Semboyan Bhinneka Tunggal Ika Berasal dari Kitab Sutasoma
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang tertera pada lambang negara Garuda Pancasila ternyata memiliki akar sejarah panjang. Kata-kata ini bukan lahir dari era kemerdekaan, melainkan berasal dari kitab kuno peninggalan Kerajaan Majapahit yang ditulis pada abad ke-14.
Memahami asal-usul semboyan ini penting agar kita bisa menghayati makna persatuan dalam keberagaman dengan lebih dalam. Dengan mengetahui konteks historisnya, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bisa diterapkan secara lebih bermakna dalam kehidupan berbangsa.
Asal-Usul Semboyan Bhinneka Tunggal Ika
Menurut artikel Kajian Analitik terhadap Semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" oleh I Nyoman Pursika, semboyan Bhinneka Tunggal Ika berasal dari Kitab Sutasoma, sebuah kakawin karya Mpu Tantular yang ditulis pada masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14. Kitab ini mengandung ajaran moral, keagamaan, dan nilai-nilai toleransi yang mencerminkan kehidupan masyarakat Majapahit yang majemuk.
Ungkapan Bhinneka Tunggal Ika terdapat pada pupuh 139 bait ke-5 dengan bunyi sebagai berikut:
Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.
Bait tersebut menjelaskan bahwa ajaran Buddha dan Siwa memang memiliki perbedaan, tetapi pada hakikatnya keduanya bermuara pada satu kebenaran. Melalui ajaran ini, Mpu Tantular menegaskan pentingnya sikap saling menghormati di tengah perbedaan keyakinan.
Latar Belakang Lahirnya Semboyan Bhinneka Tunggal Ika
Lahirnya semboyan Bhinneka Tunggal Ika tidak dapat dilepaskan dari kondisi Kerajaan Majapahit yang dihuni masyarakat dengan latar belakang keagamaan yang beragam. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, penganut Hindu dan Buddha hidup berdampingan dalam suasana yang relatif harmonis. Melalui Kitab Sutasoma, Mpu Tantular menyampaikan bahwa perbedaan kepercayaan tidak seharusnya menjadi penyebab perpecahan, melainkan dapat menjadi dasar terciptanya kehidupan yang damai dan saling menghormati.
Makna dan Relevansi Bhinneka Tunggal Ika sebagai Semboyan Bangsa
Secara filosofis, Bhinneka Tunggal Ika berarti "berbeda-beda tetapi tetap satu". Setelah diangkat sebagai semboyan negara Indonesia, maknanya tidak lagi terbatas pada toleransi antara Hindu dan Buddha, tetapi berkembang menjadi prinsip persatuan bangsa di tengah keberagaman suku, agama, ras, budaya, bahasa, dan antargolongan.
Indonesia merupakan negara yang memiliki ratusan kelompok etnis, lebih dari 700 bahasa daerah, serta beragam agama, budaya, dan tradisi. Dalam kondisi tersebut, Bhinneka Tunggal Ika menjadi landasan penting untuk menjaga persatuan tanpa menghilangkan identitas masing-masing kelompok.
Penerapan Nilai-Nilai Bhinneka Tunggal Ika
Nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui berbagai sikap, antara lain:
- Menghormati perbedaan agama, suku, budaya, bahasa, dan adat istiadat.
- Menjaga persatuan dengan mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
- Menyelesaikan perbedaan melalui dialog, musyawarah, dan sikap saling menghargai.
- Menolak segala bentuk diskriminasi, intoleransi, serta tindakan yang mengancam persatuan bangsa.
- Berpartisipasi aktif dalam menciptakan kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan saling menghormati.
Relevansi Bhinneka Tunggal Ika di Era Digital
Di era digital, semangat Bhinneka Tunggal Ika semakin penting untuk diterapkan. Arus informasi yang sangat cepat melalui media sosial dapat menjadi sarana memperkuat persatuan, tetapi juga berpotensi memicu penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi yang mengancam kerukunan.
Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki literasi digital yang baik, bersikap kritis terhadap informasi yang diterima, serta menggunakan media sosial secara bijaksana. Dengan demikian, nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika tetap relevan sebagai pedoman dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman yang terus berkembang.
Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.
Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia