Konten dari Pengguna

Fenomena Doomscrolling: Mengapa Sulit Dihentikan Meski Mengancam Kesehatan?

Iswahyuningrum

Iswahyuningrum

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Univesitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Iswahyuningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pexels

Pernah nggak kamu cuma mau “scroll sebentar” media sosial, tapi tanpa sadar sudah habis waktu berjam-jam cuma buat membaca berita negatif yang banyak sekali? Mulai dari konflik, bencana, sampai komentar netizen yang terkadang membuat kita emosi.

Kebiasaan ini dikenal sebagai doomscrolling, yaitu perilaku seseorang yang terus-menerus mengonsumsi berita atau konten negatif meskipun sudah merasa cemas, lelah, atau ingin berhenti sejenak.

Fenomena ini semakin sering terjadi di era digital seperti saat ini, apalagi informasi datang begitu cepat dan tidak terbatas. Tapi kenapa kita sulit sekali berhenti untuk mencari informasi negatif tersebut?

Mengapa Kita Sulit Berhenti Doomscrolling?

Secara psikologis, otak manusia memang lebih mudah tertarik pada informasi yang dianggap mengancam atau negatif. fenomena ini dikenal sebagai negativity bias, yaitu kecenderungan seseorang untuk memberi perhatian lebih besar terhadap kabar buruk dibanding kabar baik. akibatnya, seseorang terdorong untuk terus menggulir media sosial karena merasa ada informasi penting yang tidak boleh terlewat.

Menurut Alo Dokter kebiasaan doomscrolling dapat memicu rasa cemas berlebihan, meningkatkan stres, hingga merusak jam tidur bahkan kualitasnya menjadi tidak terjaga apabila dilakukan terus-menerus. Berbagai riset juga telah dilakukan untuk membuktikan bahwa doomscrolling dapat meningkatkan gangguan mental seperti depresi dan kecemasan, serta gangguan fisik seperti insomnia dan penyakit jantung.

Dampak Doomscrolling bagi Kesehatan Mental dan Fisik

Berdasarkan penelitian dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga oleh Muhamad Raydava Hansya dan Rahkman Ardi, doomscrolling yang dilakukan secara terus menerus akan berdampak buruk bagi kesehatan mental dan fisik manusia. Dalam artikel tersebut tertulis bahwa doomscrolling dapat menyebabkan psychological distress, kecemasan, bisa terkena penyakit mental, kebiasaan ini juga membuat seseorang tidak ingin ketinggalan informasi terkini, serta dapat meningkatkan risiko depresi lebih tinggi dibandingkan seseorang yang mengonsumsi berita negatif dalam intensitas rendah.

Meskipun demikian, doomscrolling bukanlah suatu fenomena yang perlu ditakuti melainkan dapat dicegah dan dikurangi sejak dini. Kebiasaan ini bisa hilang secara perlahan-lahan, asalkan seseorang menyadari pola pikirnya saat menggunakan media sosial atau bahkan sadar bila doomscrolling diteruskan kesehatan mental akan terancam bahaya. Bagaimana cara mengurangi kebiasaan ini? Ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan agar terhindar dari doomscrolling.

Cara Mengurangi Kebiasaan Doomscrolling

Doomscrolling bisa berakibat fatal pada diri sendiri jika terus dilakukan berulang kali tanpa adanya tindak pencegahan dan penanganan. Langkah-langkah sederhana yang sangat dianjurkan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu, sebagai berikut:

1. Kurangi Screentime Media Sosial

Media sosial menjadi alasan banyak manusia betah berlama-lama mencari reels terbaru atau sekedar melihat video lucu untuk meningkatkan dopamine mereka. Cara ampuh untuk mengatasi hal ini adalah dengan mengetahui tujuan menggunakan media sosial atau dikenal sebagai hought-stopping yaitu memberhentikan pikiran yang ada di dalam diri ketika dorongan otomatis membuka aplikasi tertentu muncul.

2. Perbanyak Waktu untuk Kegiatan Lain

Aktivitas doomscrolling dapat digantikan dengan melakukan kegiatan sederhana yang lebih positif seperti menulis diary di buku, mendengarkan musik, menonton drama, atau sekedar bersepeda di sekitar rumah. Meskipun kegiatan tersebut terkesan sepele kegiatan tersebut dapat menjadi cara untuk mengurangi waktu yang selama ini dihabiskan di depan layar sekaligus memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat sejenak.

3. Detox Media Sosial

Jika kebiasaan doomscrolling sudah sulit dikendalikan, melakukan detoz media sosial dapat menjadi salah satu pilihan. Detox bukan berarti menghilangkan media sosial sepenuhnya, tetapi dapat dimulai dengan membatasi durasi penggunaan atau berhenti menonton akun-akun di media sosial yang membuat kita kecanduan dan membuat kita terus-terusan menggulir layar handphone.

Penutup

Kebiasaan doomscrolling memang berbahaya bagi kesehatan mental dan fisik jika dilakukan berulang kali. Jika tidak ingin terus terjebak pada situasi tersebut maka kita harus membiasakan diri dari sekarang untuk mulai membatasi bermain di media sosial tanpa tujuan yang jelas. Sesekali manusia harus meletakkan ponsel mereka dan menikmati udara luar juga berbincang dengan orang lain agar waktu yang ada tidak terbuang sia-sia hanya karena doomscrolling.