Konten dari Pengguna

Sejarah dan Asal Usul Tari Lengger: Mengenal Kesenian Tradisional Banyumas

J

Jejak Sejarah

Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tari lengger tengah ditampilkan pada sebuah pesta pernikahan. Sumber foto: pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Tari lengger tengah ditampilkan pada sebuah pesta pernikahan. Sumber foto: pixabay.com

Tari Lengger merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional dari Banyumas yang dikenal lewat keindahan gerak serta nuansa budaya lokalnya. Kesenian ini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat setempat, baik sebagai hiburan maupun sebagai sarana upacara. Melalui perjalanan waktu, Tari Lengger terus berkembang dengan tetap mempertahankan identitas uniknya.

Pengertian dan Ciri Khas Tari Lengger

Menurut jurnal Dinamika Kesenian Lengger Banyumas pada Tahun 1965-1998 oleh Evi Pratiwi, Tari Lengger adalah tarian rakyat yang berkembang di Banyumas dengan ciri khas gerakan lincah. Tari ini biasanya ditampilkan dalam acara adat, pesta panen, hingga perayaan tertentu.

Apa Itu Tari Lengger?

Tari Lengger dikenal sebagai tarian yang menampilkan penari perempuan, meskipun kadang juga dibawakan oleh laki-laki yang berdandan seperti perempuan. Gerakannya dinamis dan ekspresif, memperlihatkan kegembiraan serta kebersamaan.

Ciri Khas Gerakan dan Musik Pengiring

Gerakan Tari Lengger didominasi oleh hentakan kaki, putaran tubuh, dan gerakan tangan yang lembut. Musik pengiringnya menggunakan gamelan Banyumasan yang memberikan irama khas dan semangat pada setiap penampilan.

Sejarah Tari Lengger di Banyumas

Tari Lengger memiliki sejarah panjang dalam kebudayaan Banyumas. Kesenian ini dipercaya sudah hadir sejak masa kerajaan, lalu berkembang mengikuti perubahan zaman.

Awal Mula Kemunculan Tari Lengger

Tari Lengger muncul sebagai hiburan rakyat dan lambat laun menjadi bagian dari upacara adat. Awalnya, tarian ini difungsikan untuk meminta kesuburan dan keberkahan dalam kehidupan masyarakat agraris.

Perkembangan Tari Lengger dari Masa ke Masa

Seiring berjalannya waktu, Tari Lengger tetap bertahan meskipun menghadapi berbagai tantangan sosial dan politik.

Dinamika Tahun 1965-1998

Pada era 1965-1998, menurut Evi Pratiwi, Tari Lengger mengalami pasang surut namun tetap dilestarikan oleh komunitas seni di Banyumas.

Asal Usul Nama dan Nilai Filosofis Tari Lengger

Nama ‘Lengger’ tidak lepas dari filosofi dan nilai budaya yang dipegang masyarakat Banyumas.

Makna Nama ‘Lengger’

Kata ‘Lengger’ diyakini berasal dari kata ‘eling ngger’, yang berarti ajakan untuk selalu mengingat pesan moral dan nilai kehidupan. Nama ini mencerminkan pesan agar penonton maupun penari dapat mengambil hikmah dari pertunjukan.

Nilai Budaya dan Filosofi dalam Tari Lengger

Evi Pratiwi menyatakan Tari Lengger mengandung pesan tentang pentingnya kebersamaan, kesederhanaan, dan penghormatan pada tradisi. Nilai-nilai ini diwariskan secara turun-temurun dan tetap dijaga hingga sekarang.

Peran dan Fungsi Tari Lengger dalam Masyarakat Banyumas

Tari Lengger memiliki peran penting dalam membangun kebersamaan dan identitas masyarakat Banyumas.

Fungsi Sosial dan Ritual Tari Lengger

Tari ini kerap digunakan sebagai bagian dari ritual adat, perayaan panen, hingga acara kemasyarakatan. Fungsi sosialnya terasa kuat karena mampu mempererat hubungan antar masyarakat.

Perubahan Peran Seiring Waktu

Seiring perkembangan zaman, peran Tari Lengger ikut bertransformasi. Kini, tarian ini juga menjadi daya tarik wisata dan media pelestarian budaya lokal. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, perubahan tersebut menunjukkan adaptasi Tari Lengger terhadap kebutuhan dan zaman.

Kesimpulan

Tari Lengger adalah warisan budaya Banyumas yang memiliki sejarah panjang dan filosofi mendalam. Lewat ciri khas gerakan, musik, serta pesan moralnya, tarian ini tetap lestari sebagai bagian identitas masyarakat setempat. Pelestarian Tari Lengger menjadi wujud nyata kecintaan terhadap kekayaan budaya Indonesia.

Ditinjau oleh Fakhri Nurzaman