Menyoal Keberadaan Teori dalam Kehidupan
Tulisan dari Jan Mealino Ekklesia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jangan teori melulu! Dalam kehidupan, teori berbeda dengan praktiknya."

Teori sering diidentikan dengan pelajaran di institusi formal seperti sekolah dan perguruan tinggi. Jika kita ingin memahami ilmu tertentu, maka belajar teori merupakan langkah awal memasuki belantara ilmu tersebut di kemudian.
Namun nampaknya kegairahan seseorang dalam mempelajari teori acap di negasikan dengan kemampuannya mengimplementasi teori dalam kehidupan sehari-hari. Mirip epistemologi ilmu kiri ala teori Marxist yaitu praxis. Praksis adalah tindakan hasil ilham dari teori-teori sosial yang ditunjukan untuk perubahan secara revolusioner.
Praksis menyingkapkan bentuk ekstrem dari implementasi teori menjadi tindakan (action). Sederhananya, teori ada di mana-mana, menjumpai setiap pihak yang sedang berfikir maupun berhasrat untuk bertindak.
Teori Bukan Dogma
Teori memiliki sifat akumulatif, yaitu dapat dievaluasi bahkan dikritik oleh kebaruan (novelty) temuan lapangan atau pandangan. Teori tidak mengenal akhir sebagaimana udara yang berembus tak kenal arah.
Suatu teori mengandung adanya kebenaran. Tapi kebenaran yang dikandung adalah kebenaran parsial. Tidak ada teori yang benar-benar menjelaskan keseluruhan realitas kehidupan. Sebabnya ada pada keterbatasan manusia yang mengonstruk teori itu. Masalah di kemudian hari ada teori yang dapat menjelaskan segalanya mungkin saja muncul. Tapi realitas hari ini dan sejarah memperlihatkan jauh dari angan utopis itu.
Teori dalam Kehidupan Sehari-hari
Disadari atau tidak, kita selalu melakukan proses berteori. Karena kita selalu memberikan interpretasi (tafsiran) akan kejadian yang dihadapi setiap hari, entah baik atau buruk.
Cara yang lumrah dilakukan oleh kita adalah dengan menghubungkan kejadian hari ini dengan keputusan maupun pengalaman-pengalaman di masa lampau.
Setiap keputusan atau pengalaman pastilah dibentuk lewat tekanan sosial, krisis, keberhasilan, kesempatan, ataupun hambatan yang kita lalui. Orang tua misalnya, memiliki "beban" untuk menjelaskan pengalamannya tentang kehidupan kepada anak-anaknya. Dengan kata lain, orang tua sedang mengajari teori kehidupan kepada anak-anaknya.
Kita terbiasa membuat dugaan-dugaan, implikasi-implikasi, skenario-skenario yang berkenaan dengan hajat masa depan. Tak seorang pun dari kita dapat menjelaskan masa depan secara tepat dan menyeluruh.
Sebagian besar tindakan manusia mencerminkan perspektif teoritis yang dipahami. Hanya saja dalam perjalanan hidup, kita tidak menggunakan teori-teori yang telah dibentuk secara konsisten. Banyak hal yang memengaruhi konsistensi kita terhadap teori. Beberapa hal diantaranya adalah situasi dan kondisi (fisik, psikis, dan sosial).
Teori Implisit
Manusia memproduksi dan mereproduksi teori, baik teori yang ada dalam buku pelajaran maupun teori yang dibangun setiap harinya. Meskipun demikian, tidak selamanya manusia sadar akan asumsi-asumsi dasar dari keputusan teoritik yang ia bangun.
Sebaliknya, seorang teoritikus (dari berbagai disiplin ilmu) telah dilatih bertahun-tahun untuk selalu sadar dan disiplin akan setiap asumsi teoritik yang muncul dalam berbagai dimensi.
Teori yang kita tidak sadari ini disebut sebagai teori implisit. Penerapan teori pada masyarakat homogen akan lebih mudah mendapatkan legitimasi atau pembenaran ketimbang pada masyarakat heterogen. Munculnya adagium (peribahasa) yang khas dari kebudayaan atau praktik sosial masyarakat tertentu adalah cerminan pandangan teoritik.
Di sisi lain, ketika teori implisit disadari dan kemudian mulai mendapat analisis secara objektif dan sistematis, maka teori implisit berubah menjadi teori eksplisit. Teori eksplisit hasil pengujian ilmiah dari masyarakat menuju suatu disiplin ilmu tertentu merupakan suatu keberhasilan bagi proses pembelajaran ilmiah (sains).
Teori dan Realitas
Berdasarkan lingkaran sains Walter L. Wallace (1971), Teori tidak akan ada tanpa realitas. Tetapi realitas akan selalu hadir ditengah masyarakat meskipun tidak dapat langsung dipelajari.
Titik temu teori dengan realitas saling mengandaikan. Masalah tidak berfungsinya suatu teori terhadap realita hanya persoalan kecocokan (compatibility). Itu sebabnya dianjurkan untuk terus-menerus memperbarui teori sekalipun telah mapan digunakan dalam keseharian.
Keberanian untuk memperbarui teori sama berharganya dengan keberanian untuk mengubah diri dan kehidupan sekitar. Bahkan, teori merupakan alat untuk mengenal sekaligus melanggengkan teladan dan nilai-nilai luhur seseorang.
Pada akhirnya, manusia hanyalah makhluk situasional
***
Jan Mealino Ekklesia

