Konten dari Pengguna

Sejarah dan Fungsi Musik Panting di Kalimantan Selatan

J

Jejak Sejarah

Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalimantan sangat kaya akan budayanya. Selain pakaian adat, ada awalt musik tradisional panting. Sumber foto: pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Kalimantan sangat kaya akan budayanya. Selain pakaian adat, ada awalt musik tradisional panting. Sumber foto: pixabay.com

Musik Panting adalah salah satu warisan seni yang hidup di tengah masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan. Instrumen ini memiliki peran yang kuat tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari tradisi dan identitas lokal. Melihat sejarah dan fungsinya, musik Panting memperlihatkan kekayaan budaya yang tumbuh bersama masyarakat.

Sejarah Musik Panting di Kalimantan Selatan

Musik Panting muncul dari tradisi masyarakat Banjar yang gemar berseni dan berkesenian. Menurut jurnal Musik Panting di Desa Barikin Kalimantan Selatan: Kemunculan, Keberadaan dan Perubahannya oleh Lupi Anderiani, awal kemunculan musik Panting diperkirakan pada tahun 1980-an dan kemudian dikenal di beberapa wilayah di Kalimantan Selatan.

Asal Usul dan Kemunculan Musik Panting

Panting awalnya berkembang sebagai alat musik petik yang digunakan masyarakat pedesaan untuk mengisi waktu luang. Suara khasnya dihasilkan dari teknik petikan yang sederhana, namun menghasilkan irama yang menarik.

Perkembangan dan Transformasi Musik Panting

Seiring waktu, musik Panting mengalami perubahan dalam cara dimainkan dan jenis lagu yang dibawakan. Selain lagu tradisional, Panting kini digunakan untuk mengiringi lagu-lagu modern sehingga tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

Musik Panting di Desa Barikin: Awal Mula dan Penyebarannya

Mengutip Lupi Anderiani, Desa Barikin dikenal sebagai salah satu pusat awal perkembangan musik Panting. Penyebarannya ke daerah lain dipengaruhi oleh antusiasme masyarakat yang ingin menjaga tradisi lokal tetap hidup.

Fungsi Musik Panting dalam Kehidupan Masyarakat

Keberadaan musik Panting tidak lepas dari fungsi sosial dan budaya yang melekat erat pada keseharian masyarakat Banjar. Instrumen ini menjadi bagian dari berbagai momen penting dalam kehidupan.

Fungsi Sosial dan Budaya Musik Panting

Panting berperan sebagai media hiburan rakyat dan mempererat hubungan sosial antar warga. Menurut Lupi Anderiani, keberadaan Panting membantu menciptakan suasana keakraban dan rasa kebersamaan di tengah masyarakat.

Peran Musik Panting dalam Upacara dan Tradisi Lokal

Panting sering dimainkan dalam acara pernikahan, khitanan, dan perayaan adat. Musik ini menjadi pengiring yang menambah nilai sakral dan meriah pada setiap upacara.

Perubahan Fungsi Musik Panting di Era Modern

Seiring kemajuan zaman, fungsi Panting meluas ke ranah pertunjukan seni dan komersial. Selain tampil di acara tradisional, Panting juga hadir di panggung hiburan modern.

Upaya Pelestarian dan Tantangannya

Agar musik Panting tetap lestari, berbagai upaya dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah. Namun, tantangan tetap ada, terutama dari perubahan selera generasi muda.

Upaya Pelestarian oleh Masyarakat dan Pemerintah

Pelatihan, festival, hingga edukasi di sekolah menjadi strategi utama dalam menjaga eksistensi Panting. Dukungan pemerintah juga diperlukan untuk memperkuat identitas budaya ini.

Tantangan dalam Menjaga Eksistensi Musik Panting

Tekanan dari musik modern dan minimnya regenerasi pemain muda menjadi kendala utama. Kesadaran akan pentingnya warisan budaya perlu terus ditingkatkan agar Panting tidak hilang dimakan waktu.

Kesimpulan

Musik Panting di Kalimantan Selatan memiliki sejarah panjang dan fungsi penting dalam kehidupan masyarakat. Instrumen ini tidak hanya memperkaya tradisi, tetapi juga menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Dengan upaya pelestarian yang konsisten, Panting dapat terus mewarnai budaya Banjar untuk generasi mendatang.

Ditinjau oleh Fakhri Nurzaman