Konten dari Pengguna
Lepas dari Uni Eropa, Inggris Justru Kian Tergantung: Pelajaran dari Brexit
9 November 2025 0:54 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Lepas dari Uni Eropa, Inggris Justru Kian Tergantung: Pelajaran dari Brexit
Inggris keluar dari Uni Eropa demi kedaulatan ekonomi, tapi faktanya justru makin tergantung. Apa kata teori Institusionalisme Ekonomi soal paradoks ini?CALLISTA NADIA JASMINE
Tulisan dari CALLISTA NADIA JASMINE tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Tujuh tahun setelah Inggris resmi keluar dari Uni Eropa, janji besar tentang kedaulatan ekonomi dan politik mulai diuji oleh kenyataan. Brexit, yang semula digadang-gadang sebagai simbol kebebasan ekonomi dan kontrol penuh terhadap kebijakan nasional, kini justru menghadirkan paradoks baru: semakin Inggris berupaya berdiri sendiri, semakin kuat ketergantungannya terhadap sistem ekonomi global yang terhubung secara struktural.
ADVERTISEMENT
Dalam kerangka Ekonomi Politik Internasional (EPI), fenomena ini dapat dibaca melalui lensa Institusionalisme Ekonomi, sebuah teori yang menekankan pentingnya lembaga (institusi) dalam membentuk perilaku negara dan aktor ekonomi di tingkat global. Teori ini berpandangan bahwa stabilitas ekonomi dan perdagangan tidak dapat dilepaskan dari peran institusi, baik formal seperti Uni Eropa dan WTO, maupun informal seperti norma perdagangan, regulasi bersama, dan jaringan investasi lintas negara.
Brexit dan Ilusi Kedaulatan Ekonomi
Ketika referendum Brexit digelar pada 2016, isu utama yang didorong oleh kubu “Leave” adalah kedaulatan nasional: kebebasan menentukan aturan imigrasi, fiskal, dan perdagangan tanpa campur tangan Brussel. Namun, pasca keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada 2020, berbagai data menunjukkan efek yang berlawanan.
ADVERTISEMENT
Ekspor Inggris ke Uni Eropa menurun sekitar 15% dalam dua tahun pertama setelah Brexit. Rantai pasok industri otomotif dan farmasi terganggu akibat hambatan non-tarif baru. Perusahaan-perusahaan keuangan besar, seperti JPMorgan dan HSBC, memindahkan sebagian operasional mereka ke Frankfurt dan Paris. Bahkan, investasi langsung asing ke Inggris mengalami penurunan tajam pada 2021–2023, karena ketidakpastian kebijakan pasca-Brexit.
Fakta-fakta ini menegaskan bahwa dalam dunia ekonomi global yang sangat terintegrasi, “kemandirian ekonomi absolut” hampir mustahil tercapai. Inggris, meskipun keluar dari institusi formal Uni Eropa, tetap harus menyesuaikan kebijakan ekspor, regulasi produk, dan standar kerja dengan pasar Eropa agar tetap kompetitif.
Institusionalisme Ekonomi: Mengapa Keterikatan Itu Tak Terhindarkan
Menurut perspektif Institusionalisme Ekonomi, sistem global modern dibentuk oleh jaringan institusi yang saling memperkuat ketergantungan antarnegara. Lembaga-lembaga ini tidak hanya berfungsi sebagai aturan formal, tetapi juga sebagai mekanisme yang menumbuhkan kepercayaan, memfasilitasi investasi, dan mengatur interaksi ekonomi lintas batas.
ADVERTISEMENT
Dengan demikian, keluar dari Uni Eropa bukan berarti Inggris bebas dari pengaruhnya, justru sebaliknya, Inggris kini harus bernegosiasi ulang untuk mengakses pasar yang sebelumnya sudah otomatis terbuka melalui keanggotaan. Ini menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi modern tidak hanya bergantung pada sovereignty (kedaulatan), tetapi juga pada institutional embeddedness (keterikatan institusional).
Seorang analis dari London School of Economics bahkan menyebut Brexit sebagai “redefinisi kedaulatan dalam era globalisasi.” Negara yang memutuskan diri dari lembaga ekonomi regional, pada akhirnya tetap harus tunduk pada norma dan mekanisme pasar global yang diciptakan oleh lembaga serupa.
Pelajaran dari Brexit untuk Negara Lain
Kasus Inggris ini memberi pelajaran penting bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam konteks perdagangan bebas seperti ASEAN Economic Community (AEC) atau perjanjian ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA), kemandirian ekonomi tidak dapat dipahami secara sempit sebagai isolasi dari institusi regional.
ADVERTISEMENT
Partisipasi aktif dalam lembaga ekonomi internasional justru menjadi cara untuk memperoleh stabilitas dan kepercayaan pasar. Inggris kehilangan sebagian keunggulan kompetitifnya setelah Brexit karena gagal mempertahankan posisi dalam institusi yang selama ini menopang perekonomiannya. Institusionalisme Ekonomi membantu kita memahami bahwa kekuatan suatu negara di era globalisasi ditentukan bukan oleh seberapa “mandiri” ia berdiri, tetapi oleh seberapa efektif ia memanfaatkan lembaga internasional untuk memperkuat posisinya di pasar global.

