Rangda: Siapa Sosok Rangda Bali dan Apa Artinya?
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masyarakat Bali mengenal Rangda sebagai sosok mistis yang sangat lekat dengan ritual dan pertunjukan seni tradisional. Sosok ini kerap digambarkan memiliki kekuatan magis yang besar dan menjadi bagian penting dalam budaya Bali. Tidak hanya menghadirkan nuansa mistik, Rangda juga menyimpan makna simbolik yang mendalam dalam kehidupan spiritual masyarakat.
Pengertian Rangda Bali
Menurut artikel Liturgi Sakralisasi Barong-Rangda: Eksplorasi Teo-Filosofis Estetik Mistik Bali oleh Komang Indra Wirawan, secara etimologis, kata Rangda berarti janda. Dalam kamus Jawa Kuno, istilah randa dimaknai sebagai janda. Dalam bahasa Bali alus, Rangda merujuk pada janda dari kalangan Tri Wangsa (Brahmana, Ksatria, dan Wesya), sedangkan janda dari kalangan Sudra dikenal dengan sebutan balu atau walu. Pengertian ini menunjukkan bahwa istilah Rangda pada dasarnya memiliki makna sosial sebelum berkembang menjadi simbol religius.
Penggambaran Rangda
Dalam persepsi masyarakat Bali, Rangda lebih dikenal melalui pementasan drama Calonarang. Dalam kisah tersebut, Rangda digambarkan sebagai janda sakti dari Girah yang menguasai ilmu hitam dan berperan sebagai tokoh antagonis. Sosoknya divisualisasikan dengan wajah menyeramkan, mata melotot, taring besar, rambut putih terurai, lidah panjang, dan kuku panjang.
Penggambaran ini membentuk citra Rangda sebagai simbol kekuatan destruktif yang menyebarkan wabah dan kehancuran. Karena kisah Calonarang sangat populer, pemahaman masyarakat terhadap Rangda sering kali terbatas pada gambaran tersebut.
Peran Rangda dalam Kehidupan Masyarakat Bali
Di luar konteks kesenian, Rangda memiliki fungsi penting sebagai tapakan atau simbol suci dalam praktik keagamaan Hindu Bali (arcanam). Rangda tidak hanya dipahami sebagai tokoh jahat, tetapi sebagai manifestasi sakti Dewi Durga dalam aspek raudra (menyeramkan).
Makna Simbolik dan Filosofis Rangda
Sebagai simbol religius, Rangda menjadi bagian dari sistem kosmologi Hindu Bali yang menempatkan kekuatan destruktif sebagai unsur penyeimbang dalam kehidupan. Dalam konteks ini, Rangda bukan sekadar antagonis, melainkan bagian dari dinamika sakral antara kekuatan dharma dan adharma.
Filosofi Dualitas Barong dan Rangda
Barong dan Rangda merepresentasikan aspek pemurthian Sang Hyang Siwa dan Bhatari Durga, di mana Barong dipahami sebagai wujud Banaspati Raja atau Kalarudra yang bertiwikrama, sedangkan Rangda adalah manifestasi Dewi Durga dalam aspeknya yang krura atau murka.
Prosesi Sakralisasi Rangda
Dalam prosesi sakralisasi, Rangda melalui tahapan melasti, melaspas, memakuh, mapengurip-urip, hingga mepasupati dan ngereh sebagai proses pengisian jiwa atau roh dewata, sehingga dari benda profan berubah menjadi pralingga suci yang dijiwai kekuatan kedewataan.
Kesimpulan
Rangda menjadi bagian penting dalam kehidupan spiritual dan budaya Bali. Sosok ini tidak sekadar tokoh mitologi, tetapi juga simbol dualitas dan keseimbangan hidup. Melalui berbagai ritual dan seni pertunjukan, makna Rangda tetap hidup dan diwariskan di tengah masyarakat Bali.
Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.