SBY Bicara Indonesia Emas 2045: Saya Agak Konservatif, Insyaallah

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghadiri acara Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis FISIP Unpad ke-68 di kampus UNPAD Jatinagor, Rabu (14/10/2026). Foto: YouTube/ Humas FISIP UNPAD
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghadiri acara Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis FISIP Unpad ke-68 di kampus UNPAD Jatinagor, Rabu (14/10/2026). Foto: YouTube/ Humas FISIP UNPAD

Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 harus dibangun dengan perencanaan yang realistis. Menurutnya, target Indonesia menjadi negara maju perlu disesuaikan dengan kemampuan, sumber daya, serta perjalanan sejarah bangsa.

Hal itu disampaikan SBY dalam Dies Natalis ke-68 Fisip Unpad, Selasa (13/10). Dalam kesempatan tersebut, SBY berbagi pengalaman selama memimpin Indonesia selama dua periode, sekaligus menyampaikan pandangannya mengenai tantangan bangsa menuju 2045.

SBY mengaku cenderung berhati-hati dalam memandang target Indonesia Emas 2045. Ia menilai optimisme terhadap masa depan bangsa perlu disertai keyakinan bahwa target yang ditetapkan benar-benar dapat dicapai.

“Banyak yang mengatakan tahun 2045 kita akan mengalami Indonesia Emas. Saya agak konservatif, tambahkan insyaallah,” kata SBY.

Menurutnya, penetapan tujuan jangka panjang tidak cukup hanya dengan menetapkan target besar. Pemerintah dan para pemimpin perlu memperhitungkan rentang waktu, sumber daya, serta kondisi perkembangan Indonesia agar cita-cita tersebut dapat diwujudkan.

“Kalau menetapkan goal atau tujuan itu harus diyakini realistis, do-able, dan achievable,” ujarnya.

SBY juga mengingatkan bahwa kegagalan Indonesia melakukan transformasi dapat membuat cita-cita tersebut sulit terwujud. Ia menegaskan, Indonesia harus mampu melakukan perubahan besar agar bisa berkembang menjadi negara maju pada abad ke-21.

“Kalau kita gagal bertransformasi, Indonesia Emas 2045 itu ilusi,” tegasnya.

Di sisi lain, SBY turut berbicara mengenai kehidupannya setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Ia menyebut perjalanan hidupnya telah mengalami sejumlah transformasi, mulai dari menjadi prajurit selama sekitar 30 tahun, mengemban tugas di pemerintahan, hingga kini kembali ke tengah masyarakat dengan menekuni bidang seni dan olahraga.

“Saya bertransformasi, anak desa dari Pacitan 20 tahun, transformasi menuju prajurit selama 30 tahun, transformasi lagi mengemban tugas di pemerintahan 15 tahun, sekarang saya kembali ke pangkuan masyarakat, bertransformasi dan saya sekarang menggeluti dunia seni dan olahraga,” tuturnya.

Ia juga sempat melontarkan candaan mengenai dirinya yang kini menjadi seniman. Saat membuka orasi, SBY menegaskan kehadirannya di kampus bukan untuk menyampaikan orasi politik, melainkan berbagi pengalaman dan pemikiran kepada kalangan akademisi.

“Saya ini agak batuk, tapi bukan influenza, aman. Sehingga kalau dalam menyampaikan orasi ini sekali-sekali batuk, mohon dimaklumi,” ucapnya sebelum memulai orasi.

Dalam orasi tersebut, SBY juga menyoroti pentingnya tata kelola negara, ekonomi produktif, pembangunan sumber daya manusia, serta kepemimpinan visioner sebagai faktor yang menentukan keberhasilan suatu bangsa. Menurutnya, kemajuan Indonesia membutuhkan integritas, inovasi, dan kolaborasi dari seluruh elemen bangsa.

Ia menilai pemimpin perlu belajar dari sejarah agar tidak mengulangi kesalahan masa lalu. Pengalaman Indonesia menghadapi krisis ekonomi global pada 2008-2009 dan bencana tsunami menjadi pelajaran bahwa pengelolaan negara membutuhkan visi yang jelas, sistem yang kuat, serta kerja sama berbagai pihak.

SBY menegaskan, cita-cita Indonesia menjadi negara maju tidak bisa hanya mengandalkan optimisme. Dibutuhkan kerja keras, kecerdasan, integritas, dan kemampuan bertransformasi secara berkelanjutan agar target pembangunan nasional dapat dicapai secara realistis.