Buzz
·
14 September 2021 20:04
·
waktu baca 2 menit

Mediasi: Mengubah Konflik Menjadi Damai

Konten ini diproduksi oleh Jan Ekklesia
Mediasi: Mengubah Konflik Menjadi Damai (415254)
searchPerbesar
Konflik antara pasangan, Sumber : freepik
Beberapa dari kita pasti memiliki pengalaman yang bersentuhan langsung dengan konflik. Apakah itu konflik dalam bentuk kompetisi, kontravensi, atau dalam bentuk fisik. Konflik-konflik yang dapat kita kelompokkan menjadi konflik berbentuk halus sampai kepada perang, akan terus - menerus ada di dalam tubuh individu atau masyarakat. Apabila kita diperhadapkan dengan dimensi-dimensi konflik, maka mau tidak mau secara natural, peran kita menentukan apakah konflik tersebut mereda atau justru membesar.
ADVERTISEMENT
Dalam teori-teori pengelolaan dan transformasi konflik, kehadiran mediator atau arbitrator sangat penting untuk menjembatani antara pihak-pihak yang bertikai. Dengan adanya pihak-pihak yang menengahi, konflik akan cepat mereda. Apalagi jika mediasi dipimpin oleh pihak netral atau dari tokoh masyarakat yang ahli mengelola konflik. Mereka mampu mengubah konflik menjadi damai yang sustainable.
Langkah untuk melerai, mengakomondasi, menjembatani orang - orang yang berkonflik adalah satu langkah untuk menularkan kebaikan. Menurut pengalaman saya, orang-orang yang berani menengahi konflik memiliki etika dan simpati bahkan empati yang lebih besar dari yang lain. Biasanya, orang-orang yang demikian menjadi pemimpin, entah pemimpin kelompok atau pemimpin diri sendiri.
Namun, bukan berarti menjadi penengah membuat kita 'cari muka'. Menjadi penengah membutuhkan kepekaan dan kesabaran akan situasi diri, sosial dan budaya sekitar. Kita tidak bisa menjadi penengah yang baik apabila kita masih egois atau mencari kepentingan dibalik konflik. Menjadi penengah adalah sikap hati yang tulus mau mengubah konflik menjadi damai. Marilah kita saling menjaga satu sama lain dalam damai dan kasih!
ADVERTISEMENT
“Teruslah berbuat baik, karena kebaikan itu menular”