Konten dari Pengguna

Memahami Seni Tradisional Nusantara, Mulai dari Tari hingga Upacara Adat

J

Jejak Sejarah

Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.

·waktu baca 6 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah penari menarikan Tari Bosu, tarian tradisional Suku Buton saat malam pagelaran seni Hari Pangan Sedunia di eks MTQ Square, Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (4/11/2019). Foto: ANTARA FOTO/Jojon
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah penari menarikan Tari Bosu, tarian tradisional Suku Buton saat malam pagelaran seni Hari Pangan Sedunia di eks MTQ Square, Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (4/11/2019). Foto: ANTARA FOTO/Jojon

Seni tradisional Nusantara berkembang dari kehidupan masyarakat yang beragam, dari Sabang sampai Merauke. Ia tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan adat, kepercayaan, dan sistem sosial. Karena itu, memahami seni tradisional berarti memahami identitas bangsa secara utuh.

Artikel ini merangkum seluruh spektrum seni tradisional Indonesia, mulai dari wayang, musik, tari, teater rakyat, kriya, sastra, hingga arsitektur dan upacara adat.

Wayang dan Dunia Pedalangan

Tradisi wayang sangat luas dan memiliki banyak varian. Masyarakat mengenal wayang kulit, wayang kulit purwa, wayang madya, wayang gedhog, wayang menak, wayang wahyu, wayang kancil, wayang suluh, wayang revolusi, wayang wahana, dan wayang sadat. Selain itu berkembang pula wayang golek, wayang orang, wayang wong, wayang beber, wayang beber pacitan, wayang beber wonogiri, wayang klitik, wayang krucil, wayang suket, dan wayang thengul.

Di berbagai daerah muncul kekhasan seperti wayang palembang, wayang sasak, wayang banjar, wayang siam, wayang bali parwa, wayang potehi, wayang cepak, serta wayang gagrag banyumasan. Sementara itu, gaya pementasan juga berbeda antara gagrag Surakarta, gagrag Yogyakarta, dan pedalangan Jawa timuran.

Pertunjukan wayang dipimpin oleh dalang dengan sistem pakem pakeliran. Dalam prosesnya ada antawacana, janturan, pocapan, dan ada-ada. Unsur teknis lain meliputi srepeg, sampak, ayak-ayakan, buka gending, merong, inggah, ompak, dan bawa.

Perangkat pertunjukan mencakup gunungan wayang, kelir, blencong, cempala, dan kepyak. Teknik gerak dikenal sebagai sabet, sedangkan nyanyian dalang disebut sulukan pathet nem, sulukan pathet sanga, dan sulukan pathet manyura. Iringan gamelan disusun dalam bentuk gending, lancaran, ladrang, dan ketawang dengan sistem pathet nem, pathet sanga, serta pathet manyura.

Cerita yang dibawakan meliputi lakon Mahabharata, lakon Ramayana, lakon Damarwulan, dan lakon Panji. Ada pula pengembangan lokal seperti carita wayang, carangan, pakem Mahabharata Jawa, dan pakem Ramayana Jawa.

Gamelan dan Musik Tradisional

Ansambel gamelan menjadi bagian penting dalam musik tradisional. Di Jawa dikenal gamelan Jawa dengan laras slendro dan laras pelog, sedangkan Sunda memiliki gamelan Sunda dengan laras degung. Bali menampilkan dinamika kuat melalui gamelan Bali, termasuk gamelan gong kebyar, gamelan selonding, gamelan gambang, gamelan semar pegulingan, dan gamelan jegog.

Instrumen inti mencakup kendang, bonang, saron, gender, gambang, kenong, gong ageng, demung, slenthem, kethuk, kempyang, terompong, dan ceng-ceng Bali. Alat gesek dan tiup meliputi rebab, suling bambu, seruling Bali, saluang, rabab pesisir, serunai, oboe Batak, serta nafiri.

Daerah lain memiliki kekhasan seperti angklung, calung, arumba, kolintang, talempong, sasando, tifa, tahuri, dan totobuang Maluku. Batak mengenal gondang sabangunan, gondang hasapi, gordang sambilan, musik gondang boru, dan musik gondang mula-mula, sedangkan Melayu menghadirkan gendang melayu, marwas, serta rebana biang.

Genre berkembang menjadi musik keroncong, musik gambang kromong, musik degung, musik patrol, musik karinding, musik taganing, musik totobuang, musik fu, dan musik doli-doli. Struktur komposisi dikenal melalui tabuh lelambatan, tabuh kreasi, tabuh gilak, tabuh telu, tabuh pat, dan tabuh nem.

Tari Tradisional Nusantara

Tari tradisional sangat beragam dari barat hingga timur Indonesia. Aceh memiliki tari Saman, Saman Gayo, tari Seudati, Seudati Inong, didong, dan rapa’i. Bali dikenal dengan tari Kecak, tari Pendet, tari Legong, tari Barong, tari Janger, tari Oleg Tamulilingan, tari Margapati, tari Kebyar Duduk, tari Manuk Rawa, serta tari Sanghyang Dedari.

Jawa memiliki tari Serimpi, tari Bedhaya, tari Bedhaya Ketawang, tari Srimpi Pandhelori, tari Gambyong, tari Gambyong Pareanom, tari Golek Menak, tari Bondan, tari Bondan Cindogo, tari Wireng, dan tari Lawung. Sementara itu, Jawa Timur menampilkan tari Reog Ponorogo, tari Klono Sewandono, tari Warok, tari Dadak Merak, serta tari Remo.

Sumatra menghadirkan tari Piring, tari Lilin, tari Payung, tari Tanggai, tari Gending Sriwijaya, tari Serampang Dua Belas, tari Indang, dan tari Pasambahan. Kalimantan memiliki tari Hudoq, topeng Hudoq, tari Enggang, tari Kancet Ledo, dan tari Kancet Papatai, sedangkan Papua mengenal tari Yospan, tari Wor, tari Sajojo, dan tari Perang Papua.

Teater Rakyat dan Pertunjukan Tradisional

Teater rakyat tumbuh dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Jawa mengenal ludruk, ketoprak, ubrug, dan longser, sedangkan Betawi memiliki lenong dan topeng Betawi. Sumatra Barat terkenal dengan randai, sementara Kalimantan memiliki mamanda.

Pertunjukan magis dan heroik hadir dalam reog Ponorogo, barongan Blora, singo barong, jaranan, kuda kepang, jathilan, ebeg, bantengan, dan sisingaan. Unsur spiritual tampak pada debus, serta simbol dualitas melalui barong dan rangda.

Kriya, Tekstil, dan Ragam Hias

Tekstil tradisional mencakup batik tulis, batik cap, batik pesisir, batik keraton, batik Lasem, batik Pekalongan, batik Madura, batik Cirebon, batik Betawi, batik Jambi, batik Papua, batik Bali, batik Banyumas, dan batik Garut. Motifnya meliputi motif parang, motif kawung, motif mega mendung, motif truntum, motif sekar jagad, motif pucuk rebung, motif tumpal, motif lereng, motif pilin, motif ceplok, motif sidomukti, motif sidoluhur, motif semen, motif tambal, motif nitik, motif buketan, motif hong, motif burung enggang, dan motif pohon hayat.

Tenun mencakup tenun ikat, songket, songket Palembang, songket Minangkabau, songket Sambas, tenun Troso, tenun Sumba, tenun Baduy, tenun songke Manggarai, tenun buna Timor, tenun ikat Flores, tenun ikat Sikka, tenun ikat Alor, serta tenun gringsing Tenganan. Sementara itu, daerah lain memiliki ulos, tapis Lampung, gringsing, lurik, sasirangan, besurek, dan kerawang Gayo.

Kerajinan lain mencakup anyaman bambu, anyaman rotan, anyaman pandan, anyaman lontar, anyaman purun, anyaman daun nipah, anyaman bidai, anyaman tas noken, dan noken Papua. Seni ukir berkembang melalui ukiran Jepara, ukiran Toraja, ukiran Asmat, ukir Toraja pa’ssura, ukir motif aso, ukir motif pucuk pakis, serta teknik pahat kayu tradisional, tatah sungging, dan sungging wayang.

Sastra, Aksara, dan Naskah Klasik

Warisan sastra mencakup sastra lisan Nusantara, cerita rakyat, legenda Nusantara, dan dongeng Nusantara seperti Malin Kundang, Sangkuriang, Timun Mas, Bawang Merah Bawang Putih, Si Pitung, Jaka Tarub, Ande-Ande Lumut, Keong Mas, dan Roro Jonggrang. Epos besar seperti Epos La Galigo dan I La Galigo menjadi bagian penting sejarah sastra.

Naskah klasik meliputi Kakawin Ramayana, Kakawin Bharatayuddha, Serat Centhini, Serat Wedhatama, Babad Tanah Jawi, Hikayat Hang Tuah, Gurindam Dua Belas, dan Syair Abdul Muluk. Tradisi tulis didukung oleh aksara Jawa, aksara Bali, aksara Lontara, aksara Rejang, aksara Batak, serta media lontar dan prasi Bali.

Upacara Adat dan Arsitektur Tradisional

Upacara adat mencakup upacara Ngaben, upacara Rambu Solo, upacara Kasada, upacara Tabuik, upacara Pasola, upacara Seren Taun, upacara Sekaten, upacara Grebeg, upacara Bau Nyale, upacara Mapalus, upacara Potong Gigi, upacara Tiwah, upacara Lompat Batu, upacara Belian, upacara Erau, upacara Bakar Batu, upacara Nyadran, upacara Tedak Siten, upacara Mitoni, dan upacara Turun Tanah.

Arsitektur tradisional tampak pada rumah gadang, tongkonan, honai, joglo, limasan, candi bentar, gapura candi bentar, serta konsep arsitektur Bali, arsitektur Minangkabau, dan arsitektur Toraja. Struktur adat lainnya meliputi lamin Dayak, bolon Batak, saoraja Bugis, rumah baileo, dan rumah Kariwari.

Seni tradisional Nusantara membentuk ekosistem budaya yang saling terhubung. Dari wayang kulit hingga tari Saman, dari gamelan Jawa hingga batik tulis, setiap unsur menyimpan nilai sejarah, filosofi, dan identitas kolektif. Dengan memahami keseluruhannya, kita tidak hanya melihat keindahan, tetapi juga menjaga warisan budaya agar tetap hidup di masa depan.