Konten dari Pengguna

Pergantian Kepala BGN, Momentum Perbaikan MBG

Zahra Diah Alfiyanti

Zahra Diah Alfiyanti

Mahasiswi Prodi Akuntansi Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 3 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zahra Diah Alfiyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Badan Gizi Nasional (BGN). Foto: nungky  soerya/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Badan Gizi Nasional (BGN). Foto: nungky soerya/Shutterstock

Keputusan Presiden Prabowo Subianto mencopot Dadan Hindayana dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menjadi salah satu langkah yang menarik perhatian publik. Pergantian tersebut bukan sekadar pergantian figur di kursi pimpinan, melainkan juga cerminan adanya evaluasi terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini menjadi salah satu program unggulan pemerintah.

Pemerintah melalui Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyebut bahwa keputusan tersebut didasarkan pada berbagai hasil monitoring dan evaluasi selama sekitar satu setengah tahun terakhir. Beberapa persoalan yang menjadi catatan meliputi tata kelola organisasi, kedisiplinan dalam menjalankan standar operasional prosedur, hingga pengawasan terhadap kualitas makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat.

Langkah evaluasi ini patut diapresiasi karena menunjukkan bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadap berbagai kritik dan masukan yang berkembang di masyarakat. Program MBG memiliki tujuan yang sangat mulia, yakni meningkatkan kualitas gizi generasi muda Indonesia. Namun, tujuan besar tersebut tidak akan tercapai apabila pelaksanaannya masih diwarnai berbagai persoalan administratif maupun teknis di lapangan.

Besarnya anggaran yang dialokasikan untuk program MBG juga menjadi alasan mengapa pengelolaan yang profesional sangat diperlukan. Dengan pagu anggaran mencapai ratusan triliun rupiah, publik tentu berharap bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan negara benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan yang ketat harus menjadi fondasi utama agar program ini tidak hanya sukses secara angka, tetapi juga berkualitas dalam pelaksanaannya.

Penunjukan Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN yang baru dinilai banyak pihak sebagai pilihan yang logis. Selama menjabat sebagai Wakil Kepala BGN, ia dikenal aktif turun langsung ke lapangan untuk melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan program MBG. Bahkan, sejumlah dapur yang dinilai tidak memenuhi standar disebut telah ditutup sebagai bentuk komitmen menjaga kualitas pelayanan.

Nanik S Deyang ditemui di Grha Mandiri, Jakarta Pusat, Selasa (21/10/2025). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan

Pengalaman tersebut menjadi modal penting karena tantangan yang dihadapi BGN bukan hanya soal penyediaan makanan, melainkan juga memastikan keamanan pangan, kualitas gizi, distribusi yang tepat sasaran, serta koordinasi dengan berbagai kementerian dan pemerintah daerah. Kepemimpinan yang memahami kondisi lapangan dapat membantu mempercepat proses perbaikan yang selama ini dibutuhkan.

Meski demikian, pergantian pimpinan bukanlah solusi instan yang secara otomatis menyelesaikan seluruh persoalan. Publik tentu akan menilai kinerja pimpinan baru berdasarkan hasil nyata yang dirasakan masyarakat. Kualitas makanan yang diterima siswa, efektivitas distribusi, ketepatan sasaran penerima manfaat, dan minimnya kasus pelanggaran prosedur akan menjadi ukuran keberhasilan yang lebih penting dibanding sekadar perubahan struktur organisasi.

Kritik yang disampaikan sejumlah anggota DPR juga layak menjadi perhatian. Wacana perluasan program MBG ke luar negeri untuk anak-anak pekerja migran Indonesia, misalnya, menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan pemerintah. Ketika masih terdapat berbagai catatan dalam pelaksanaan di dalam negeri, fokus pembenahan seharusnya menjadi prioritas sebelum memperluas cakupan program ke wilayah yang lebih kompleks.

Selain itu, audit dan pengawasan terhadap penggunaan anggaran perlu terus diperkuat. Program dengan nilai anggaran yang sangat besar memiliki risiko kebocoran yang juga besar apabila pengawasannya lemah. Oleh karena itu, keterlibatan lembaga pengawas seperti Badan Pemeriksa Keuangan menjadi penting untuk memastikan seluruh proses berjalan secara transparan dan sesuai aturan.

Pergantian pimpinan BGN harus dipandang sebagai momentum untuk melakukan pembenahan menyeluruh, bukan sekadar pergantian nama dalam struktur organisasi. Keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran yang tersedia, tetapi juga oleh kualitas tata kelola, integritas pelaksana, dan kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan publik.

Harapan masyarakat sederhana: program yang dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia benar-benar memberikan manfaat yang nyata. Dengan evaluasi yang terbuka, pengawasan yang kuat, dan kepemimpinan yang responsif terhadap berbagai persoalan di lapangan, BGN memiliki kesempatan untuk memperbaiki kinerjanya sekaligus membuktikan bahwa program strategis nasional dapat dikelola secara efektif dan bertanggung jawab.