Konten dari Pengguna

Gamelan Sekaten Jogja: Pengertian, Sejarah, dan Tradisi

Jendela Dunia

Jendela Dunia

Menyajikan informasi untuk menginspirasi dan menambah wawasan pembaca

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jendela Dunia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gamelan Sekaten. Foto hanya ilustrasi, bukan sebenarnya. Sumber: Pexel/Maxime Levrel
zoom-in-whitePerbesar
Gamelan Sekaten. Foto hanya ilustrasi, bukan sebenarnya. Sumber: Pexel/Maxime Levrel

Gamelan sekaten atau bisa juga disebut gamelan sekati merupakan salah satu alat musik sakral milik Keraton Jogja. Gamelan ini berbeda dengan alat musik Jawa pada umumnya. Ada nilai historis yang dimiliki oleh gamelan ini sehingga menjadikannya menarik diketahui.

Gamelan sekati juga tidak bisa sembarang dimainkan. Ada waktu tertentu untuk bisa memainkan seperangkat alat musik Jawa ini.

Pengertian dan Sejarah Gamelan Sekaten Jogja

Gamelan Sekaten. Foto hanya ilustrasi, bukan sebenarnya. Sumber: Pixabay

Gamelan sekati terdiri dari dua kata, yaitu gamelan sebagai alat musik Jawa dan sekati atau sekatan, sebuah tradisi setiap Maulid Nabi.

Dikutip dari Kamus Sejarah dan Budaya Indonesia, Putri Fitria (2023: 55), gamelan merupakan alat musik tradisional Indonesia yang di dalamnya terdapat gong yang dipukul. Gamelan berasal dari kata gamel, yang dalam Bahasa Jawa, artinya menabuh.

Gamelan disebut juga sebagai salah satu perwujudan seni asli Indonesia. Instrumennya dikembangkan hingga bentuknya seperti sekarang ini.

Pada masa Kerajaan Majapahit, yaitu abad ke-16, gamelan dipercaya telah diekspor dari Jawa dan Bali ke pulau-pulau lain.

Adapun pengertian gamelan sekaten, sebagaimana dikutip dari buku Kraton Jogja The History and Cultural Heritage, (2002:52) adalah gamelan khusus yang dimainkan dalam upacara tradisi Sekaten di Jogja.

Sekaten pertama kali dimulai di masa Kesultanan Demak untuk merayakan bulan Maulud atau bulan kelahiran Nabi Muhammad.

Gamelan sekati milik Keraton Jogja ini terdiri dari dua perangkat dan dinamakan dengan Kanjeng Kyai Gunturmadu dan Guntur Sari.

Gamelan ini pada awalnya merupakan pusaka milik Kerajaan Mataram dan dibuat di tahun 1644 M pada masa pemerintahan Sultan Agung.

Tradisi Gamelan Sekaten Jogja

instagram embed

Menurut tradisi, gamelan sekati ini hanya khusus dimainkan saat perayaan Sekaten di Keraton Jogja. Dikutip dari kratonjogja.id, saat Sekaten, maka kedua gamelan ditabuh oleh pada abdi dalem Keraton Jogja secara bergantian.

Gamelan sekati ini ditabuh dari mulai tanggal 6 hingga 12 Mulud menurut penanggalan Jawa atau tujuh hari berturut-turut.

Gamelan sekati ditabuh di halaman Masjid Gedhe Kauman dari pagi hingga malam, dan hanya berhenti ketika masuk waktu sholat.

Sebelum dimainkan, gamelan sekati dijamas atau dicuci terlebih dahulu. Apabila perayaan Sekaten sudah selesai, maka gamelan sekati akan dikembalikan lagi ke Keraton Jogja dengan prosesi khusus yang dinamakan Kondur Gongso.

Baca juga: Harga Tiket Masuk Kraton Jogja dan Rute Perjalanannya

Sebagai alat musik Jawa, gamelan sekaten menyimpan banyak nilai sejarah dan tradisi yang menarik diketahui. Bagi yang ingin mendengar alunan dari gamelan sekati ini, maka bisa datang ke Masjid Gedhe Kauman setiap tanggal 6 Mulud. (TIA)