Konten dari Pengguna

Rampak Bedug: Seni Tradisional Banten yang Masih Bertahan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Rampak Bedug. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Rampak Bedug. Foto: Unsplash.

Kesenian tradisional di Indonesia memiliki beragam bentuk yang mencerminkan kekayaan budaya lokal. Salah satu yang menarik untuk dikenal adalah rampak bedug, sebuah kesenian khas Banten yang menggunakan bedug sebagai instrumen utama.

Rampak bedug bukan sekadar pertunjukan musik biasa. Kesenian ini memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat, mulai dari sarana dakwah Islam hingga menjadi media pelestarian budaya lokal yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

Mengenal Rampak Bedug sebagai Kesenian Tradisional Banten

Rampak Bedug merupakan salah satu kesenian tradisional khas Banten, terutama Kabupaten Pandeglang. Kesenian ini dimainkan dengan menggunakan banyak bedug yang ditabuh secara serempak sehingga menghasilkan irama khas yang harmonis. Pada awalnya, Rampak Bedug digunakan untuk menyambut bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idulfitri sebagai perkembangan dari tradisi ngadu bedug atau ngabedug. Seiring waktu, kesenian ini berkembang menjadi pertunjukan yang bernilai seni tinggi dan sering ditampilkan dalam berbagai acara budaya.

Menurut artikel Sejarah Perkembangan Rampak Bedug di Kampung Kadu Kupa Tahun 2022–2024 oleh Umah dan Arif Permana Putra, Rampak Bedug di Kampung Kadu Kupa menjadi salah satu kebanggaan masyarakat setempat. Selain memiliki nilai religi, kesenian ini juga berfungsi sebagai hiburan dan memiliki nilai ekonomi karena sering diundang untuk memeriahkan berbagai kegiatan masyarakat. Di samping itu, Rampak Bedug menanamkan nilai-nilai karakter seperti kedisiplinan, religius, cinta tanah air, tanggung jawab, dan kerja keras.

Keunikan Rampak Bedug di Kampung Kadu Kupa terletak pada pengembangan pola tabuh yang dipadukan dengan gerakan tari hasil kreasi sendiri. Salah satu gerakan khasnya adalah "Gajah Untui-Untuian", yang terinspirasi dari Batu Gajah, ikon Kampung Kadu Kupa. Selain itu, sanggar ini juga melibatkan anak-anak sebagai pemain sehingga menjadi ciri khas yang membedakannya dari kelompok Rampak Bedug lainnya.

Perkembangan Rampak Bedug di Kampung Kadu Kupa Tahun 2022–2024

Perkembangan Rampak Bedug di Kampung Kadu Kupa dimulai pada tahun 2021 ketika masyarakat memainkan bedug untuk mengiringi takbiran pada bulan Ramadan. Antusiasme generasi muda kemudian mendorong berdirinya Sanggar Seni Bedug Batu Gajah pada 12 Maret 2022 sebagai wadah pelestarian dan pengembangan kesenian tersebut. Setelah sanggar berdiri, latihan dilakukan secara rutin dengan mendatangkan pelatih untuk meningkatkan kemampuan para pemain.

Dalam periode 2022–2024, Rampak Bedug mengalami perkembangan yang signifikan. Sanggar berhasil menciptakan gerakan-gerakan baru yang menjadi identitasnya, membentuk komunitas Group Batu Gajah Rampak Bedug pada tahun 2023, serta mengikuti perlombaan Gebrag Adu Bedug 2024 yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pandeglang hingga berhasil meraih gelar Jawara Gebrag.

Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran aktif masyarakat. Anak-anak muda bergabung secara sukarela dan berlatih rutin sebagai bentuk regenerasi pemain. Orang dewasa menyediakan berbagai fasilitas, termasuk bedug yang dibuat secara swadaya, sedangkan para ibu berkontribusi dengan membuat kostum pertunjukan secara mandiri. Melalui kerja sama seluruh lapisan masyarakat, Rampak Bedug terus berkembang sebagai salah satu identitas budaya Kampung Kadu Kupa sekaligus warisan budaya Kabupaten Pandeglang yang patut dilestarikan.

Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.

Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia