SAYONARA IISMA: Kisah “Manusia Unggul" yang Dibungkam Stigma “Flexing”

Undergraduate Indonesian Literature at State University of Surabaya. Pressure is a privilage.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Moch Nur Riza Pratama Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertukaran pelajar bukan ajang mainan. Banyak hal yang dipertaruhkan. Namun sayang, pemerintah tak mengutamakannya. Dinilai tak efisien, program ini hilang begitu saja.
Memang tak bisa dipungkiri, program Magang Berdampak terlihat lebih menjanjikan. Dampak secara praktis tampak lebih unggul. Namun, apakah pertukaran pelajar tidak sepenting itu? Apakah kesempatan ini hilang begitu saja? Lantas mahasiswa harus berharap pada siapa?
Progam flagship MBKM yaitu IISMA kini tinggal kenangan. Secara resmi memang tidak diumumkan, tetapi isu yang beredar tak bisa dihiraukan. Staff yang dibubarkan sejak Desember 2024 menjadi sinyal kuat berakhirnya program tersebut.
Dilansir dari detikEdu pada 10 Januari 2025 di Gedung D Kemendikbud, Satryo menegaskan bahwa perlu peninjauan ulang atas manfaat program MBKM bagi mahasiswa. Jadi, apakah IISMA dinilai tidak bermanfaat?
Selain itu, banyak narasi masyarakat yang beredar tentang anggaran IISMA tak efisien. Mereka menganggap para awardee IISMA hanya "flexing" di media sosial. Oleh karena itu, sangat disayangkan bila dianggarkan untuk anak yang hanya "main-main" saja. Namun, benarkah narasi tersebut?
Faktanya tuduhan tersebut sangat subjektif karena mereka tidak menjalani prosesnya. Kita tahu perlunya persiapan yang matang, mulai dari berkas administrasi hingga studi selama di luar negeri. Tentu saja semua tak mudah. Usaha, waktu, uang, dan doa telah dipertaruhkan. Lantas, masihkah layak mereka dicap hanya "main-main" bahkan "flexing"?
Sebagai mahasiswa di era digital, lumrah saja untuk mengabadikan momen-momen sakral. Pengorbanan yang dilakukan pun setimpal atas hasil yang diperoleh. Toh, berbagi pencapaian tidak merugukan orang lain, bahkan bisa memotivasi.
Jadi, jika stigma "flexing" itu tidak benar, lalu apa yang diperoleh para awardee? Jawabannya sederhana, mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Transformasi dalam hidup itu penting. Semakin sulit dan panjang perjalanan yang dilalui, maka semakin dalam kita dapat memaknai. Bahkan transformasi itu bisa membawa kita ke titik tertinggi. Sejalan dengan Nietzsche yang mengungkapkan bahwa seseorang bisa menjadi übermensch (manusia unggul). Hal itu bisa dicapai dengan keberanian, kecerdasan, dan kebanggaan. Selain itu, seorang "manusia unggul" selalu menolak nilai dan norma yang berkembang di sekitarnya. Ia hidup secara autentik dengan jalan hidupnya sendiri. Lalu, sudahkah para awardee menjadi "manusia unggul"? Apakah mereka menjalani kehidupan yang autentik?
Keberanian atas resiko IISMA, kecerdasan bahasa dan mata kuliah, serta kebanggaan atas tanah air adalah jawabannya. Jika memang tak serius dalam pertukaran, mudah saja mereka terseret budaya luar negeri. Sebagai alumni IISMA 2023 yang menempuh pendidikan di Universidad de Granada, Spanyol, Arjuna menyatakan bahwa nasionalisme itu jati diri, bahkan ia dengan bangga mengenalkan pada teman internasionalnya. "Meski konsep kebhinekaan kita unik daripada 'nation-state', tapi aku usaha menjelaskannya dengan bangga" ujarnya.
Sikap Arjuna telah membuktikan bahwa ia telah menjadi "manusia unggul" sesuai ciri-ciri yang disebut oleh Nietzsche. Melalui tanggapan dari salah satu awardee IISMA, bisa dipastikan bahwa stigma "flexing" itu tidak benar. Bisa jadi benar apabila "flexing" yang dimaksud yaitu memamerkan budaya Indonesia di kancah internasional.
Meski begitu, nasi sudah menjadi bubur, semua telah berakhir. Perjalanan tersebut hanyalah kisah hebat yang dibungkam. Kebijakan yang diubah telah mengubur mimpi sebagian orang. Meskipun ada pepatah "banyak jalan menuju Roma", tetapi apa artinya jika jalannya satu per satu roboh?
Jadi, apakah keputusan pemerintah dan stigma masyarakat itu benar? Atau hanya mengubur mimpi sebagian orang? Bagaimana menurut kalian?
