Kamu Bukan Orang Spesial

Mahasiswa UNAI penikmat buku yang menjadikan literasi sebagai pelarian dan teman setia. Menulis untuk meredakan pikiran, merekam cerita, serta mendokumentasikan ide sebagai bekal di masa depan. Dengan kata, menjelajahi dunia dan merangkai makna.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Jody jeremi hadrian ritonga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"Kamu bukan orang spesial, jadi tidak perlu merasa paling hebat. Turunkan egomu dan terimalah kenyataan bahwa kamu memang tidak bisa dalam bidang ini."
Lantunan kalimat itu terasa seperti pisau yang menyayat hati—begitu sulit dan sesak untuk diterima. Bagaimana mungkin diriku ini tidak spesial?
Sejak kecil, dari dekapan ibu yang hangat hingga kini ketiakku yang hangat karena bekerja, ibu dan orang-orang di sekitarku tak pernah berhenti meyakinkanku bahwa aku adalah seseorang yang istimewa bahwa aku bisa menjadi apa pun yang kuinginkan.
Lalu, bagaimana mungkin ada seseorang yang begitu saja berkata bahwa aku tidak spesial?
"Kurang ajar! Kau pikir kau siapa?" Gelombang amarah bergejolak di amigdala, menolak kenyataan bahwa diriku bukanlah seseorang yang spesial. Namun, jauh di relung hati, aku tahu, aku memang tak bisa disebut spesial. Karena pada akhirnya, di dunia nyata, aku bukan siapa-siapa.
Itu adalah reaksi umum yang sering dirasakan beberapa orang ketika pertama kali menginjakkan kaki ke dunia nyata. Di mana segala sesuatu tampak berbeda. Kita tidak lagi menjadi pusat perhatian, dan berlomba untuk menjadi lebih baik adalah sebuah keharusan yang harus dijalani hari demi hari.
Dilansir dari CBS News, manusia sering kali menunjukkan illusory superiority, yaitu kecenderungan untuk meyakini bahwa kemampuan diri mereka lebih tinggi dari rata-rata. Misalnya, dalam sebuah penelitian, 94% profesor menilai diri mereka berada di atas rata-rata dibandingkan rekan-rekan mereka. Dalam studi lainnya, 32% karyawan di sebuah perusahaan perangkat lunak mengklaim bahwa mereka bekerja lebih baik daripada 19 dari 20 rekan kerja mereka.
Sering kali, manusia memiliki keinginan untuk merasa spesial dan lebih hebat dari kolega-koleganya. Salah satu riset psikologi menunjukkan bahwa ini adalah bentuk mekanisme perlindungan diri (self-protection mechanism) dari mental kita.
Keinginan untuk merasa unggul berfungsi sebagai tameng psikologis terhadap dunia luar yang kita anggap penuh ancaman, tempat di mana kita takut dianggap biasa saja, diremehkan, atau bahkan dianggap tidak berharga. Dengan meyakini bahwa kita lebih hebat, kita menciptakan rasa aman dan percaya diri, yang pada akhirnya membantu kita bertahan dan terus berusaha.
Ketidakseimbangan akibat illusory superiority dapat menyebabkan fokus berlebihan pada diri sendiri, yang berujung pada konsekuensi psikologis yang berbahaya. Semakin seseorang terpusat pada dirinya sendiri, semakin besar pula rasa kepentingan dirinya dalam hidupnya.
Kepentingan diri ini akan bermanifestasi dalam berbagai bentuk, seperti:
Merasa bahwa jika terjadi kegagalan, dirinya adalah orang paling gagal di dunia.
Merasa bahwa semua masalah di dunia ini adalah kesalahannya.
Merasa dirinya adalah yang terbaik, paling hebat, dan paling berbakat.
Hal ini akan menyebabkan stres dan kebanggaan yang tidak sehat di kemudian hari, karena kita terus memberi makan ego, sehingga tidak ada lagi ruang untuk berkembang, baik dari kesalahan maupun kesuksesan.
Lantas, bagaimana agar kita bisa terhindar dari ego yang melahap jiwa dan juga menjauh dari illusory superiority yang perlahan membutakan mata kita dengan ilusi yang diciptakan? Tentu, langkah awal yang paling penting dan menyakitkan adalah menerima kenyataan bahwa kamu bukan orang spesial.
Dengan menyadari hal ini, kita akan terbebas dari beban yang mengharuskan kita berpura-pura dan menganggap diri kita yang terbaik. Mungkin reaksi pertama yang akan kita rasakan ketika mengakui kenyataan ini adalah seperti ditusuk dengan pisau. Nyeri, seolah ego kita dibunuh oleh pisau realita.
Namun, itulah awal dari pintu kebebasan. Ketika kita menyadari bahwa kita tidak sepenting itu, dan memang kita hanyalah NPC, bukan karakter utama dalam sebuah kisah, maka kita akan merasakan kebebasan yang tak terbayangkan sebelumnya.
Kita tidak perlu lagi memikirkan apa yang orang pikirkan ketika pekerjaan kita gagal, atau saat kita ingin mencoba lompatan karier dan memulai dari awal. Omongan dan pandangan orang tidak lagi penting, karena kita telah menyadari bahwa kita tidak spesial, dan tidak ada orang yang memerhatikan kita dengan begitu detail. Salah satu kutipan dari novel yang cukup terkenal, Fight Club, mengatakan
You are not special. You're not a beautiful and unique snowflake. You're the same decaying organic matter as everything else. We're all part of the same compost heap. We're all singing, all dancing crap of the world.
Kita semua sama. Hanya Yang Maha Kuasa yang memberi setiap dari kita talenta dan kemampuan yang berbeda. Tidak ada yang lebih spesial di dunia ini, karena pada dasarnya kita hanyalah makhluk biasa yang diberi kelebihan di tempatnya masing-masing.
Mungkin ada mereka yang jauh lebih genius dan hebat dari kita, dan itu adalah bagian yang diberikan kepada mereka. Tidak menjadi genius atau sehebat mereka pun tidak apa-apa. Jadilah orang biasa yang menjalani hari dengan sukacita, dengan kebebasan dalam setiap langkahnya.
