Cerita Perempuan di Jambi Selamatkan Suku Anak Dalam dari Bahaya Buta Huruf

Konten Media Partner
17 Desember 2022 12:15 WIB
·
waktu baca 8 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Reny Ayu Wulandari (kiri) bersama anak-anak Suku Anak Dalam. (Foto: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Reny Ayu Wulandari (kiri) bersama anak-anak Suku Anak Dalam. (Foto: Istimewa)
ADVERTISEMENT
Jambikita.id – Reny Ayu Wulandari (29) awalnya merasa khawatir kepada Suku Anak Dalam yang terpaksa bersentuhan dengan arus modernisasi. Suku Anak Dalam rawan ditipu bahkan dieksploitasi oleh orang dari luar, lantaran mereka masih buta huruf.
ADVERTISEMENT
Ada kalanya Suku Anak Dalam yang menjual ikan hasil tangkapan, justru tidak mendapatkan sejumlah uang yang nilainya sesuai. Hal ini karena mereka tidak bisa membaca mata uang rupiah, dan tidak paham satuan berat per kilogram.
Reny juga mendapatkan kabar bahwa Suku Anak Dalam yang sebenarnya masih buta huruf, pernah menanda tangani sebuah lembar kertas yang tidak diketahui pasti untuk apa. Kala itu mereka diimingi bantuan sehingga mau memberikan tanda tangannya. Bukannya mendapatkan bantuan, Suku Anak Dalam malah kehilangan hutan sebagai ruang hidupnya.
“Suku Anak Dalam terbaur dengan orang-orang luar. Bahaya, jika mereka tidak siap, karena banyak sekali yang bisa mengeksploitasi mereka,” ujar Reny, Jumat (16/12).
Di sisi yang lain, ujar Reny, banyak anak muda yang ingin mengenal dan membantu Suku Anak Dalam, tetapi tidak mempunyai wadah untuk berkontribusi. Para anak muda ini kebanyakan dari kalangan mahasiswa yang tinggal di kota.
ADVERTISEMENT
Kondisi ini mendorong Reny dan Mira Rizki mendirikan komunitas relawan bernama Sobat Eksplorasi Anak Dalam (SEAD) Jambi, pada bulan Maret tahun 2017. Kini, SEAD sudah resmi berbadan hukum, dan berkonsentrasi sebagai non-governmental organization atau NGO.
Reny mengungkapkan SEAD Jambi terbuka bagi siapa saja yang ingin berkontribusi untuk Suku Anak Dalam. Hingga saat ini ada sekitar 400 orang yang sempat bergabung sebagai volunteer atau relawan.
“Kita selalu rekrutmen ya. Yang sudah pernah volunteer bisa mencapai 400 orang. Tetapi kita tetap punya volunteer tetap sebanyak berkisar 100 orang. Ada juga beberapa orang yang menjadi manajemen atau pengelola SEAD,” ungkap Reny.

Berantas Buta Huruf Suku Anak Dalam di Desa Binaan

Pendidikan untuk Suku Anak Dalam merupakan fokus utama organisasi ini. SEAD Jambi telah mengajar Suku Anak Dalam membaca, sehingga ada ratusan orang yang melek huruf berkat para relawan SEAD Jambi.
ADVERTISEMENT
Dalam upaya memberantas buta huruf, SEAD Jambi sempat aktif di sekitar 7 desa. Sedangkan desa binaan yang masih aktif kini berjumlah 3 desa.
Desa Skaladi merupakan desa pertama yang menjadi desa binaan komunitas SEAD Jambi. Suku Anak Dalam di desa yang berada di Kabupaten Muaro Jambi ini, pola kehidupannya telah mengalami perubahan, termasuk dalam cara berpakaian, pola ekonomi, dan rumah yang digunakan.
Reny dan relawan SEAD Jambi lainnya, sempat menghadapi minimnya partisipasi anak-anak Suku Anak Dalam di Skladi, karena jarak yang lumayan jauh dari lokasi pondok, tempat untuk belajar. Para relawan mesti menjemput anak-anak itu agar mereka mengikuti pembelajaran. Saat ini mereka sudah mau belajar tanpa dijemput oleh para relawan, dan ditargetkan mereka mengikuti ujian Paket A.
ADVERTISEMENT
Desa binaan ketiga, yakni Desa Hajran yang terletak di Kecamatan Bathin XXIV, Kabupaten Batanghari. Ini merupakan desa binaan paling jauh, karena jarak dari Kota Jambi memakan waktu sekitar 4-5 jam perjalanan, yang dilanjutkan dengan perjalanan melalui jembatan.
Suku Anak Dalam di desa itu masih memegang kebudayaan atau adat istiadat aslinya. Mereka cenderung menjaga jarak dengan orang luar, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi para relawan dalam melakukan pendekatan. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka bisa menerima dan mengerti tujuan kedatangan SEAD Jambi.
Desa binaan berikutnya, yakni Desa Medak yang berada di Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin. Relawan SEAD Jambi mesti melewati jalur darat dan air selama 3 jam untuk sampai ke sana.
ADVERTISEMENT
Berkat Reny dan relawan SEAD Jambi lainnya, sebagian anak-anak Suku Anak Dalam di desa tersebut sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung. Pada tahun 2018 lalu, SEAD Jambi yang bergerak dengan memanfaatkan CSR Pertamina Talisman Jambi-Merang, donasi yang disalurkan Gerakan Infaq Beras, dan donasi dari SEAD Jambi, membantu anak Suku Anak Dalam yang menempuh sekolah formal, dan berkegiatan sehari-hari di Kota Jambi.
“Kenapa penting pendidikan membaca itu? Memang tanpa pendidikan, mereka sudah ada pola kehidupannya sendiri di hutan. Tetapi tanpa kita datang, mereka akan ter-modernisasi. Ini didukung dengan adanya kelapa sawit dan transmigrasi yang membuat orang luar menyentuh hutan Suku Anak Dalam. Jika mereka tidak siap, banyak sekali yang mengeksploitasi mereka,” tutur Reny.
Reny saat bersama seorang bocah Suku Anak Dalam. (Foto: Istimewa)

Hidup bersama Suku Anak Dalam dan Dapat Kepercayaan

Reny mengungkapkan awalnya Suku Anak Dalam tidak serta merta menerima kehadiran para relawan SEAD Jambi. Sebab, Suku Anak Dalam mempunyai pengalaman buruk saat bertemu beberapa orang dari luar.
ADVERTISEMENT
“Mereka sudah pernah ditipu orang luar. Sehingga mereka sempat menyangka kami orang asing yang memanfaatkan mereka. Tidak gampang mendapatkan kepercayaan mereka,” ujarnya.
Perlu pendekatan agar Suku Anak Dalam percaya bahwa ia bertujuan membantu. Cukup sulit mendapat kepercayaan dari orang tua anak-anak di sana. Apalagi mengenal aksara merupakan sebuah pantangan bagi Suku Anak Dalam.
“Kami sampai hidup dengan mereka atau berdampingan dengan mereka di tengah hutan. Perlahan-lahan melakukan interaksi. Dari situlah mereka bisa percaya bahwa saya yang dari kota, ingin berkorban dan membantu mereka,” ungkap Reny.
Reny sendiri sampai hidup bersama Suku Anak Dalam di Muara Merdak selama 2 tahun. Singkat cerita, Reny dan kawannya kini mendapatkan sambutan dan perlakuan hangat dari Suku Anak Dalam. Reny telah menjadi guru bagi anak-anak Suku Anak Dalam. Para pria Suku Anak Dalam membantu Reny dengan mendirikan pondok, sedangkan para perempuan menyiapkan peralatan dapur untuk kebutuhan selama tinggal di sana.
ADVERTISEMENT
Reny mengatakan Suku Anak Dalam di masing-masing desa binaan itu mempunyai karakteristik dan pola kehidupan yang berbeda. Karena itu, pendekatan pada berbagai kelompok Suku Anak Dalam ini memakan waktu yang tidak sama pula.
“Bisa 2 sampai 3 bulan, baru mereka dapat percaya. Jadi, kami hidup di sana. Contohnya di Desa Batin 24, kita sampai membawa tenda untuk hidup dengan mereka. Di sana kami mengajar anak mereka. Sampai kepala desa bilang ‘kok berani sih?,’” ujarnya.
Suku Anak Dalam di beberapa desa binaan, ada yang sudah bermukim atau menetap. Ada pula kelompok yang masih hidup dengan cara nomaden.
Para relawan SEAD Jambi sendiri mengajar Suku Anak Dalam di tengah alam terbuka. “Saat mengajar mereka, kami mendirikan tenda, pondok, atau mengajar di perahu, bergantung dengan tempat dan kebiasaan mereka,” kata Reny.
ADVERTISEMENT
Karena terlaksana di tengah perkebunan sawit hingga di hutan, proses mengajar Suku Anak Dalam tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para relawan SEAD Jambi. Relawan ini menghadapi susah sinyal dan minimnya penerangan. Walau demikian, berbagai kendala yang muncul di lapangan tidak menghentikan kontribusi SEAD Jambi untuk Suku Anak Dalam.
Reny mengatakan berkat gerakan ini Suku Anak Dalam mempunyai bekal untuk berbaur dengan orang luar, serta tidak mudah ditipu atau dieksploitasi seperti sebelumnya.
“Dengan kita datang ke sana, sering berkomunikasi, dan jaringan mereka juga tambah luas, semakin sedikit yang datang kepada mereka untuk eksploitasi. Misalnya, di salah satu desa saat ini mereka sudah tahu satu kilogram itu berapa, dan harga ikan berapa. Saat ini mereka juga bisa membaca mata uang,” katanya.
ADVERTISEMENT
Gerakan ini telah menuai kontra dari berbagai pihak, karena dianggap seolah-olah mendorong Suku Anak Dalam agar meninggalkan kearifan lokal yang seharusnya dilestarikan. Namun, ujar Reny, arus modernisasi tidak bisa dihindarkan oleh Suku Anak Dalam karena berbagai faktor.
“Padahal, tanpa adanya kita, mereka ter-modernisasi sendiri karena keadaan. Tetapi, bisa berbahaya untuk mereka. Makanya kita hadir agar mereka siap hidup di dunia luar. Mereka tidak bisa mengandalkan hutan seperti dulu,” jelasnya.
Tidak hanya di bidang pendidikan SEAD Jambi juga berkontribusi dalam bidang kesehatan Suku Anak Dalam. “Sebenarnya mereka baik-baik saja saat tinggal di hutan. Mereka tidak mengenal obat-obatan kimia seperti kita, dan sudah punya obat tradisional. Tetapi itu kan tidak lagi, karena hutan mereka rusak. Jadi, ketika mereka sakit, kita fasilitasi,” ujar Reny.
ADVERTISEMENT

Reny dan SEAD Jambi Dapat Apresiasi SATU Indonesia Awards

Karena dedikasinya di bidang pendidikan, Reny dan SEAD Jambi mendapatkan penghargaan SATU Indonesia Awards 2018 tingkat provinsi. Bantuan yang didapatkan berkat apresiasi itu, digunakannya untuk menyiapkan fasilitas di desa binaan Suku Anak Dalam.
“Kita dapat apresiasi yang regional Jambi. Ada beberapa kategori, dan kita dapat di kategori pendidikan. Mereka menganggap SEAD layak mendapatkan ini,” ungkapnya.
Pada tahun 2022, Reny dan kelompoknya kembali meraih penghargaan SATU Indonesia Awards tingkat provinsi dalam kategori pendidikan pula. Ia disebut telah memberikan fasilitas hak pendidikan Suku Anak Dalam.
Ia berharap semakin banyak funding yang didapatkan SEAD Jambi, agar dapat mewujudkan program-program yang sudah dicanangkan.
“Masih banyak program yang sudah dicanangkan. Program terbaru, yakni research center yang bekerja sama dengan mahasiswa dan universitas. Terus masih ada lagi program yang berkaitan dengan pendidikan, ekonomi, agrikultur, dan sebagainya,” ungkap Reny.
ADVERTISEMENT

Sekilas Tentang Sosok Reny

Reny sendiri lahir di Jambi pada tanggal 25 Oktober 1993. Ia dikenal sebagai seorang aktivis sosial yang mengangkat isu-isu kesejahteraan dan pendidikan Suku Anak Dalam.
Karena dedikasinya, Reny telah dianugerahi sebagai pejuang kemanusiaan di salah satu program NET TV, yakni Lentera Indonesia, yang mendokumentasikan perjalanannya di Muara Medak.
Lulusan Universitas Jambi ini juga telah memenangkan penghargaan Local Hero Award 2018 in Education dari PT Pertamina Persero Indonesia. Dia telah memperjuangkan hak untuk pendidikan bagi sembilan anak adat yang mau mengikuti sekolah Paket A.
Prestasi Reny di dunia pendidikan juga gemilang. Ia dikenal sebagai pemburu beasiswa hingga mendapatkan beasiswa LPDP untuk melanjutkan studinya di Wageningen University & Research, Belanda.
ADVERTISEMENT
(M Sobar Alfahri)