Teknologi Pembuatan Sasirangan dan Nilai Kearifan Lokal dalam Setiap Motifnya
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sasirangan dikenal sebagai kain tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Kain ini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Banjar, baik sebagai penanda identitas maupun sarana pelestarian budaya. Seiring perkembangan zaman, teknologi pembuatan Sasirangan dan nilai kearifan lokal yang terkandung di dalam setiap motifnya tetap dijaga dan diwariskan ke generasi berikutnya.
Mengenal Sasirangan sebagai Warisan Budaya Banjar
Menurut jurnal Teknologi Proses Sasirangan dengan Variasi Teknik Jelujur oleh Eustasia Sri Murwati dkk., Sasirangan sebagai produk lokal yang memiliki nilai estetika. Kain ini tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dalam berbagai upacara adat.
Sejarah dan Makna Filosofis Sasirangan
Asal-usul Sasirangan erat kaitannya dengan sejarah masyarakat Banjar. Setiap motif yang dihasilkan memiliki makna filosofis tertentu, mulai dari harapan akan keselamatan hingga simbol kekuatan dan perlindungan. Motif-motif ini diwariskan turun-temurun, memperkuat identitas budaya setempat.
Ragam Motif dan Fungsinya dalam Kehidupan Masyarakat
Motif Sasirangan sangat beragam, seperti motif naga balimbur, bayam raja, atau gigi haruan. Setiap motif memiliki fungsi tersendiri, mulai dari digunakan sebagai pakaian adat hingga kain penanda status sosial atau pelengkap ritual keagamaan.
Teknologi Proses Pembuatan Sasirangan
Perkembangan teknologi dalam pembuatan Sasirangan menjadikan prosesnya lebih efisien dan beragam. Salah satu inovasi penting adalah penggunaan teknik jelujur, yang memperkaya ragam motif dan meningkatkan kualitas kain.
Teknik Jelujur sebagai Inovasi Proses Sasirangan
Teknik jelujur dilakukan dengan menjahit kain mengikuti pola tertentu, kemudian diwarnai sehingga menghasilkan motif khas. Proses ini meliputi beberapa tahapan, yakni:
- Membuat pola di atas kain
- Menjahit pola dengan benang
- Mencelupkan kain ke dalam pewarna alami atau sintetis
- Melepas benang untuk menampilkan motif
Pengaruh Teknologi terhadap Mutu dan Variasi Produk
Menurut Eustasia Sri Murwati dkk., pemanfaatan teknik jelujur memberikan variasi motif yang lebih banyak serta efisiensi waktu produksi.
Nilai Kearifan Lokal dalam Setiap Motif Sasirangan
Motif Sasirangan tidak hanya memperindah kain, tetapi juga mengandung nilai kearifan lokal yang diwariskan melalui keluarga dan masyarakat.
Penanaman Nilai Lokal Melalui Sasirangan di Keluarga
Dalam keluarga Banjar, pengenalan Sasirangan menjadi bagian dari pendidikan karakter. Strategi yang digunakan antara lain:
- Menceritakan sejarah dan filosofi setiap motif
- Melibatkan anak dalam proses pembuatan
- Menggunakan Sasirangan dalam kegiatan sehari-hari
Sasirangan sebagai Identitas dan Kebanggaan Budaya
Seperti yang dijelaskan dalam jurnal Strategi Penanaman Nilai Kearifan Lokal Motif Sasirangan dalam Keluarga di Kampung Sasirangan Kota Banjarmasin oleh Melly Agustina Permatasari dkk., Sasirangan berperan sebagai media edukasi nilai lokal dan sumber kebanggaan budaya. Kain ini menegaskan jati diri masyarakat Banjar di tengah arus modernisasi.
Kesimpulan
Sasirangan merupakan salah satu warisan budaya yang kaya makna dan sarat nilai kearifan lokal. Inovasi dalam teknologi pembuatan Sasirangan, seperti teknik jelujur, mampu memperkaya motif dan menjaga kualitas produk. Melalui kain ini, masyarakat Banjar terus menanamkan identitas dan kebanggaan budaya kepada generasi muda.
Ditinjau oleh Fakhri Nurzaman