Konten dari Pengguna

Kekerasan yang Dibungkus Hiburan

Jacika Pifi

Jacika Pifi

Dosen Ilmu Administrasi Negara, Universitas Slamet Riyadi Surakarta

·waktu baca 4 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jacika Pifi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kekerasan yang Dibungkus Hiburan. Foto: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kekerasan yang Dibungkus Hiburan. Foto: Dokumentasi Pribadi

Beberapa waktu terakhir, linimasa media sosial kembali riuh oleh berbagai video yang disebut “prank”, “konten sosial”, atau “eksperimen sosial”. Dari sekadar bercanda yang berujung air mata, hingga aksi mempermalukan seseorang di depan kamera. Banyak yang menonton, tertawa, bahkan membagikan ulang. Namun, terdapat sedikit orang yang bertanya: Di mana batas antara hiburan dan kekerasan?

Kita hidup di era ketika rasa empati bisa kalah cepat dari tombol “bagikan”. Saat seseorang dipermalukan atau disakiti di depan publik, simpati seolah hadir sesaat, lalu lenyap tergantikan komentar sarkastik, tagar viral, dan algoritma yang terus mendorong tontonan serupa. Kini, kekerasan tak selalu tampak dalam bentuk darah atau luka fisik. Ia bisa hadir dalam tawa, candaan, dan konten yang "ramai ditonton".

Kekerasan yang Dibungkus Konten

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana kekerasan berubah wujud dari tindakan yang dulu dianggap aib kini menjadi tontonan massal. Prank yang melibatkan penghinaan, eksperimen sosial yang memancing amarah, hingga konten yang mengekspos penderitaan seseorang dikemas dengan label “hiburan”.

Bagi sebagian kreator, mungkin tujuannya sekadar mencari interaksi dan pengikut. Namun, bagi yang menjadi objek—apalagi tanpa izin atau tanpa persiapan mental—pengalaman itu bisa meninggalkan trauma. Di sinilah bentuk baru kekerasan itu lahir: kekerasan digital yang dibungkus tawa.

Ilustrasi ragam Sosial Media. Foto: Shutterstock

Media sosial memberi ruang luas bagi siapa pun untuk berekspresi. Namun tanpa etika, ruang itu bisa menjadi arena eksploitasi. Setiap kali kita menonton dan menormalisasi kekerasan dalam bentuk konten, kita sedang ikut memperpanjang rantai penderitaan meski hanya dengan satu klik.

Empati yang Tumpul, Eksploitasi yang Subur

Sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, pernah menyebut istilah violence symbolique, kekerasan simbolik ketika seseorang disakiti bukan dengan fisik, melainkan melalui representasi, ucapan, atau simbol. Kekerasan jenis ini kini marak di dunia digital, dibungkus dalam logika algoritma yang paling ekstrem di mana yang paling ramai akan menang.

Empati yang seharusnya menjadi dasar interaksi manusia kini tergeser oleh dorongan untuk viral. Kita menyaksikan seseorang dipermalukan. Alih-alih peduli, justru kita berkomentar “kocak banget” atau “kasihan tapi lucu”. Di sinilah batas antara empati dan eksploitasi menjadi kabur. Kita tidak lagi melihat manusia, tetapi melihat “konten”.

Ilustrasi "polusi media sosial" oleh Indra Fauzi/kumparan Foto: -

Fenomena ini juga mencerminkan kelelahan sosial kita ketika semua hal berlomba menjadi tontonan, bahkan penderitaan pun dianggap peluang. Nilai moral dan kemanusiaan dikompresi menjadi algoritma yang menghitung jempol dan penonton. Padahal, di luar layar, ada orang-orang yang benar-benar terluka.

Peran Pendidikan dan Kesadaran Kolektif

Sebagai pendidik, pencegahan kekerasan tidak cukup lewat aturan atau hukuman. Ia harus dimulai dari literasi empati dan kemampuan untuk merasakan apa yang dialami orang lain. Di kampus atau sekolah, literasi empati perlu diajarkan sejajar dengan literasi digital agar generasi muda tidak hanya cerdas bermedia, tapi juga bijak dan berperikemanusiaan.

Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di lingkungan pendidikan juga punya peran penting. Tidak hanya menangani kasus yang sudah terjadi, tetapi membangun budaya saling menghormati, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Karena kekerasan digital sering kali berakar dari sikap remeh-temeh yang dibiarkan: candaan yang menyinggung, komentar yang merendahkan, atau unggahan yang melecehkan.

Ilustrasi menonton Youtube. Foto: Shutter Stock

Menonton dengan Nurani

Sebagai masyarakat, kita perlu belajar menonton dengan nurani. Tidak semua yang viral layak ditonton, tidak semua yang lucu pantas dibagikan, dan tidak semua yang tampak “biasa” di layar benar-benar tidak menyakitkan di hati orang lain.

Viralitas seharusnya tidak menghapus kemanusiaan kita. Justru di tengah arus konten yang deras, kemampuan untuk menahan diri, berempati, dan memilih dengan sadar adalah bentuk keberanian baru. Karena di balik setiap video, ada kisah dan harga diri seseorang yang seharusnya tidak kita "gadaikan" demi hiburan sesaat.

Kekerasan bisa datang dengan seragam apa pun, bahkan dengan caption lucu dan emoji tawa. Tugas kita adalah mengembalikan kesadaran bahwa empati lebih berharga dari viralitas. Dunia digital akan tetap bising, tetapi kita selalu punya pilihan menjadi bagian dari keramaian yang menyakiti atau menjadi penonton yang tetap manusia.