Konten dari Pengguna

Kudo-kudo: Makanan Adat dalam Upacara Batagak Kudo-kudo di Sumatra Barat

J

Jejak Sejarah

Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berbagai hidangan tradisional untuk upacara adat. Sumber foto: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Berbagai hidangan tradisional untuk upacara adat. Sumber foto: pexels.com

Kudo-kudo dikenal sebagai bagian penting dari tradisi masyarakat Minangkabau, khususnya dalam upacara adat di Sumatra Barat. Tradisi ini bukan hanya soal ritual, tetapi juga sarat makna sosial dan budaya yang diwariskan turun-temurun. Kudo-kudo sendiri erat kaitannya dengan penyajian makanan adat yang memiliki simbol dan filosofi tersendiri.

Apa Itu Upacara Kudo-kudo?

Upacara kudo-kudo merupakan salah satu tradisi masyarakat Minangkabau yang sampai saat ini masih dijalankan di berbagai daerah, termasuk Kecamatan VII Koto Sungai Sariak. Menurut jurnal Makanan Adat pada Upacara Batagak Kudo-kudo oleh Devi Sarah, upacara ini menjadi bagian penting dalam siklus kehidupan masyarakat setempat. Tradisi ini telah diwariskan dari generasi ke generasi sebagai wujud penghormatan nilai adat dan identitas budaya Minangkabau.

Pengertian dan Sejarah Upacara Kudo-kudo

Secara umum, upacara kudo-kudo adalah serangkaian ritual yang menandai momen-momen tertentu seperti pembangunan rumah, khususnya saat mengangkat balok kayu bagian kudo-kudo atau paran, yang dalam istilah bangunan disebut kuda-kuda atap (roof truss) yaitu rangka penopang seluruh beban atap. Upacara ini memiliki akar sejarah yang kuat dalam adat Minangkabau, dan masih bertahan hingga kini sebagai simbol kebersamaan serta penghormatan pada leluhur.

Fungsi dan Makna Sosial Upacara Kudo-kudo

Tidak hanya untuk ritual membangun rumah, kudo-kudo juga berfungsi sebagai ajang mempererat solidaritas antar warga yang berada di sekitar pembangunan rumah itu. Masyarakat berkumpul, bergotong royong, dan saling berbagi dalam suasana penuh kekeluargaan. Nilai kebersamaan dan gotong royong sangat menonjol dalam pelaksanaan upacara ini.

Peran Makanan Adat pada Upacara Kudo-kudo

Makanan adat menjadi unsur inti dalam setiap upacara kudo-kudo. Beragam hidangan khas Minangkabau disajikan sebagai lambang kemakmuran dan rasa syukur. Dalam jurnal yang sama, Devi Sarah menyatakan setiap makanan yang dihidangkan memiliki filosofi tertentu yang dipercaya membawa makna baik bagi masyarakat.

Daftar Makanan Tradisional yang Disajikan

Pada upacara kudo-kudo, ada dua jenis hidangan yang sering muncul. Hidangan pertama sebagai syarat upacanya, yaitu sikunik, tompi, dan batih barandang. Hidangan kedua untuk makan siang masyarakat antara lain gulai ayam, pangek ikan, samba campua-campua, gulai cubadak, samba lado, keripik ubi. Setiap makanan tersebut biasanya disajikan dalam jumlah yang melimpah sebagai simbol rezeki dan harapan akan kehidupan yang sejahtera.

Makna Simbolis Makanan dalam Upacara

Setiap jenis makanan memiliki makna simbolis. Tompi bermakna pengharapan agar tuan rumah dapat memimpin keluarganya dengan bijaksana. Rendang, misalnya, dianggap sebagai lambang kekuatan dan kebersamaan, sedangkan lamang melambangkan harapan hidup yang panjang dan harmonis. Makanan-makanan ini bukan sekadar santapan, tetapi juga sarana mengikat nilai-nilai adat dalam kehidupan sehari-hari. Batiah barandang bermakna agar kelak keluarga yang menempati rumah dapat menjadi lebih baik. Gulai ayam berarti siapa saja yang menempati rumah itu tidak akan bersifat mubazir. Samba campua-campua bermakna agar keluarga tidak saling membeda-bedakan, sedangkan gulai cubadak bermakna kesederhanaan.

Proses Pelaksanaan dan Tata Cara Penyajian Kudo-kudo

Pelaksanaan upacara kudo-kudo diatur secara terstruktur dan penuh makna. Setiap tahapan, sejak persiapan hingga puncak acara, melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Penyajian makanan adat pun mengikuti aturan adat yang ketat. Waktunya biasanya pada hari yang ditentukan, dan pelaksanaannya sepanjang hari dari pagi sampai sore.

Tahapan Pelaksanaan Upacara

Rangkaian upacara dimulai dari persiapan bahan makanan, pemasangan perlengkapan adat, hingga pelaksanaan ritual utama. Semua proses ini dilakukan bersama-sama sebagai bentuk gotong royong dan penghormatan pada tradisi.

Tata Cara Penyajian Makanan Kudo-kudo

Penyajian makanan kudo-kudo dilakukan secara berurutan sesuai aturan adat. Setiap hidangan yang telah diletakkan pada piring kecil ditata dalam dulang, kemudian ditutup oleh tudung saji dan dalamak. Disajikan secara rata per porsinya menggunakan piring samba lalu diletakkan piring itu di atas seperah makan. Khusus untuk kepala tukang, penyajian sama menggunakan piring samba lalu ditata dalam dulang, juga ditutup menggunakan tudung saji dan dalamak. Jatah kepala tukang itu disebut jamba tukang. Semua hidangan hanya boleh disantap setelah doa bersama. Cara penyajian ini menegaskan pentingnya tata krama dan rasa hormat dalam budaya Minangkabau.

Kesimpulan

Kudo-kudo merupakan tradisi yang menggabungkan nilai adat, kebersamaan, dan makna filosofis melalui makanan adat khas Minangkabau. Dengan berbagai tahapan dan aturan yang dijalankan, upacara kudo-kudo memperkuat identitas serta solidaritas masyarakat. Tradisi ini membuktikan bahwa ritual dan makanan dapat menjadi jembatan penting dalam melestarikan budaya lokal.

Ditinjau oleh Fakhri Nurzaman