Waspada! Awas Salah Pilih Teman

Mahasiswi Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan dari Izza Firinda Saffanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat ini media massa dikejutkan dengan berita bocah SD berusia 13 tahun berinisial CS, dicekoki miras dan digilir lebih dari 4 pemuda di Kecamatan Kedokan Bunder, Indramayu pada Sabtu (2/12/2023). Pelaku dan korban diduga saling kenal. Pelaku merupakan gerombolan anak punk dari desa tetangga. Terungkapnya tindak asusila pada bocah dibawah umur tersebut terungkap ketika perubahan sikap korban yang selalu ceria dan suka bercerita menjadi pendiam dan suka mengurung diri di kamar. Keluarga yang janggal dengan perubahan sikapnya kemudian mendesak korban untuk bercerita hingga terkuak kejadian yang dialaminya. Sesak pilu juga dirasakan sang Ibu korban yang terkena serangan jantung hingga meninggal usai mengetahui anaknya mendapat tindakan asusila. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami trauma berat. Didampingi aparat pemerintah desa setempat, pihak keluarga korban melaporkan kasus tersebut ke Polres Indramayu pada Senin (11/12/2023).
"Berteman harus dengan siapa saja”. Pesan tersebut tentu sudah tidak asing terdengar oleh kita sedari dini. Bak wejangan singkat dengan tujuan agar kita tidak memandang manusia berdasarkan latar belakang ekonomi, ras, atau agama. Namun, bagaimana jika kalimat tersebut salah kaprah dan membawa kita dalam ruang lingkup pertemanan yang toxic. Inilah alasannya mengapa kita perlu memilih teman dalam berteman.
Mengapa Perlu Memilih Teman?
Menurut Baharist pada dasarnya semua manusia itu baik. Namun ada faktor lain yang menyebabkan manusia dapat berubah menjadi tidak baik, faktor utamanya ialah faktor lingkungan. Maka dari itu, sangat penting untuk kita berhati-hati dalam memilih teman. Para orang tua juga diharapkan dapat mendidik anak dengan melindungi mereka dari pergaulan yang dapat merusak. Anak-anak harus dibiasakan dengan ajaran agama sedari dini, serta dijauhkan dari pergaulan orang-orang yang tidak baik. Perlu diketahui bahwa awal kerusakan gaya hidup remaja diperoleh dari kelompok pertemanan.
Kriteria dalam Memilih Teman
1. Pilih teman yang membawa pengaruh baik
Perlu diingat bahwa tidak semua teman dapat membawa pengaruh baik, jika kita salah langkah dalam memilih teman tentu akan menjerumuskan kita ke dalam gaya hidup yang toxic. Bertemanlah dengan mereka yang dapat memberikan dampak positif bagimu dalam tumbuh dan berkembang.
2. Mendukung dalam hal kebaikan
Bayangkan rasanya jika kamu memiliki circle pertemanan yang selalu mendukungmu dalam berbuat kebaikan. Tentu kamu akan terus termotivasi tanpa perlu memikirkan apa yang dipikirkan orang lain tentang kita. Begitu besar pengaruh teman dalam hidup kita. Jika kamu tergerak untuk bertaubat dan ingin melakukan perubahan dalam hidupmu, maka pilihlah teman yang paham akan ilmu agama.
3. Pilihlah yang satu visi denganmu
Kamu tidak perlu takut untuk memilih teman dengan orang-orang yang memiliki satu visi denganmu. Bersikap baik terhadap semua orang itu perlu. Namun memiliki standar dalam pertemanan juga diperlukan, agar memudahkanmu dalam menyeleksi teman yang layak untuk menjadi sahabat dekatmu. Jangan sampai karena sifatmu yang “ gak enakan” akan membuat hidupmu jadi rumit akibat ulah teman-teman toxic.
Dampak Memilih Teman yang Salah
1. Dikhianati teman sendiri
Berteman dengan orang yang salah akan berpotensi tinggi dikhianati oleh teman kita sendiri. Seseorang yang kita anggap sebagai kerabat dekat hingga tempat kita bercerita, justru menjadi bumerang bagi kita. Alih-alih menjaga cerita kita, mereka malah mengumbar cerita kita kepada publik. Lebih parahnya mereka melebih-lebihkan cerita kita dan menjadikannya sebagai bahan gunjingan.
2. Kesehatan mental menurun
Kualitas pertemanan juga sangat berpengaruh terhadap kondisi psikis seseorang. Perlu diingat bahwa kualitas seorang teman jauh lebih penting dibanding kuantitas teman yang kita punya. Ini bukan soal kebanggaan memiliki banyak teman, namun tentang seberapa besar kenyamanan yang kita dapatkan pada suatu komunitas. Dr. Gupta mengungkapkan rahasia yang membuat kita lebih bahagia dalam menjalani hidup ialah dikelilingi oleh orang-orang yang tepat.
3. Terjerumus pada hal-hal negatif
Pengaruh lingkungan menjadi faktor penting dalam pembentukkan pribadi seorang individu. Seperti perumpamaan “Jika kita berteman dengan penjual minyak wangi, maka kita juga akan ketularan wanginya”. Perumpamaan tersebut mengandung makna bahwa ada dua kemungkinan jika berada pada lingkungan yang positif, kita akan menjadi baik atau mendapat kebaikan yang teman kita sebarkan. Sebaliknya jika kita berada pada lingkungan yang negatif, tidak menutup kemungkinan kita akan terjerumus pada hal-hal negatif.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyeleksi lingkungan yang pantas untuk kita jadikan teman. Jangan sampai karena salah memilih teman, akan berakibat fatal pada kelangsungan hidup kita. Jangan takut untuk meninggalkan lingkungan yang tidak dapat memberikan rasa nyaman untukmu. Bila Anda menjadi korban asusila pada lingkungan sekitar Anda, segera laporkan pada pihak berwajib.
