Konten dari Pengguna

Gua Maria Mojosongo Solo: Sejarah, Panduan Ziarah, Rute, hingga Aktivitasnya

Jendela Dunia

Jendela Dunia

Menyajikan informasi untuk menginspirasi dan menambah wawasan pembaca

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jendela Dunia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gua Maria Mojosongo. Foto hanyalah ilustrasi, bukan tempat yang sebenarnya. Sumber: Unsplash/DDP
zoom-in-whitePerbesar
Gua Maria Mojosongo. Foto hanyalah ilustrasi, bukan tempat yang sebenarnya. Sumber: Unsplash/DDP

Gua Maria Mojosongo jadi salah satu tempat ziarah yang banyak didatangi umat Katolik di Solo dan sekitarnya. Suasananya tenang, penuh dengan pepohonan, dan terasa menyejukkan sejak pertama kali melangkah masuk.

Tempat ini menjadi tujuan banyak orang untuk berdoa dan berziarah. Ternyata, selain itu, juga ada cerita panjang yang menarik tentang bagaimana semuanya bermula.

Daya Tarik Gua Maria Mojosongo Solo dan Aktivitas yang Bisa Dilakukan

instagram embed

Dulu, tempat ini cuma tanah lapang penuh belukar dengan salib besi di tengahnya, dan sering dipakai untuk doa rosario. Tahun 1980, Rm. Matius Puspo Sudarmo, Pr. mulai ingin membangun tempat ziarah di sini.

Gua Maria Mojosongo ini punya semboyan Per Mariam Ad Jesum, artinya “menuju Yesus lewat Bunda Maria”. Di pintu masuk ada patung Maria setinggi 2 meter. Di tengah bangunan tertulis Iesus Hominum Salvator, artinya Yesus Sang Juru Selamat.

Bangunan utamanya ditopang tujuh pilar yang mewakili tujuh sakramen gereja. Di sudut taman kecil, ada kolam dan patung Yesus sedang berlutut.

Ada banyak aktivitas ziarah yang bisa dilakukan di Gua Maria ini, antara lain sebagai berikut.

1. Berdoa Rosario

Banyak pengunjung datang khusus untuk berdoa rosario di sini. Suasananya tenang dengan pepohonan yang rindang, jadi terasa lebih khusyuk.

2. Jalan Salib

Di area ini ada jalur jalan salib yang mengelilingi gua dalam 14 pemberhentian. Jaraknya tidak terlalu panjang sehingga lebih mudah ditempuh.

3. Adorasi dan Meditasi

Ada ruang adorasi yang hening sehingga peziarah bisa lebih fokus saat bersimpuh atau merenung. Tempat ini cocok untuk yang ingin mengambil waktu sendiri, berdiam diri, dan merasakan damainya doa dalam hati.

4. Ikut Misa yang Diadakan secara Berkala

Di sini juga sering diadakan misa, sebagaimana diketahui dari akun Instagram @guamariamojosongo. Biasanya di hari-hari tertentu seperti Jumat pertama atau saat bulan Maria.

Lokasi, Rute, dan Jam Operasional Gua Maria Mojosongo

instagram embed

Kalau punya rencana ziarah ke Gua Maria Mojosongo, lokasinya cukup mudah dijangkau. Tempat ini berada di Kampung, Jalan Debegan, RT 4 RW 5, Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta. Letaknya masih di dalam kota, tidak terlalu jauh dari pusat keramaian.

Rute yang bisa ditempuh adalah sebagai berikut, bersumber dari Google Maps:

  1. Dari area Solo Square, di Jalan Slamet Riyadi, arahkan kendaraan ke timur sejauh 200 meter.

  2. Belok kiri ke Jalan Raya Solo – Yogyakarta dan ikuti jalan sekitar 300 meter.

  3. Ambil jalur melalui Jalan Basuki Rahmat menuju Jalan A. Yani di daerah Kerten, jaraknya sekitar 1,2 km.

  4. Lanjutkan lewat Jalan Ki Mangun Sarkoro dan Jalan Sumpah Pemuda menuju Jalan Agung I di Mojosongo.

  5. Lurus sebentar sekitar 400 meter untuk sampai di gerbang Gua Maria Mojosongo.

Jalannya sudah bagus dan ada papan penunjuk yang mempermudah. Masuk ke sini tidak ada tiket. Hanya perlu siapkan uang untuk parkir saja. Tempat ini juga buka selama 24 jam penuh.

Baca juga: Gua Maria Tritis Gunung Kidul: Sejarah, Aktivitas, Lokasi, dan Akses

Bagi umat Katolik, berkunjung ke Gua Maria Mojosongo tidak hanya untuk berziarah saja, tetapi juga untuk menenangkan hati dan pikiran. Suasananya begitu mendukung untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta. (CR)