SSS#8: Georg Simmel dan Permasalahan Sosiologi Formal

Founder Gramma Nusa. Peneliti Sosial-Politik
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Jan Mealino Ekklesia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Halo, teman-teman Kumparan! Tulisan ini merupakan konten dari Self, Social, Society (SSS). Tulisan ini secara garis besar akan membahas mengenai para tokoh sosial/hukum/politik/psikologi dan teorinya, dikemas dalam bentuk series, sederhana, dan mudah dimengerti.
Since one never can absolutely know another, as this would mean knowledge of every particular thought and feeling; since we must rather form a conception of a personal unity out of the fragments of another person in which alone he is accessible to us, the unity so formed necessarily depends upon that portion of the Other which our standpoint toward him permits us to see.
- Georg Simmel, The Sociology of Secrecy and of Secret Societies.
Georg Simmel (1858-1918) adalah ilmuwan sosial asal Jerman, yang eksistensinya kurang begitu diperhatikan oleh perkembangan ilmu-ilmu sosial sekarang ini. Dapat dibilang jika kehadirannya dianak-tirikan dalam tradisi sosiologi, meskipun dirinya mendapat julukan sosiolog postmodernitas yang pertama, karena fokusnya dalam analisis masyarakat urban dan modernitas unik (Stauth & Turner, 1988). Namauya kurang begitu terkenal sebagaimana sematan lazim ilmuwan beken seperti Karl Marx, Emile Durkheim, dan Max Weber. Padahal, sumbangsih tentang teorinya menjadi cikal-bakal teori postmodern saat ini. Dirinya merupakan peletak dasar-dasar teori bermazhab Chicago, seperti pada teori interaksionis simbolik.
Simmel dilahirkan di Berlin, tempat di mana pusat pemerintahan Jerman kala itu, pada tahun 1858. Ia dikenal sebagai founding father sosiologi, khususnya dalam sosiologi formal. Meskipun pemikiran terhadap realitas sosial sangat cemerlang, lingkungan Jerman kala itu tidak memberi peluang atas dirinya karena berasal dari Yahudi. Justru Simmel mendapat diskriminasi di lingkungan politik maupun akademik. Secara khusus alineasi Simmel terhadap sosiologi terjadi karena tulisan-tulisannya yang tidak sistematis, area yang terlalu luas (psikologi, filsafat, dan seni), dan kritik terhadapnya.
Meskipun Simmel tidak tergabung dalam pemikir sosiologi yang terkenal, beberapa ilmuwan kekinian concern terhadap pemikirannya, antara lain: Donald Levine (1971 ), Peter Lawrence (1976), David Frisby (1981, 1983, 1984). Tulisan-tulisan Frisby lah yang kembali menghidupkan sintesis pemikiran Simmel yang sebenarnya membuka pintu bagi teori-teori modern saat ini. Simmel membatasi sosiologi sebagai "disiplin intelektual khusus." Maksudnya, Simmel memusatkan teori dan konsep sosiologinya dalam ruang lingkup formal. Sosiologi terdiri dari bentuk-bentuk (form) dari suatu interaksi sosial ketimbang isinya. Sosiologi menurut Simmel harus mempelajari bentuk-bentuk hubungan sebagai substansi sosiologi. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Ferdinand Tonnies dalam teorinya mengenai ikatan gemeinschaft dan gesellscaft pada masyarakat.
Pernyataan Simmel mengenai bentuk dan isi sebenarnya dapat ditarik dari permasalahan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan. Sebelum memasuki abad-20, semua disiplin ilmu, termasuk social science (hukum, ekonomi, politik, psikologi, agama, dll) telah mempunyai objek kajian formalnya, yaitu mengenai klasifikasi relasi sosial. Sementara sosiologi masih berusaha menemukan objek kajian yang khas. Maka, Simmel membedakan antara ISI (content) dan BENTUK (form) dari hubungan sosial. ISI relasi sosial dipelajari pada ranah ekonomi, politik, agama, hukum, psikologi. Sedangkan sosiologi mempelajari bentuk-bentuk dari relasi sosial. Oleh sebab itu, sosiologi Simmel dalam peta teori disebut sebagai sosiologi formal (form of sociology). Masalah pokok yang dipelajari dalam sosiologi adalah deskripsi dan analisis dari bentuk interaksi sosial masyarakat.
Simmel menyatakan bentuk-bentuk dari interaksi sosial, antara lain:
Dominasi (kekuasaan dan upaya penundukkan)
Subordinasi (relasi bawahan-atasan)
Superordinasi (relasi atasan-bawahan)
Kompetisi (persaingan)
Imitasi
Perwakilan kepartaian
Pembagian kerja
Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan formal harus bertujuan untuk mendeskripsikan, mengklasifikasikan, menganalisis, dan menginterpretasi bentuk-bentuk dari interaksi tersebut. Bentuk-bentuk hubungan sosial diibaratkan sebagai sarang laba-laba, dimana struktur sarangnya kuat terjalin satu dengan yang lain dengan berbagai dimensi yang melandasinya.
Simmel menyatakan bahwa tugas utama sosiologi adalah memahami bentuk-bentuk interaksi dalam kerangka konseptual. Karena itu ia membangun konsep-konsep hubungan untuk memahami proses dan hubungan sosial yang dibangun (mengarah ke sosiologi-mikro). Menurutnya, masyarakat memiliki dua jenis proses hubungan sosial: 1) proses asosiatif, yaitu proses dimana orang saling mendekat satu sama lain. 2) proses disosiatif, yaitu proses di mana orang saling menjauh satu sama lain. Kedua proses ini akan terus-menerus ada dalam kehidupan bermasyarakat. Beberapa teori lain yang dikembangkan oleh Simmel antara lain: filsafat uang, malaise kebudayaan, masalah modernitas, dan strukturasi objektif-subjektif.
***
Mengapa pemikiran inovatif terkadang terasing oleh pemikiran umum?
(JME)
