Long March: Perjalanan Heroik Divisi Siliwangi 1948
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Long March Siliwangi menjadi salah satu peristiwa paling heroik dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini mencatat perjalanan panjang pasukan Divisi Siliwangi yang harus meninggalkan Jawa Barat menuju Jawa Tengah pada tahun 1948.
Latar belakang peristiwa ini sangat erat kaitannya dengan Perjanjian Renville yang ditandatangani pada 17 Januari 1948. Perjanjian tersebut sangat merugikan Indonesia karena menyerahkan wilayah Jawa Barat kepada Belanda, sehingga pasukan TNI harus hijrah demi mempertahankan eksistensi republik.
Pengertian dan Latar Belakang Hijrah serta Long March Siliwangi
Hijrah dan Long March Siliwangi adalah rangkaian peristiwa bersejarah perpindahan strategis militer Divisi Siliwangi selama masa Revolusi Fisik pada tahun 1948. Berdasarkan artikel Peristiwa Long March Siliwangi Tahun 1948 Berdasarkan Dokumen dan Koleksi-koleksi di Museum Mandala Wangsit Siliwangi Bandung oleh Muhammad Fauzan Khairullah dan Usman Supendi, Peristiwa Long March Siliwangi Tahun 1948 Berdasarkan Dokumen dan Koleksi-koleksi di Museum Mandala Wangsit Siliwangi Bandung, terdapat dua fase penting yang membedakan peristiwa ini: Hijrah Siliwangi (pindahan dari Jawa Barat ke Yogyakarta/Jawa Tengah) dan Long March Siliwangi (perjalanan kembali berjalan kaki dari Yogyakarta ke Jawa Barat).
Peristiwa ini bermula dari penandatanganan Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948 yang mengharuskan Republik Indonesia mengosongkan kantong-kantong gerilya di luar "Garis van Mook" dan menarik pasukannya dari Jawa Barat.
Di bawah komando Panglima Divisi Kolonel A.H. Nasution, sekitar 29.000 personel tentara beserta keluarga dan simpatisan mematuhi perintah diplomasi pemerintah untuk melakukan hijrah ke Jawa Tengah sejak Februari 1948. Selama berada di Jawa Tengah, pasukan Siliwangi tidak hanya menjaga keamanan ibu kota Yogyakarta, tetapi juga berhasil menyelesaikan misi penting menumpas pemberontakan PKI Muso dalam Madiun Affairs (1948).
Beberapa alasan dan tujuan utama dilakukannya gerakan ini antara lain:
- Mematuhi Hasil Diplomasi Perjanjian Renville: Menarik pasukan dari wilayah yang dikuasai Belanda menuju daerah Republik.
- Konsolidasi dan Restrukturisasi Kekuatan: Menyusun kembali strategi dan kekuatan militer tanpa harus menyerahkan diri kepada Belanda.
- Misi Pengamanan Nasional: Mengamankan ibu kota Yogyakarta serta menumpas ancaman disintegrasi internal (Pemberontakan PKI Madiun 1948).
- Strategi Infiltrasi (Wingate): Bersiap kembali ke Jawa Barat untuk melancarkan perang gerilya jika Belanda melanggar perjanjian.
Keputusan hijrah dan long march ini merupakan pilihan yang sangat berat bagi para prajurit karena harus meninggalkan tanah kelahiran dan memboyong keluarga melintasi medan perang. Namun, nilai spiritual, solidaritas, dan rasa cinta tanah air menjadi pendorong utama kestabilan mental Divisi Siliwangi.
Perjalanan dan Makna Historis Long March Siliwangi
Peristiwa Long March Siliwangi secara resmi dimulai ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II pada 19 Desember 1948 dan menduduki Yogyakarta. Di bawah pimpinan Panglima Divisi Letnan Kolonel Daan Jahja, Divisi Siliwangi menjalankan instruksi wingate untuk kembali melakoni perjalanan jarak jauh menuju Jawa Barat.
Kronologi perjalanan dan dinamika rute Long March meliputi:
- Titik Awal Pergerakan: Dimulai pasca-Agresi Militer II Belanda pada pertengahan Desember 1948 dari wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.
- Jalur dan Medan Terjal: Menempuh perjalanan sepenuhnya dengan berjalan kaki menembus pegunungan, hutan belantara, dan sungai tanpa bantuan transportasi. Rute utama melewati Surakarta, Wonosobo, Gunung Dieng, Gunung Slamet, Bumiayu, hingga menembus Puncak Tiga di perbatasan Jawa Tengah–Jawa Barat.
- Kondisi Ekstrem: Menghadapi ancaman gempuran tentara Belanda, krisis logistik, kekurangan obat-obatan, serta beban membawa ratusan anggota keluarga di sepanjang perjalanan.
- Ancaman Musuh Ganda di Jawa Barat: Setibanya di tanah kelahiran, pasukan Siliwangi tidak dapat langsung beristirahat karena harus menghadapi dua musuh sekaligus, yaitu pasukan Belanda dan milisi DI/TII pimpinan Kartosuwiryo.
Dampak historis dari peristiwa Long March Siliwangi sangat signifikan dalam panggung Revolusi Fisik Indonesia. Peristiwa ini menjadi simbol daya tahan mental, transformasi spiritual (rites de passage), serta ketangguhan taktis prajurit TNI dalam mempertahankan kedaulatan negara.
Saat ini, Museum Mandala Wangsit Siliwangi yang terletak di Jalan Lembong No. 38 Bandung menyimpan berbagai memorabilia dan bukti otentik peristiwa sejarah ini. Koleksi yang dipamerkan meliputi peta relief tiga dimensi rute perjalanan, dokumentasi foto kedatangan pasukan di Stasiun Yogyakarta (15 Februari 1948), seragam dan tas kanvas prajurit, hingga aneka senjata ringan (rampasan Jepang/Sekutu) dan senjata berat seperti mortir serta senapan mesin yang digunakan selama operasi.
Nilai-nilai yang terkandung dari Long March Siliwangi—seperti keberanian mengambil keputusan taktis yang sulit, kepemimpinan di medan perang, dan kesetiaan penuh pada NKRI—menjadi warisan sejarah mendalam bagi pembentukan identitas militer Indonesia dan inspirasi bagi generasi penerus bangsa.
Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.
Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia