Pengibaran Bendera Mugiwara: Ekspresi Atau Ancaman Hegemoni?

Undergraduate Indonesian Literature at State University of Surabaya. Pressure is a privilage.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Moch Nur Riza Pratama Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Akhirnya kita menginjak di bulan kemerdekaan. Namun, terlepas dari momen bersejarah ini, ada fenomena menarik yang booming di awal bulan ini, yaitu pengibaran bendera mugiwara. Ini cukup menarik ya, karena pemerintah mengecapnya sebagai ancaman yang serius. Bahkan, beberapa pelakunya dijatuhi hukuman atas dasar pemberontakan.
Lantas, apasih tujuan dikibarnya bendera tersebut? Pantaskah dianggap sebagai pemberontakan?
Kita mulai dulu dari bendera mugiwara. Bendera ini diambil dari salah satu anime terkenal di dunia yaitu One Piece. Dengan berlatarkan warna hitam serta gambar tengkorak yang memakai topi jerami. Bendera ini menjadi simbol untuk menentang sistem korup dalam dunia anime.
Jadi sudah jelas bahwa ini bukanlah pemberontakan, tapi bentuk ekspresi penggunanya. Lalu, mengapa masyarakat begitu antusias dalam pengibarannya?
Sudah menjadi rahasia umum bahwa tahun ini banyak sekali gejolak politik, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Keadaan yang begitu buruk membuat masyarakat marah. Tak ada solusi lain, mereka hanya bisa mengekspresikannya. Melalui bendera ini, seharusnya pemerintah sadar untuk mencari tahu, dan solusi, bukan malah menjatuhi hukuman bagi pelakunya.
Padahal fenomena ini bukanlah yang pertama, dulu masyarakat Papua pernah meminta untuk mengibarkan bendera kejora. Di bawah kepemimpinan Gus Dur, tindakan tersebut sah-sah saja dan diperbolehkan. Asalkan pengibarannya di bawah bendera merah putih. Gus Dur juga menyatakan itu hanyalah bendera, tidak perlu diributkan.
Melalui perspektif One Piece yang relevan serta peristiwa pengibaran bendera kejora yang diizinkan. Pantaskah keputusan pemerintah sekarang yang menjatuhi hukuman bagi pelakunya? Mari kita lihat melalui perspektif politik.
Menurut Antonio Gramsci sebagai politikus Marxis, mengungkapkan bahwa ada cara ampuh untuk melanggengkan kekuasaan, yaitu dengan hegemoni. Suatu dominasi kelonpok (hegemony) bukan melalui kekerasan melainkan dengan konsensus. Ketika sejarah, budaya, ideologi, dan nilai-nilai sosial diterima oleh masyarakat, maka suatu sistem akan bertahan tanpa melakukan kekerasan. Oleh karena itu, ketika bendera mugiwara dikibarkan oleh masyarakat, maka wajar saja jika pemerintah khawatir.
Bagi pemerintah, sekecil apapun pemberontakan akan berkembang menjadi lebih besar. Dengan begitu bisa mengancam sistem mereka bahkan meruntuhkannya.
Jadi, benarkah pengibaran tersebut bersifat ekspresif? Atau memang dianggap sebagai penyimpangan? Bagaimana menurut kalian?
