dapat didefinisikan hanya berdasarkan penampilan seseorang. Karena itu, seseorang yang menggunakan makeup gotik tidak otomatis dapat dianggap memiliki keyakinan atau pandangan tertentu.
Mengapa Muncul Tuduhan Satanik?
Salah satu penyebabnya adalah penggunaan simbol dan visual yang memiliki banyak makna. Dalam budaya populer, gambar tengkorak, salib terbalik, tanduk, warna merah atau hitam, serta berbagai simbol lainnya sering digunakan untuk menciptakan kesan misterius atau provokatif.
Bagi sebagian masyarakat, simbol tersebut mungkin memiliki makna religius atau negatif. Namun, dalam dunia fashion dan seni, simbol yang sama dapat digunakan sebagai elemen visual tanpa maksud menyampaikan keyakinan tertentu.
Media sosial juga dapat memperkuat perbedaan persepsi tersebut. Sebuah foto makeup yang dibuat untuk kebutuhan estetika dapat dipotong dari konteks aslinya, kemudian diberi narasi tertentu dan menyebar kepada banyak orang. Akibatnya, penilaian terhadap seseorang terkadang muncul hanya berdasarkan penampilan.
Ekspresi Diri di Tengah Perkembangan Media Sosial
Makeup pada dasarnya merupakan salah satu bentuk ekspresi diri. Seseorang dapat menggunakan makeup untuk meningkatkan rasa percaya diri, mengikuti tren, mengekspresikan kreativitas, atau sekadar mencoba penampilan baru.
Dalam konteks anak muda, media sosial menjadi ruang penting untuk menunjukkan kreativitas tersebut. Mereka dapat menemukan inspirasi, mempelajari teknik baru, hingga membangun identitas visual melalui fashion dan makeup.
Namun, kebebasan berekspresi tetap perlu disertai kemampuan memahami konteks sosial. Sesuatu yang dianggap sebagai bentuk seni oleh satu kelompok masyarakat belum tentu memiliki makna yang sama bagi kelompok lainnya.
Perbedaan tersebut tidak selalu harus berujung pada konflik. Justru, perbedaan persepsi dapat menjadi kesempatan untuk memahami bagaimana budaya, agama, nilai sosial, dan perkembangan tren saling berinteraksi.
Jangan Mudah Menilai Seseorang dari Penampilannya
Fenomena makeup gotik menunjukkan bahwa penampilan dapat memunculkan berbagai interpretasi. Seseorang mungkin melihatnya sebagai gaya fashion, sementara orang lain melihatnya sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai yang mereka yakini.
Perbedaan pandangan tersebut merupakan bagian dari kehidupan sosial. Namun, memberikan label atau tuduhan terhadap seseorang hanya berdasarkan penampilan dapat menjadi persoalan tersendiri.
Di era media sosial, masyarakat perlu membiasakan diri untuk memeriksa konteks sebelum memberikan penilaian. Tidak semua simbol memiliki satu makna dan tidak semua penampilan menunjukkan identitas atau keyakinan seseorang.
Tren Boleh Berubah, Sikap Kritis Tetap Diperlukan
Popularitas makeup gotik menunjukkan bagaimana tren kecantikan dapat berkembang dan kembali populer melalui media sosial. Di sisi lain, kontroversi yang muncul memperlihatkan bahwa fashion bukan sekadar persoalan penampilan, tetapi juga berkaitan dengan budaya dan cara masyarakat memberikan makna terhadap simbol.
Daripada langsung memberikan tuduhan, masyarakat dapat melihat fenomena ini secara lebih kritis. Apakah seseorang benar-benar menyampaikan suatu keyakinan, atau hanya menggunakan estetika tertentu sebagai bagian dari fashion dan kreativitas?
Pada akhirnya, makeup gotik tidak dapat secara otomatis disamakan dengan satanisme. Makna sebuah penampilan sangat bergantung pada konteks, tujuan, serta bagaimana seseorang menggunakannya.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya tren media sosial, kita perlu membedakan antara fakta, interpretasi, dan prasangka. Menghargai ekspresi diri sekaligus tetap memahami nilai dan sensitivitas masyarakat merupakan bagian penting dari kehidupan di ruang digital.
