Resiliensi Mental melalui Welas Asih pada Diri

Co Founder - Ayurjnana Wellness and Spirit Center
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Johnson Khuo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita melihat bahwa ada orang yang ketika berhadapan dengan masalah, mampu menyelesaikannya dengan tenang, dan justru bisa tumbuh serta berkembang darinya. Namun di sisi lain, ada pula orang yang merespons peristiwa buruk secara destruktif sehingga membuat mereka semakin terseret ke dalam jurang ketakutan, kecemasan dan depresi. Mengapa bisa demikian?
Selama 20 tahun terakhir ini, para psikolog modern berusaha mencari jawaban dan melakukan banyak penelitian untuk mencari tahu apa yang sebenarnya mempengaruhi tingkat resiliensi mental seseorang dan kemampuannya dalam menghadapi permasalahan hidup. Kristin Neff adalah salah satu yang paling awal berbicara tentang sikap welas asih pada diri (self-compassion) sebagai faktor kunci yang sangat berpengaruh terhadap tingkat resiliensi mental seseorang.
Apa Itu Self-Compassion?
Self-compassion mencakup:
Mampu secara tenang dan seimbang mengamati masalah yang datang dan pikiran apa yang muncul dalam merespons masalah tersebut (mindfulness), tanpa terseret menjadi berpikir terlalu jauh terlalu dini
Mampu menerima tanpa menghakimi (self-acceptance), mampu memaafkan (self forgiveness), serta mampu bersikap menyayangi terhadap diri (self-kindness)
Mampu mengenali bahwa masalah pribadi yang dihadapi sebenarnya tidak berbeda dan tidak jauh lebih buruk daripada pengalaman orang lain secara umum (common humanity)
Orang dengan self-compassion yang tinggi tetap bisa melihat secara akurat terhadap kekurangan, kelemahan dan permasalahan yang dihadapinya, namun mereka bisa memberikan respons yang positif terhadapnya alih-alih melakukan kritik diri yang menjatuhkan.
Ketika kita bisa mengakui kekurangan kita, menerimanya dengan kesabaran dan penuh pengertian serta rasa sayang yang hangat, kita kemudian bisa mencari solusi dan perbaikan secara objektif menggunakan potensi yang kita miliki.
Selain itu, kita juga melihat permasalahan dalam lingkup kontekstual yang lebih luas, memahami bahwa masalah ini bukan eksklusif terjadi pada diri kita saja, namun setiap manusia pada dasarnya memang memiliki permasalahan yang tidak jauh berbeda dengan kita. We are not alone in this fight. Jadi, self-compassion justru membawa kita menjadi semakin dekat dengan orang lain.
Mirip Namun Bukan Self-Compassion
Banyak sekali kesalahpahaman yang terjadi ketika orang-orang berbicara mengenai sikap welas asih pada diri atau self-compassion ini. Berikut adalah beberapa sikap yang kadang salah diartikan sebagai self-compassion padahal bukan:
Self-compassion bukanlah sebuah mekanisme pertahanan diri yang berbentuk pola pikir bias yang membohongi diri sendiri demi menenangkan dan menyenangkan diri ketika berhadapan dengan masalah, misalnya: membandingkan diri terhadap orang lain dengan situasi yang lebih buruk, atau menggembungkan rasa percaya diri yang semu, dan sebagainya. Self-compassion tidak menutup mata terhadap kekurangan dan tidak dengan sengaja mengabaikan (atau melarikan diri) dari kegagalan. Dia justru mampu bertanggung jawab atas permasalahan yang terjadi dan merespons secara konstruktif serta dengan rasa sayang yang hangat pada diri.
Self-compassion bukanlah sikap egois yang memusatkan perhatian pada diri sendiri saja tanpa menyisakan ruang untuk memperhatikan kebutuhan orang lain. Self-compassion sejati justru menyayangi diri sembari tetap memperhatikan kondisi orang lain di sekitar karena tujuan dia merawat kesehatan fisik dan mentalnya sendiri pada dasarnya adalah demi bisa memberikan manfaat lebih bagi orang lain.
Self-compassion bukanlah sikap kasihan yang berlebihan terhadap diri sendiri dan merasa dirinya sebagai korban yang paling perlu dikasihani dibandingkan orang lain. Self-compassion justru mampu mengamati permasalahan yang terjadi secara tenang dan objektif.
Self-compassion bukanlah sikap ingin sekadar menyenangkan diri sendiri saja. Self-compassion justru membuat kita bisa menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu secara impulsif semata-mata karena merasa kita pantas untuk senang saja. Namun, self-compassion juga bisa berarti memutuskan untuk membeli es krim setelah serangkaian proses kontemplasi diri menunjukkan adanya efek jangka panjang yang positif dari es krim tersebut.
Manfaat Self-Compassion
Menurut Leary, Tate, Allen, Adams & Hancock (2006), self-compassion melindungi kita agar peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi tidak memberikan pengaruh buruk yang semakin berkelanjutan terhadap kita, karena dia memberikan ruang bagi kita untuk menilai secara akurat dan objektif namun tidak menghakimi diri secara kasar.
Peristiwa-peristiwa buruk tidaklah bisa dihindari di dalam hidup. Mengapa? Karena sebagai makhluk hidup, penderitaan adalah realita hidup yang tidak bisa dipungkiri. Namun, self-compassion akan memberikan kesempatan kepada kita untuk menjalin hubungan yang baik dengan penderitaan tersebut sehingga kita tidak perlu semakin diseret jatuh olehnya.
