Sejarah & Geografi Tangerang Selatan: Dari Pemekaran hingga Perkembangan Wilayah
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tangerang Selatan merupakan salah satu kota yang berkembang pesat di wilayah metropolitan Jabodetabek. Kota ini dikenal sebagai kawasan penyangga Jakarta dengan pertumbuhan infrastruktur yang semakin modern. Artikel berikut mengulas sejarah, geografi, dan potensi Tangerang Selatan berdasarkan data resmi dan sumber terpercaya.
Sejarah Tangerang Selatan
Sejarah Kota Tangerang Selatan tidak dapat dilepaskan dari kebijakan pemekaran wilayah yang terjadi pada tahun 2008. Pembentukan daerah otonom baru ini dilakukan untuk memperpendek rentang kendali pemerintahan sehingga pemerataan pembangunan dan peningkatan pelayanan publik dapat diwujudkan. Pemekaran tersebut diharapkan mampu mempercepat kesejahteraan masyarakat di wilayah Tangerang bagian selatan melalui pengelolaan pemerintahan yang lebih efektif dan responsif.
Latar Belakang Pemekaran Kota
Berdasarkan skripsi berjudul Pemekaran Kota Tangerang Selatan dan Dampaknya Bagi Masyarakat Tahun 2008–2010 oleh Mohammad Ilham Saputro, pemekaran Kota Tangerang Selatan dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan pemerintahan yang lebih dekat dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Sebelum dimekarkan, wilayah ini—yang meliputi Ciputat, Pamulang, Serpong, dan Pondok Aren merupakan bagian dari Kabupaten Tangerang, sehingga urusan administrasi harus ditempuh dengan jarak yang relatif jauh.
Selain faktor jarak administratif, pemekaran juga dipicu oleh pertumbuhan penduduk yang signifikan di wilayah Tangerang bagian selatan, sementara Kabupaten Tangerang sebagai daerah induk memiliki wilayah yang sangat luas dengan jumlah penduduk yang besar. Kondisi tersebut mendorong tuntutan pembentukan daerah otonom baru agar pelayanan pemerintahan dan pengelolaan pembangunan dapat berjalan lebih efektif.
Proses Pembentukan Tangerang Selatan
Proses pembentukan Kota Tangerang Selatan berlangsung melalui tahapan administratif yang melibatkan pemerintah daerah hingga pemerintah pusat. Proses ini mencakup persetujuan DPRD kabupaten induk, pemerintah provinsi, serta peran DPR RI dan Menteri Dalam Negeri. Puncaknya ditandai dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008 yang disahkan pada 29 Oktober 2008, sehingga Tangerang Selatan resmi berdiri sebagai kota otonom pada tahun 2008.
Dampak Awal Pemekaran terhadap Masyarakat
Setelah pemekaran, masyarakat Kota Tangerang Selatan mulai merasakan perubahan dalam akses terhadap layanan publik serta tumbuhnya identitas dan rasa kebanggaan sebagai bagian dari wilayah otonom baru. Namun, dampak awal pemekaran ini juga diiringi oleh berbagai tantangan, terutama ketidakmerataan pembangunan dan ketimpangan akses layanan publik, sehingga manfaat pemekaran belum sepenuhnya dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Geografi Tangerang Selatan
Kota Tangerang Selatan merupakan kota termuda di Provinsi Banten yang resmi dimekarkan dari Kabupaten Tangerang pada tahun 2008. Berdasarkan dokumen Kota Tangerang Selatan dalam Angka 2025 oleh BPS Kota Tangerang Selatan, kota ini terletak di bagian timur Provinsi Banten dengan luas wilayah sekitar 164,85 km² atau 1,63 persen dari luas Provinsi Banten. Secara administratif, Tangerang Selatan terbagi ke dalam tujuh kecamatan dan 54 kelurahan.
Pembentukan Kota Tangerang Selatan disahkan melalui Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008 pada 29 Oktober 2008, setelah melalui proses panjang yang dimulai sejak wacana pembentukan Kota Cipasera pada tahun 2000. Wilayahnya berbatasan dengan Kota Tangerang dan DKI Jakarta di utara, Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta di timur, Provinsi Jawa Barat di selatan, serta Kabupaten Tangerang di barat. Kecamatan Pondok Aren menjadi wilayah terluas, sementara Kecamatan Setu merupakan yang terkecil.
Data Statistik Wilayah dan Kependudukan
Pada tahun 2024, jumlah penduduk Kota Tangerang Selatan mencapai sekitar 1,43 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,05 persen. Persebaran penduduk belum merata, dengan Kecamatan Pamulang sebagai wilayah berpenduduk terbanyak, diikuti oleh Kecamatan Pondok Aren dan Ciputat. Kepadatan penduduk tercatat sebesar 8.672 jiwa per km², sementara rasio jenis kelamin sebesar 99,3 menunjukkan jumlah penduduk perempuan sedikit lebih banyak dibanding laki-laki.
Perkembangan Wilayah dan Potensi Tangerang Selatan
Berdasarkan artikel Strategi Pengembangan Kawasan Jasa dan Perdagangan di Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan Studi Kasus : Jalan Pamulang Raya, Kelurahan Pamulang Barat oleh Nasrudin Dewang dkk, dari sisi sektor perdagangan dan jasa, wilayah ini memiliki potensi yang cukup besar, terutama melalui kawasan-kawasan komersial seperti BSD, Bintaro, Pamulang, dan Ciputat yang berkembang sebagai pusat jasa, perdagangan, serta real estat dan industri. Di antara wilayah tersebut, Kecamatan Pamulang termasuk salah satu kawasan yang menonjol dan memiliki peluang besar dalam pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa.
Kesimpulan
Tangerang Selatan merupakan kota hasil pemekaran yang kini berkembang pesat sebagai bagian penting dari kawasan metropolitan Jabodetabek. Dengan sejarah pemekaran yang kuat, letak geografis strategis, serta potensi ekonomi yang terus bertumbuh, kota ini menawarkan banyak peluang bagi masyarakat dan investor. Pemerataan pembangunan serta perkembangan infrastruktur menjadi kunci utama kemajuan Tangerang Selatan ke depan.
Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.