Mindfulness Ala Maudy Ayunda VS Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono Ala Falsafah Jawa

Peneliti Data Digital
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Janni Bahira Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, nama Maudy Ayunda ramai dibicarakan. Bukan karena film atau musik, melainkan karena sebuah vlog Youtube berjudul Mindfulness in the Age of Bad News yang sudah diunggah sejak 21 Agustus 2026. Singkatnya, dalam vlog tersebut Maudy Ayunda bercerita tentang bagaimana cara menghadapi derasnya berita buruk dengan lebih selektif mengonsumsi informasi, termasuk memberi jarak ketika paparan berita mulai mengganggu kondisi emosional. Namun ketika potongan pembahasannya banyak beredar pada bulan ini, ternyata terdapat respons publik yang cukup keras. Ada yang menyebutnya tone deaf, ada yang memutuskan unsubscribe, ada yang menyatakan tidak berempati, bahkan ada juga kritik yang akhirnya berkembang ke wilayah yang menyerupai cancel culture.
Saya kira menariknya peristiwa ini bukan terletak pada pertanyaan apakah Maudy Ayunda benar atau salah. Kalau perdebatannya berhenti di sana, kita hanya akan menghasilkan dua kubu, yang pertama adalah mereka yang menganggap Maudy Ayunda tidak memiliki empati dan yang kedua adalah mereka yang merasa publik sudah terlalu berlebihan dalam menghakimi.
Padahal, ada persoalan komunikasi yang lebih menarik daripadi menghakimi siapa yang benar atuapun salah.
Secara konseptual yang saya pahami, apa yang disampaikan Maudy Ayunda sebenarnya tidak sepenuhnya keliru. Mindfulness memang berkaitan dengan kemampuan untuk hadir secara sadar terhadap pengalaman saat ini, tanpa buru-buru memberikan penilaian. Sejalan dengan tradisi yang banyak dikembangkan oleh Jon Kabat-Zinn, seorang pakar di bidang psikologi, menurut beliau mindfulness itu berkaitan dengan regulasi diri, jadi tentang bagaimana seseorang tidak secara otomatis bereaksi terhadap setiap stimulus yang datang kepadanya.
Namun masalah muncul ketika pengalaman personal tersebut dilemparkan ke ruang publik.
Sebab “berita buruk” bagi satu orang bisa berarti informasi yang melelahkan untuk dibaca, tetapi bagi orang lain, ia adalah realitas yang tidak mungkin di-mute. Batasan seperti, kesulitan ekonomi, kehilangan pekerjaan, kerusakan lingkungan, atau kebijakan publik bukan sesuatu yang bisa dihentikan hanya dengan menutup aplikasi. Maudy Ayunda akhirnya kemudian mengakui pada titik tersebut dirinya kurang tepat, bahwa kemampuan untuk mengambil jarak dari berita adalah sebuah privilege, terutama karena tidak semua orang punya pilihan ketika persoalan itu menyentuh langsung keluarga, pekerjaan, dan kehidupan mereka.
Di titik ini saya justru teringat dengan satu pitutur Jawa yang sejak kecil cukup akrab kita dengar, ngono yo ngono, ning ojo ngono.
Terjemahan harfiahnya memang agak klise: “begitu ya begitu, tetapi jangan begitu.” Akan tetapi, kekuatan falsafah ini memang bukan pada arti literalnya. Tapi falsafah tersebut bicara mengenai kemampuan. Tentang kemampuan manusia mengetahui kapan sesuatu masih berada pada batas yang wajar dan kapan ia sudah kebablasan.
Ada satu artikel dari Handayani, L. D., & Soeparno, K. (2023), ketika meneliti tentang ungkapan tersebut, menemukan bahwa ngono yo ngono ning ojo ngono hidup sebagai nasihat mengenai kontrol diri agar seseorang tidak bersikap berlebihan, dengan tujuan menjaga harmonisasi dalam kehidupan sosial.
Kalau ditempatkan dalam polemik mindfulness tadi, saya melihat keduanya sebenarnya tidak perlu dipertentangkan secara frontal. Menjaga kesehatan mental dari paparan informasi yang terus-menerus tentu penting. Ngono yo ngono.
Tetapi ketika pengalaman tersebut dibawa ke ruang publik dan seolah menjadi formula yang bisa diterapkan siapa saja tanpa mempertimbangkan perbedaan konteks sosialnya merupakan satu arogansi yang tidak berempati. Ning ojo ngono.
Di sinilah bagi saya falsafah Jawa itu menawarkan sesuatu yang sering hilang dalam perdebatan publik hari in, rasa cukup dan kesadaran atas orang lain.
Mindfulness membantu seseorang mengenali apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Sementara ngono yo ngono ning ojo ngono seperti menambahkan pertanyaan berikutnya, setelah memahami diri sendiri, sudahkah kita mempertimbangkan bagaimana tindakan atau perkataan kita diterima oleh orang lain?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting jika kita membawanya ke domain komunikasi.
Komunikasi yang seharusnya membantu manusia mengorganisasi kompleksitas malah melahirkan kompleksitas baru. Dalam teori sistem Luhmann, sistem komunikasi bekerja melalui seleksi sehingga kompleksitas dunia menjadi lebih mungkin dikelola. Karena itu saya kira ada ironi ketika komunikasi publik justru membuat persoalan yang sebelumnya relatif jelas menjadi semakin gaduh karena komunikator gagal memperhitungkan bagaimana pesannya akan diterima.
Dan persoalan ini tentu tidak berhenti hanya pada Maudy Ayunda.
Justru kenyataannya akan menjadi jauh lebih serius ketika yang berbicara adalah pejabat publik, anggota kabinet, anggota DPR, juru bicara pemerintah, atau figur lain yang suaranya memiliki daya jangkau dan otoritas jauh lebih besar. Tentu, mereka tetap berhak memberikan argumentasi yang rasional dan sesuai yang ingin mereka sampaikan. Meski sekalipun pemerintah tidak mungkin menjalankan kebijakan hanya berdasarkan perasaan publik. Data yang kredibel tetaplah penting, kalkulasi tetap dibutuhkan, dan tidak semua kritik masyarakat harus dikonfrontasi sebegitunya, namun bicara dengan empati akan jauh lebih dihormati ketimbang dengan cara-cara yang sarat akan arogansi.
Sekali lagi, ngono yo ngono.
Yang menjadi masalah adalah ketika rasionalitas itu disampaikan tanpa empati. Ketika angka dipakai untuk membantah pengalaman orang. Ketika masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan justru diajak berdebat seolah mereka adalah bawahan yang harus menerima penjelasan atasannya. Padahal bawahan sekalipun tidak layak diperlakukan dengan komunikasi yang merendahkan.
Apalagi warga negara yang memegang kedaulatan tertinggi
Pada titik ini, saya merasa ngono yo ngono ning ojo ngono jauh lebih luas daripada sekadar etiket Jawa. Filosofis tersebut merupakan cara mengingatkan manusia agar tidak kehilangan kesadaran dan kewajaran ketika sedang merasa benar, berkuasa, marah, kecewa, ataupun mempunyai pengaruh dan barangkali itu pula yang membuat pitutur lama tersebut masih relevan di tengah masyarakat yang komunikasinya sekarang serba kompleks.
Kita semua memiliki hak berbicara, kita boleh marah, kitab oleh berbeda pendapat, kita boleh membantah, kita boleh mengambil jarak, kita juga boleh menjaga diri sendiri dari sesuatu yang terasa terlalu berat. Tetapi selalu ada satu pertanyaan sebelum semuanya dilakukan yakni, sampai batas mana?
Karena kebebasan berekspresi tanpa kemampuan mengukur diri, mudah berubah menjadi ketidakpekaan, rasionalitas tanpa empati mudah berubah menjadi kesombongan, dan mindfulness yang hanya berhenti pada kesadaran terhadap diri sendiri berisiko kehilangan kesadaran bahwa bisa jadi akan menyinggung orang lain.
Oleh karena itu saya tidak benar-benar melihat mindfulness dan ngono yo ngono ning ojo ngono sebagai dua gagasan yang harus dipertandingkan tetapi sebagai satu-kesatuan yang perlu dipertimbangkan ketika hendak bertindak, berbicara, ataupun menyatakan sesuatu di kondisi yang serba mengkhawatirkan sekarang ini. Mindfulness mengajarkan kita untuk berhenti sebentar sebelum bereaksi. Namun Pitutur Jawa mengingatkan, setelah berhenti, jangan hanya melihat ke dalam diri sendiri.
Lihat juga orang lain. Lihat situasinya. Lihat akibat dari perkataan kita. Setelah itu mungkin bisa sampaikan sesuatu dengan ukuran yang tepat dan yang wajar.
Ngono yo ngono ning ojo ngono.
Sleman, 24 September 2026
Janni Bahira Akbar - Mahasiswa S2 Universitas Gadjah Mada
