Adat Perkawinan Sunda: Tradisi dan Urutan Upacara
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Adat perkawinan Sunda dikenal kaya akan simbol dan tradisi yang sarat makna. Setiap rangkaian prosesi mengandung nilai kebersamaan, penghormatan kepada keluarga, hingga filosofi hidup yang dijunjung masyarakat Sunda sejak lama. Melalui artikel ini, akan dibahas urutan upacara adat nikah Sunda yang perlu diperhatikan calon pengantin.
Bentuk-Bentuk Perkawinan dalam Adat Sunda
Menurut dokumen Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Jawa Barat oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dalam tradisi masyarakat Sunda, terdapat dua bentuk utama perkawinan yang umum dikenal, yaitu perkawinan biasa dan perkawinan diam-diam. Kedua bentuk ini berbeda dalam pelaksanaan, suasana, serta tujuan sosialnya.
Perkawinan Biasa
Perkawinan biasa merupakan bentuk yang paling umum dijumpai di masyarakat Sunda. Pelaksanaannya menyesuaikan kondisi ekonomi keluarga.
Perkawinan Sederhana
Bagi keluarga yang kurang mampu, perkawinan dilaksanakan secara sederhana. Inti pelaksanaannya adalah akad nikah dan selamatan seperlunya, tanpa kemewahan atau pesta besar.
Perkawinan Meriah
Sebaliknya, pada keluarga berada atau terpandang, perkawinan dilangsungkan secara besar dan meriah. Prosesi adat, pesta, serta undangan dilakukan secara luas, bahkan dapat mencapai ratusan hingga ribuan tamu. Kemewahan menjadi bagian dari simbol status sosial keluarga.
Perkawinan Diam-Diam
Berbeda dengan perkawinan biasa, perkawinan diam-diam dilaksanakan tanpa keramaian dan hanya dihadiri keluarga dekat. Walaupun terkadang dilakukan oleh keluarga mampu, pelaksanaannya dibuat sederhana seolah-olah seperti perkawinan orang yang kurang mampu. Tujuan utamanya adalah agar tidak diketahui oleh banyak orang. Perkawinan jenis ini memiliki beragam bentuk dan alasan, salah satunya adalah kawin gantung.
Kawin Gantung dalam Tradisi Sunda
Kawin gantung terjadi ketika dua keluarga ingin menjalin hubungan besan sejak dini dengan menikahkan anak-anak mereka yang masih kecil dan belum memahami makna perkawinan. Pelaksanaannya sangat sederhana, bahkan sering tanpa akad nikah resmi karena kedua anak belum cukup umur. Pernikahan hanya berupa ikrar dari orang tua yang disaksikan keluarga dekat, kemudian ditutup dengan selamatan sederhana. Tradisi ini lebih bersifat simbolik sebagai ikatan keluarga, bukan sebagai perkawinan yang langsung dijalankan sebagaimana mestinya.
Tahapan dalam Pernikahan Adat Sunda
Tahapan Pra-Pernikahan
Dalam adat Sunda, sebelum akad nikah terdapat beberapa tahapan penting, yaitu neundeun omong, ngalamar, seserahan, dan ngeuyeuk seureuh. Rangkaian ini menjadi proses penyatuan dua keluarga sekaligus persiapan moral bagi calon mempelai.
Neundeun Omong
Neundeun omong merupakan perjanjian awal antara keluarga calon pengantin. Tahap ini masih bersifat penjajakan dan belum mengikat. Kedua pihak saling menilai kecocokan serta latar belakang masing-masing.
Ngalamar dan Pertunangan
Ngalamar adalah peminangan resmi dengan membawa sirih lengkap sebagai simbol kesungguhan. Jika diterima, diberikan tanda pengikat dan pasangan resmi bertunangan. Selanjutnya ditentukan waktu pernikahan melalui musyawarah dan perhitungan hari baik.
Seserahan
Seserahan dilakukan satu atau dua hari sebelum akad nikah sebagai simbol penyerahan calon pengantin laki-laki kepada keluarga perempuan. Rombongan membawa pakaian, perhiasan, uang, dan kebutuhan pesta sebagai lambang tanggung jawab dan kesiapan berumah tangga.
Ngeuyeuk Seureuh
Ngeuyeuk seureuh dilaksanakan sehari sebelum akad dan dipimpin sesepuh perempuan. Upacara ini sarat makna simbolik, seperti sirih sebagai lambang penyatuan, pelita sebagai simbol penerangan hidup, serta berbagai perlengkapan lain yang mengajarkan kerja sama, kesabaran, dan keharmonisan rumah tangga.
Malam Midadaren dan Maskawin
Malam sebelum akad disebut malam midadaren, saat calon pengantin diperlakukan istimewa dan dipersiapkan lahir batin.
Maskawin atau mahar merupakan pemberian wajib dari calon suami kepada calon istri. Nilainya ditentukan melalui musyawarah dan melambangkan kesungguhan serta tanggung jawab, bukan sebagai harga perempuan.
Upacara Pernikahan
Akad Nikah
Akad nikah merupakan inti dan penentu sahnya perkawinan menurut adat dan agama Islam. Prosesi dilakukan oleh penghulu dengan adanya wali, saksi, ijab kabul, dan maskawin. Setelah ijab kabul sah, mempelai laki-laki mengucapkan janji (taklik talak) sebagai komitmen menjalankan kewajiban rumah tangga, lalu ditutup dengan doa dan penandatanganan dokumen nikah.
Selamatan
Setelah akad, kedua mempelai kembali ke rumah pihak perempuan dan disambut keluarga. Diadakan selamatan atau kenduri sebagai ungkapan syukur serta permohonan keselamatan dan kebahagiaan bagi pasangan yang baru menikah.
Arak-Arakan Pengantin
Arak-arakan adalah prosesi iring-iringan pengantin sebagai tanda kegembiraan. Kedua mempelai mengenakan pakaian adat dan diarak dengan kendaraan berhias, diiringi keluarga serta musik tradisional. Dahulu arak-arakan berlangsung meriah dan penuh simbol adat, namun kini umumnya dilakukan secara lebih sederhana.
Upacara Setelah Pernikahan
Upacara Sawer
Nyawer adalah prosesi menaburkan beras, uang, bunga, dan perlengkapan lain kepada kedua mempelai sebagai simbol doa. Upacara ini berisi nasihat agar suami istri hidup rukun, saling mencintai, menghormati keluarga, serta gemar berbagi dan bersedekah.
Upacara Injak Telur
Dalam upacara ini mempelai laki-laki menginjak telur, lalu kakinya dicuci oleh mempelai perempuan. Maknanya melambangkan kesediaan istri melayani suami, pentingnya hati yang bersih, serta kerja sama dalam membangun rumah tangga.
Masuk Rumah dan Sahadat
Mempelai perempuan masuk rumah lebih dahulu, sedangkan mempelai laki-laki baru diperbolehkan masuk setelah mengucapkan syahadat. Prosesi ini melambangkan kesiapan suami memimpin keluarga secara agama.
Huap Lingkung dan Penutup
Huap lingkung adalah tradisi saling menyuapi antara suami istri sebagai simbol kebersamaan dan kasih sayang. Setelah itu, kedua mempelai menerima ucapan selamat dan doa restu dari tamu, lalu acara ditutup dengan jamuan dan hiburan.
Kesimpulan
Adat perkawinan Sunda tidak hanya berisi rangkaian upacara, melainkan juga sarat pesan moral dan filosofi kehidupan. Memahami urutan adat nikah Sunda beserta pantangan yang berlaku penting untuk menjaga kelestarian budaya dan membangun rumah tangga yang harmonis. Dengan mematuhi tradisi dan nilai luhur tersebut, masyarakat Sunda dapat terus melestarikan warisan budaya yang bernilai tinggi.
Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.
Baca Juga: Mengenal Budaya Indonesia sebagai Warisan Keragaman dan Identitas Nusantara