Konten dari Pengguna

Tokoh 3 Serangkai: Pelopor Pergerakan Nasional Indonesia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) anggota Indische Partij. Foto: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) anggota Indische Partij. Foto: Pixabay.

Awal abad ke-20 menjadi masa penting bagi pergerakan nasional di Hindia Belanda. Pada periode tersebut, muncul kelompok intelektual pribumi yang berani menentang kebijakan kolonial melalui organisasi politik modern. Salah satu kelompok paling berpengaruh adalah Tiga Serangkai yang terdiri dari Ernest Francois Eugene Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat yang kemudian dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara. Ketiga tokoh ini memainkan peran krusial dalam membangkitkan kesadaran nasionalisme di tengah masyarakat Hindia Belanda melalui pemikiran progresif dan keberanian mengkritik pemerintah kolonial.

Latar Belakang Munculnya Tiga Serangkai dalam Pergerakan Nasional

Politik Etis melahirkan kaum terpelajar

Menurut artikel Sejarah Berdirinya Indische Partij (Partai Hindia) pada Tahun 1912 oleh Anah Nurhasanah dkk., berdirinya Tiga Serangkai tidak dapat dipisahkan dari kondisi sosial-politik Hindia Belanda yang penuh ketimpangan. Kebijakan kolonial menempatkan masyarakat berdasarkan hierarki ras sehingga kaum pribumi dan keturunan Indo mengalami berbagai bentuk diskriminasi dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, maupun politik. Situasi tersebut mendorong munculnya kesadaran untuk membangun organisasi yang memperjuangkan persamaan hak dan kemerdekaan.

Indische Partij didirikan 25 Desember 1912

Sebagai jawaban atas ketidakadilan tersebut, Ernest Douwes Dekker, dr. Cipto Mangunkusumo, dan Soewardi Soerjaningrat mendirikan Indische Partij di Bandung pada 25 Desember 1912. Organisasi ini menjadi partai politik pertama di Hindia Belanda yang secara terbuka memperjuangkan nasionalisme dan kemerdekaan Indonesia.

Profil singkat Tiga Serangkai

Ernest Douwes Dekker merupakan tokoh keturunan Indo yang vokal menentang diskriminasi kolonial. Dr. Cipto Mangunkusumo adalah dokter lulusan STOVIA yang dikenal kritis terhadap kebijakan pemerintah Hindia Belanda, sedangkan Soewardi Soerjaningrat merupakan seorang bangsawan Jawa yang aktif sebagai jurnalis dan kemudian menjadi pelopor pendidikan nasional. Perbedaan latar belakang tersebut justru memperkuat kerja sama mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Disebut Tiga Serangkai

Ketiga tokoh tersebut kemudian dikenal sebagai Tiga Serangkai karena memiliki visi yang sama dalam memperjuangkan persamaan hak, nasionalisme, dan kemerdekaan. Melalui Indische Partij, mereka mengembangkan gagasan persatuan yang melampaui batas ras, agama, maupun golongan.

Perjuangan dan Kontribusi Tiga Serangkai

Indische Partij sebagai partai politik pertama

Indische Partij menjadi organisasi politik pertama di Hindia Belanda yang secara terbuka menyuarakan cita-cita kemerdekaan. Organisasi ini bertujuan membangkitkan nasionalisme sekaligus menyatukan seluruh penduduk Hindia Belanda tanpa membedakan latar belakang ras maupun agama.

Perjuangan melalui media massa

Untuk menyebarkan gagasan nasionalisme, Tiga Serangkai memanfaatkan surat kabar, terutama De Express, sebagai sarana menyampaikan kritik terhadap kebijakan kolonial Belanda. Melalui berbagai artikel dan propaganda politik, mereka berupaya membangkitkan kesadaran rakyat akan pentingnya persatuan dan kemerdekaan.

Als Ik Eens Nederlander Was

Salah satu tulisan yang paling berpengaruh adalah Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) karya Soewardi Soerjaningrat pada 1913. Tulisan tersebut mengkritik keras perayaan kemerdekaan Belanda yang diselenggarakan di tanah jajahan, sementara rakyat Hindia Belanda masih hidup dalam penjajahan.

Pengasingan Tiga Serangkai

Aktivitas politik dan kritik yang disampaikan Tiga Serangkai dianggap mengancam kekuasaan kolonial. Akibatnya, pemerintah Hindia Belanda membubarkan Indische Partij pada tahun 1913 dan mengasingkan para pendirinya ke Belanda. Meskipun organisasi tersebut berumur singkat, gagasan yang mereka perjuangkan terus memengaruhi perkembangan nasionalisme Indonesia.

Warisan Pemikiran Tiga Serangkai

Warisan terbesar Tiga Serangkai terletak pada gagasan nasionalisme yang inklusif. Mereka menekankan bahwa perjuangan kemerdekaan harus melibatkan seluruh penduduk Hindia Belanda tanpa membedakan ras, agama, maupun asal-usul. Pemikiran tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi berbagai organisasi pergerakan nasional pada masa berikutnya.

Peran Pendidikan

Setelah masa pengasingan, Soewardi Soerjaningrat semakin meyakini bahwa pendidikan merupakan sarana terbaik untuk membangun bangsa. Keyakinan tersebut diwujudkan melalui pendirian Perguruan Taman Siswa pada tahun 1922 yang bertujuan menanamkan semangat nasionalisme, kemandirian, dan cinta tanah air kepada generasi muda.

Pengaruh terhadap Indonesia

Pengaruh pemikiran Tiga Serangkai terus terasa dalam perjalanan bangsa Indonesia. Melalui perjuangan di bidang politik, pers, dan pendidikan, mereka berhasil meletakkan dasar bagi berkembangnya nasionalisme Indonesia sekaligus menginspirasi lahirnya gerakan-gerakan yang semakin tegas menuntut kemerdekaan.

Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.

Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia