Geger Pecinan: Tragedi Berdarah Warga Tionghoa di Batavia 1740
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Batavia pada awal abad ke-18 menjadi saksi bisu salah satu tragedi berdarah paling kelam dalam sejarah kolonial Nusantara. Peristiwa yang dikenal sebagai Geger Pecinan atau Geger Pacinan ini mencatat pembantaian massal terhadap ribuan warga Tionghoa oleh pihak VOC dan warga lokal. Tragedi ini tidak muncul begitu saja, melainkan hasil dari kebijakan diskriminatif dan ketegangan sosial yang telah lama menumpuk di tengah masyarakat kolonial Batavia.
Memahami peristiwa Geger Pecinan penting bagi kita untuk melihat bagaimana kebijakan yang tidak adil dapat memicu konflik berdarah. Menurut artikel Sejarah Kelam: Konflik Warga Tionghoa di Indonesia dengan VOC oleh Kartika Sari, dkk, peristiwa ini menjadi bukti nyata dampak buruk diskriminasi rasial dalam sejarah Indonesia.
Latar Belakang dan Penyebab Geger Pecinan
Pada awal abad ke-18, jumlah penduduk Tionghoa di Batavia meningkat pesat seiring berkembangnya aktivitas perdagangan dan industri, terutama industri gula. Keahlian mereka dalam bidang perdagangan dan ekonomi menjadikan komunitas Tionghoa sebagai salah satu kelompok penting dalam perkembangan Batavia. Namun, ketika kondisi ekonomi VOC memburuk pada akhir 1730-an, hubungan yang sebelumnya cukup baik mulai berubah menjadi penuh ketegangan.
Untuk mengendalikan jumlah penduduk Tionghoa, VOC menerapkan berbagai kebijakan, seperti kewajiban memiliki surat izin menetap (permissie brief), razia terhadap pendatang tanpa izin, serta rencana deportasi bagi mereka yang dianggap ilegal. Kebijakan tersebut menimbulkan keresahan karena disertai desas-desus bahwa para tahanan akan dibuang ke tengah laut. Rumor tersebut memicu kepanikan dan memperbesar ketegangan antara komunitas Tionghoa dengan pemerintah VOC.
Kronologi Peristiwa dan Dampak Geger Pecinan Oktober 1740
Ketegangan memuncak pada awal Oktober 1740 ketika kelompok Tionghoa mulai menyerang sejumlah pos VOC di sekitar Batavia. Sebagai tanggapan, VOC memberlakukan jam malam, melarang warga Tionghoa membawa senjata, serta mengeluarkan berbagai pembatasan yang semakin memperkeruh situasi.
Pada 9–10 Oktober 1740, VOC melancarkan operasi penumpasan yang berubah menjadi pembantaian massal terhadap warga Tionghoa di Batavia. Selain dilakukan oleh tentara VOC, kekerasan juga melibatkan budak, pendatang dari Timur Tengah, dan sebagian penduduk yang diprovokasi untuk ikut menyerang. Rumah-rumah dijarah dan dibakar, sedangkan ribuan warga Tionghoa menjadi korban jiwa. Jurnal memperkirakan jumlah korban mencapai sekitar 7.000 hingga 10.000 orang.
Perlawanan tidak berhenti setelah pembantaian di dalam kota. Kelompok Tionghoa di luar Batavia, di bawah pimpinan Kapitan Sepanjang, melanjutkan perlawanan terhadap VOC di beberapa wilayah sekitar Batavia, meskipun akhirnya mengalami kekalahan akibat keterbatasan pasukan dan persenjataan.
Peristiwa Geger Pecinan memberikan dampak besar terhadap kehidupan ekonomi Batavia. Banyak pedagang dan pengusaha Tionghoa tewas atau meninggalkan kota sehingga aktivitas perdagangan mengalami kemunduran. Selain kerugian ekonomi, tragedi ini juga meninggalkan luka sosial yang mendalam bagi komunitas Tionghoa dan menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah kolonial di Indonesia.
Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.
Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia