Konten dari Pengguna

Saat Riba Menghambat Mimpi Anak Muda: Kaya Boleh, Tapi Jangan Menindas

Johan Luthfi Maulana

Johan Luthfi Maulana

Mahasiswa UIN Jakarta sekaligus Ketua Umum KSEI LiSEnSi 2026. Aktif dalam advokasi ekonomi inklusif, penguatan instrumen filantropi Islam, dan pemberdayaan mahasiswa pada bidang ekonomi syariah.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Johan Luthfi Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar 1 : Ilustrasi di buat menggunakan teknologi AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar 1 : Ilustrasi di buat menggunakan teknologi AI

Bayangkan kamu seorang anak muda ambisius dari pelosok negeri. Punya ide bisnis, punya semangat, tapi tidak punya modal. Kamu lalu mengajukan pinjaman ke bank. Prosesnya panjang, bunganya tinggi. Begitu usahamu belum balik modal, cicilan tetap harus dibayar. Yang kamu alami bukan kesalahan pribadi—ini sistem yang sudah lama diwarisi: sistem berbasis riba.

Indonesia sering digambarkan sebagai negeri subur dan kaya. Tapi di balik narasi “gemah ripah”, sistem keuangan kita masih dihantui model pinjaman berbunga yang membebani kelompok paling rentan. Riba bukan lagi sekadar dosa individual seperti yang diajarkan saat kecil di madrasah—tapi sudah jadi bagian dari struktur yang membentuk ketimpangan.

Kenapa Anak Muda Harus Peduli?

Karena kita adalah generasi yang tumbuh dengan kemudahan kredit: beli HP bisa dicicil, kuliah bisa dibiayai paylater, bahkan liburan bisa “dibayarin” dulu. Tapi apa kita paham dampaknya? Apakah semua bunga itu adil? Apakah sistem yang kita pakai membuat orang kaya makin di atas dan kita terus di bawah?

Kita sering salah sangka, mengira larangan riba itu hanya isu agama. Padahal, efek ekonominya nyata. Riba memberi keuntungan ke pemodal tanpa risiko. Yang berjuang dan jatuh bangun adalah yang nggak punya kuasa. Anak muda seperti kita akhirnya bekerja keras hanya untuk membayar bunga—bukan untuk tumbuh.

Ada Alternatif, Tapi Kurang Didengar

Ekonomi Islam sebenarnya menawarkan solusi: bagi hasil, investasi berbasis kemitraan, pembiayaan syariah yang adil. Tapi sayangnya, yang viral di TikTok justru tips cuan instan dan motivasi kaya mendadak. Yang lebih nyaring di telinga adalah diskon cicilan, bukan diskusi etika.

Sudah saatnya kita dorong narasi baru: bahwa sistem keuangan harus adil, bukan hanya legal. Bahwa riba bukan cuma haram karena ayat—tapi karena dia bisa membuat kemiskinan jadi sistemik.

Kaya Itu Hak, Tapi Caranya Harus Benar

Ekonomi bukan soal idealisme belaka. Tapi bukan berarti kita bisa abai soal nilai. Kalau kita bicara Indonesia Emas 2045, maka kita juga harus bicara sistem keuangan yang tidak menindas. Karena bangsa besar tidak bisa dibangun dengan utang berbunga dan rakyat kecil yang terus tertindas.

Kita butuh lebih banyak anak muda yang bukan hanya jago cari cuan, tapi juga sadar cara kerjanya. Karena kaya itu boleh—yang nggak boleh adalah menindas lewat bunga.