Sejarah Terowongan Sasaksaat yang Dibangun Sejak Zaman Belanda

Menyajikan informasi untuk menginspirasi dan menambah wawasan pembaca
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jendela Dunia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terowongan kereta api, yang bernama Terowongan Sasaksaat berlokasi di Jawa Barat. Sejarah Terowongan Sasaksaat ini, telah dibangun sejak zaman penjajahan Belanda.
Terowongan kereta api ini masih aktif digunakan. Beberapa kereta jarak jauh, seperti Kereta Argo Parahyangan akan melalui terowongan ini.
Sejarah Terowongan Sasaksaat dengan Panjang 950 Meter
Sejarah Terowongan Sasaksaat erat kaitannya dengan dengan pembangunan Stasiun Sasaksaat. Terowongan ini cukup panjang membelah perbukitan. Selain itu, terowongan yang masih ada saat ini, memiliki bentuk bangunan depan yang indah.
Berikut ini sejarah panjang Terowongan Sasaksaat, yang terletak dekat dengan Stasiun Sasaksaat.
1. Berlokasi dekat dengan Stasiun Sasaksaat, Cipatat
Seperti dikatakan sebelumnya, Terowongan Sasaksaat berlokasi di dekat Stasiun Sasaksaat. Lokasi tepatnya terowongan ini berada di antara Stasiun Maswati dan Stasiun Sasaksaat, tepatnya di KM 143+144.
Berdasarkan buku Bukan Kota Tanpa Masa Lalu: Dinamika Sosial Ekonomi Kebumen Era Arung Binang VII, Teguh Hindarto (2020:18), Stasiun Sasaksaat berada di lintas Purwakarta dan Padalarang. Lokasinya berada di wilayah Cipatat.
2. Dibangun pada Masa Pemerintahan Belanda
Baik terowongan dan stasiunnya, dibangun pada masa pemerintahan Belanda, yakni dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS). Keduanya dibangun sekitar tahun 1902-1903.
Lebih lanjut, pembangunannya dilakukan dengan teknik dan teknologi dari Belgia. Pembangunannya dilakukan secara borongan oleh pemborong Eropa.
3. Membelah Bukit di Desa Sumurbandung
Terowongan yang panjang ini dibangun dengan membelah bukit di perbukitan Cidepong, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Sebelum dibangun, diadakan terlebih dulu upacara sesajen tradisional untuk meminta keselamatan ketika pembangunan.
Terowongan ini digali dengan menggunakan teknik penggalian di kedua sisi, sisi Utara dan Selatan secara bersamaan. Kendala yang dihadapi yaitu lahannya memiliki kadar air tinggi sehingga air merembes ke terowongan dan beresiko terjadi longsor.
Untuk menanggulangi rembesan air, lapisan atas terowongan dilapisi dengan semen tebal 0,85 meter dan beberapa bagian terowongan dilapisi dengan seng. Oleh karena adanya batuan cadas, pengeboran menggunakan tangan dilakukan guna menghindari getaran.
4. Dibangun untuk Transportasi Penumpang dan Komoditas Ekspor
Seperti pada pembangunan beberapa jalur kereta api lainnya di Pulau Jawa, mulanya terowongan ini digunakan untuk pengangkutan komoditas ekspor, seperti kopi, teh, beras serta hasil pertanian masyarakat Bandung.
Selain itu, jalur ini juga digunakan sebagai transportasi koridor Purwakarta-Padalarang, yang dilalui kereta api penumpang juga.
5. Terowongan Terpanjang dan Masih Aktif Digunakan
Terowongan ini menjadi terowongan panjang kedua setelah Terowongan Wilhelmina. Tetapi karena Terowongan Wilhelmina sudah tidak aktif lagi, otomatis Terowongan Sasaksaat menjadi terowongan terpanjang yang aktif digunakan hingga saat ini. Panjangnya mencapai 950 meter.
Beberapa kereta api jarak jauh relasi Jakarta-Bandung, melintasi Terowongan Sasaksaat di bawah kewenangan DAOP 2 Bandung. Kereta-kereta yang melalui terowongan ini, di antaranya ada kereta Argo Parahyangan, Harina, Ciremai, dan Serayu.
Kereta api lokal Cibatu-Purwakarta juga melintasi Terowongan Sasaksaat. Terowongan Sasaksaat juga masih digunakan sebagai jalur bagi kereta angkutan barang.
Baca Juga: Sejarah Pura Mangkunegaran Solo dan 3 Aktivitas Menarik yang Perlu Dicoba
Itu tadi sejarah Terowongan Sasaksaat, terowongan kereta api dengan panjang mencapai 950 meter di Cipatat, Kabupaten Bandung. Informasinya dapat menjadi pengetahuan dalam sejarah jalur kereta api di Pulau Jawa. (Fitri A)
