Tari Sekapur Sirih: Sejarah dan Estetika sebagai Tarian Penyambutan
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tari Sekapur Sirih dikenal luas sebagai salah satu simbol keramahan masyarakat Jambi. Tarian ini sering tampil dalam acara resmi untuk menyambut tamu penting. Selain memancarkan keindahan gerak, Tari Sekapur Sirih juga sarat nilai budaya yang terus dijaga hingga kini.
Sejarah Tari Sekapur Sirih
Tari Sekapur Sirih memiliki akar tradisi yang kuat di Jambi. Menurut jurnal Estetika Tari Sekapur Sirih sebagai Tari Penyambutan Tamu di Kota Jambi oleh Mhike Suryawati, tarian ini berkembang sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang datang ke wilayah Jambi.
Asal Usul dan Perkembangan Tari Sekapur Sirih
Tari Sekapur Sirih berasal dari kebiasaan masyarakat Jambi yang menyambut tamu dengan sirih sebagai simbol persahabatan. Menurut Mhike Suryawati, tarian ini diciptakan oleh Firdaus Chatap pada 1962. Seiring waktu, tradisi ini diolah menjadi pertunjukan tari yang khas dan mulai diperkenalkan dalam berbagai upacara resmi.
Fungsi Tari Sekapur Sirih dalam Masyarakat Jambi
Masyarakat Jambi memanfaatkan Tari Sekapur Sirih sebagai jembatan untuk mempererat hubungan sosial. Tarian ini menjadi bagian penting dalam berbagai kegiatan adat, mulai dari pernikahan hingga penyambutan tamu negara. Seperti dijelaskan dalam jurnal oleh Mhike Suryawati, tarian ini merupakan simbol sikap keterbukaan masyarakat Jambi dalam menyambut tamu serta menjadi visualisasi penghormatan kepada tamu yang datang.
Estetika Tari Sekapur Sirih
Estetika dalam Tari Sekapur Sirih terlihat dari keindahan gerak, kostum, serta penggunaan properti. Setiap elemen memiliki filosofi yang mendalam dan menonjolkan ciri khas budaya Jambi.
Unsur Gerak dan Makna Filosofis Tari Sekapur Sirih
Gerakan dalam tarian ini mengalir lembut dan penuh penghormatan. Gerak tangan dan langkah kaki dibuat selaras untuk menggambarkan keanggunan serta ketulusan menyambut tamu.
Kostum dan Properti dalam Tari Sekapur Sirih
Penari menggunakan busana tradisional berwarna cerah, dilengkapi selendang dan dulang berisi sirih. Setiap properti dipilih untuk memperkuat pesan keramahan dan kehangatan.
Peran Tari Sekapur Sirih sebagai Tarian Penyambutan Tamu
Tarian ini menjadi penanda dimulainya sebuah acara penting. Kehadirannya diyakini membawa keberkahan dan mempererat hubungan antara tuan rumah dan tamu. Menurut analisis Mhike Suryawati dalam penelitiannya, estetika Tari Sekapur Sirih menekankan rasa hormat yang tinggi terhadap tamu.
Tari Sekapur Sirih dalam Konteks Modern
Di tengah perkembangan zaman, Tari Sekapur Sirih tetap dilestarikan dan terus beradaptasi. Generasi muda mulai mempelajari dan menampilkan tarian ini dalam berbagai festival budaya.
Pelestarian dan Adaptasi Tari Sekapur Sirih Saat Ini
Berbagai komunitas seni di Jambi aktif mengadakan pelatihan dan pertunjukan Tari Sekapur Sirih. Inovasi gerak dan kostum pun mulai diperkenalkan agar tetap relevan dengan zaman sekarang. Berdasarkan jurnal Estetika Tari Sekapur Sirih sebagai Tari Penyambutan Tamu di Kota Jambi, peran komunitas seni dan sekolah sangat penting dalam menjaga eksistensi Tari Sekapur Sirih sebagai warisan budaya.
Kesimpulan
Tari Sekapur Sirih tidak hanya memperlihatkan keindahan gerak, tetapi juga menjadi simbol keramahan masyarakat Jambi. Dengan sejarah panjang dan nilai estetika yang kuat, tarian ini terus dijaga agar tetap hidup di tengah masyarakat modern. Upaya pelestarian yang dilakukan membuktikan bahwa Tari Sekapur Sirih tetap relevan sebagai identitas budaya Jambi.
Ditinjau oleh Fakhri Nurzaman