Penyebab Perang Saudara di Banten: Perselisihan Ayah-Anak dan Campur Tangan VOC
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesultanan Banten pada abad ke-17 mengalami peristiwa kelam dalam sejarah Nusantara, yaitu perang saudara antara Sultan Ageng Tirtayasa dan putranya sendiri, Sultan Haji. Konflik yang terjadi pada tahun 1680-1683 ini bukan sekadar pertikaian internal keluarga kerajaan, melainkan juga melibatkan kepentingan asing yang memanfaatkan perpecahan tersebut untuk menguasai Banten. Perang saudara yang terjadi di Banten disebabkan oleh perbedaan pandangan politik antara ayah dan anak terhadap VOC, ditambah dengan ambisi kekuasaan yang dimanfaatkan oleh Belanda. Konflik ini mengubah wajah politik Kesultanan Banten dan menandai awal dominasi kolonial yang lebih kuat di wilayah tersebut.
Latar Belakang Konflik Internal Kesultanan Banten
Sultan Ageng Tirtayasa dan Konflik dengan VOC
Menurut artikel Konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan VOC dan Sultan Haji oleh Nina Herlina, sejak memerintah Kesultanan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa menjalankan kebijakan perdagangan bebas dengan membuka hubungan dagang dengan berbagai bangsa, seperti Inggris, Prancis, Denmark, Portugis, Persia, India, hingga Tiongkok. Kebijakan ini bertentangan dengan keinginan VOC yang berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah, terutama lada, sehingga hubungan kedua pihak semakin memanas.
Blokade VOC terhadap Banten
Untuk memaksa Banten menerima sistem monopoli perdagangan, VOC beberapa kali melakukan blokade terhadap Pelabuhan Banten. Akibatnya, aktivitas perdagangan terganggu, arus keluar-masuk kapal menurun, dan perekonomian Kesultanan Banten mengalami tekanan yang cukup besar.
Perbedaan Sikap Sultan Ageng dan Sultan Haji
Di tengah konflik dengan VOC, muncul perselisihan di lingkungan keluarga kerajaan. Sultan Haji mulai merasa khawatir tidak akan menjadi penerus takhta karena Sultan Ageng lebih mempercayai Pangeran Arya Purbaya dalam urusan pemerintahan. Kekhawatiran tersebut mendorong Sultan Haji mencari dukungan VOC demi memperkuat posisinya.
Strategi VOC Memanfaatkan Konflik
VOC memanfaatkan ketegangan di lingkungan Kesultanan Banten dengan mendekati Sultan Haji. Melalui berbagai bujukan dan dukungan politik, VOC berhasil menjadikan perselisihan keluarga kerajaan sebagai kesempatan untuk memperluas pengaruhnya di Banten.
Penyebab Utama Perang Saudara Banten
Perebutan Takhta dan Perbedaan Kepentingan
Perang saudara di Banten dipicu oleh perpaduan antara konflik kepentingan dengan VOC dan perebutan kekuasaan di lingkungan kerajaan. Sultan Ageng Tirtayasa bertekad mempertahankan kedaulatan Banten dari monopoli VOC, sedangkan Sultan Haji memilih bekerja sama dengan VOC untuk memperoleh dukungan dalam merebut takhta.
Dukungan Militer VOC kepada Sultan Haji
VOC memberikan bantuan militer kepada Sultan Haji setelah ia menyetujui sejumlah persyaratan, antara lain menyerahkan monopoli perdagangan lada kepada VOC, melepaskan Cirebon, membayar denda apabila melanggar perjanjian, dan menarik pasukan Banten dari wilayah Priangan. Dukungan tersebut menjadi faktor penting dalam pecahnya perang saudara.
Jalannya Perang Saudara
Konflik bersenjata memuncak setelah Sultan Haji melakukan kudeta pada tahun 1681 dengan bantuan VOC. Perang terbuka antara pasukan Sultan Ageng Tirtayasa dan pasukan gabungan Sultan Haji-VOC pecah pada 27 Februari 1682 dan berlangsung melalui serangkaian pertempuran di Surosowan, Tirtayasa, Pontang, serta wilayah sekitarnya.
Berakhirnya Perlawanan Sultan Ageng
Setelah mengalami kekalahan dalam serangkaian pertempuran melawan pasukan gabungan VOC dan Sultan Haji, Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya ditawan dan dipenjarakan di Batavia hingga wafat pada tahun 1692. Setelah itu, Sultan Haji dikukuhkan sebagai Sultan Banten dengan dukungan VOC.
Dampak terhadap Kesultanan Banten
Kemenangan Sultan Haji membawa konsekuensi besar bagi Kesultanan Banten. Sebagai imbalan atas bantuan VOC, Banten harus memenuhi berbagai perjanjian yang menguntungkan VOC, termasuk pemberian hak monopoli perdagangan lada dan berbagai konsesi politik yang mengurangi kedaulatan kerajaan.
Akhir Kedaulatan Banten
Perang saudara yang dipicu konflik internal dan campur tangan VOC menyebabkan posisi Kesultanan Banten semakin lemah. Sejak saat itu, pengaruh VOC dalam urusan politik maupun ekonomi Banten semakin kuat sehingga kedaulatan kerajaan berangsur-angsur berkurang. Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bahwa perpecahan internal dapat dimanfaatkan kekuatan asing untuk menguasai suatu kerajaan.
Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.
Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia