Konten dari Pengguna

Operation Barbarossa: Invasi Nazi ke Uni Soviet

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Operation Barbarossa. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Operation Barbarossa. Foto: Unsplash.

Tanggal 22 Juni 1941 menjadi salah satu momen paling menentukan dalam Perang Dunia II. Pada hari itu, Adolf Hitler melanggar pakta non-agresi yang telah ditandatangani dengan Uni Soviet dan melancarkan serangan militer terbesar dalam sejarah dengan nama sandi Operation Barbarossa.

Invasi ini melibatkan lebih dari 3 juta pasukan Jerman dan sekutunya dari negara-negara Axis. Skala operasi ini sangat masif dan bertujuan untuk menaklukkan Uni Soviet dalam waktu singkat sebelum musim dingin tiba.

Awal Invasi dan Kejayaan Sementara Jerman

Berdasarkan artikel Operation Barbarossa European history oleh Britannica, Pada 22 Juni 1941, Jerman melancarkan Operation Barbarossa, yaitu invasi besar-besaran ke Uni Soviet. Serangan dilakukan melalui tiga kelompok tentara utama. Army Group North bergerak menuju Leningrad, Army Group Center mengarah ke Smolensk dan kemudian Moskow, sedangkan Army Group South menyerang Ukraina menuju Kiev. Pada tahap awal, serangan ini berhasil mengejutkan kepemimpinan Soviet yang belum siap menghadapi invasi berskala besar. Pasukan Jerman bergerak cepat, menembus jauh ke wilayah Soviet, serta mengepung dan menangkap ratusan ribu tentara Soviet dalam beberapa pertempuran besar. Keberhasilan tersebut membuat Hitler dan para pemimpin militer Jerman yakin bahwa Uni Soviet dapat dikalahkan hanya dalam waktu dua hingga tiga bulan. Namun, perlawanan Tentara Merah yang terus berlanjut menunjukkan bahwa perang tidak akan berakhir secepat yang diperkirakan.

Kegagalan Operasi dan Titik Balik Perang

Memasuki musim gugur hingga awal musim dingin 1941, laju ofensif Jerman mulai melambat akibat berbagai kendala. Jalur logistik yang semakin panjang, kondisi jalan yang berubah menjadi lumpur, kebijakan bumi hangus yang diterapkan Soviet, serta perbedaan sistem rel kereta api menyulitkan pasokan bagi pasukan Jerman. Ketika ofensif menuju Moskow kembali dilanjutkan pada Oktober 1941, pasukan Jerman berhasil mencapai pinggiran kota, tetapi tidak mampu merebut ibu kota Soviet. Datangnya musim dingin yang sangat berat, ditambah kurangnya perlengkapan musim dingin bagi tentara Jerman, membuat serangan kehilangan momentum. Pada 6 Desember 1941, Tentara Merah di bawah Jenderal Georgy Zhukov melancarkan serangan balasan besar yang memaksa pasukan Jerman mundur. Kegagalan Operation Barbarossa kemudian menjadi salah satu titik balik terpenting dalam Perang Dunia II karena Jerman gagal mencapai kemenangan cepat yang telah direncanakan sejak awal invasi.

Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.

Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia