Pengertian, Ciri-Ciri, dan Contoh Pantun Jenaka

Menyajikan informasi untuk menginspirasi dan menambah wawasan pembaca
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Jendela Dunia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengertian pantun merupakan jenis puisi lama yang pada setiap baitnya terdiri atas empat baris serta memiliki sampiran dan isi. Pantun sendiri diambil dari kata “panuntun” yang dalam bahasa Minangkabau, yang berarti penuntun. Dalam bahasa Jawa, pantung sering disebut dengan parikan. Adapun pantun dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, seperti pantun nasihat, pantun jenaka, pantun teka-teki, pantun berkasih-kasihan, dan pantun anak. Pantun jenaka adalah pantun yang bertujuan untuk menghibur orang yang mendengarnya karena berisi humor.
Nah, artikel kali ini akan membahas lebih lanjut mengenai pantun jenaka, sebagai salah satu jenis pantun.
Mengenal Pantun Jenaka dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Dikutip dari buku Ultra Lengkap Peribahasa Indonesia, Majas, Plus Pantun, Puisi, dan Kata Baku Bahasa Indonesia yang ditulis oleh Nur Indah Sholikhati (2019: 128), pantun memiliki ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan karya sastra lain, yaitu:
Pantun mempunyai bait dan tiap baik terdiri atas empat baris.
Baris pertama dan kedua merupakan sampiran.
Baris ketiga dan keempat merupakan isi.
Tiap baris pada pantun umumnya terdiri atas 8–12 suku kata.
Pantun mempunyai sajak a-b-a-b dan a-a-a-a (tidak boleh bersajak a-a-b-b ataupun sajak lainnya).
Pantun jenaka adalah salah satu jenis pantun yang berisi humor, sehingga menghibur setiap orang yang mendengarnya. Terkadang pantun jenaka dijadikan sebagai media untuk saling menyindir dalam suasana yang penuh keakraban, sehingga tidak menimbulkan rasa tersinggung.
Selain itu, pantun jenaka juga diharapkan dapat membuat suasana menjadi lebih riang.
Agar lebih paham, berikut adalah contoh pantun jenaka dalam pembelajaran Bahasa Indonesia:
1. Berenang jauh para ikan
Mereka bebas hatinya senang
Badan kurus kurang makan
Kalau ditiup goyang-goyang
2. Jalan-jalan ke pinggir empang
Nemu katak di pinggir empang
Hati siapa tak bimbang
Kamu botak minta dikepang
3. Makan pagi sepiring berdua
Rasanya enak tiada tara
Awas cowok pandai menggoda
Diam-diam watak buaya
Pantun jenaka seringkali dijadikan sebagai media untuk menyindir ataupun pencair suasana ketika berkumpul dengan teman dan keluarga. Semoga informasi di atas bermanfaat! (CHL)
Baca juga: 14 Contoh Pantun Peribahasa yang Penuh Makna
