Konten dari Pengguna

MengenalToxic Positivity: Tidak Selamanya Berpikir Positif Itu Baik

Josephine Samantha Kurniawan

Josephine Samantha Kurniawan

Mass Communication student in Binus University

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Josephine Samantha Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mengabaikan kesedihan orang lain. Shutterstock.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mengabaikan kesedihan orang lain. Shutterstock.com

"Jangan sedih lagi ah, semua pasti ada hikmahnya kok"

Pernah nggak sih kamu mendengar kalimat itu ketika sedang asyik-asyiknya curhat? Sekilas memang terdengar seperti pesan positif yang memberi semangat, tapi tahukah kamu kalau rupanya pesan tersebut termasuk dalam toxic positivity?

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang apa itu toxic positivity, cobalah bayangkan skenario ini. Hari ini adalah jadwal interview kerjamu, tapi kamu tak sengaja bangun terlambat. Kamu mencoba mengemudi secepat mungkin, namun sayangnya lalu lintas sedang tak berpihak kepadamu. Tiba-tiba hujan turun ketika kamu turun dari kendaraan dan kamu tidak membawa payung karena terburu-buru. Pada akhirnya, kamu bertemu temanmu dengan niat melampiaskan keluh kesah. Temanmu kemudian menjawab, "Begitu doang sedih, aku juga pernah ngalamin yang lebih buruk dari kamu kok”.

Memang niatnya baik, yaitu untuk menghibur dan membuat kita bersyukur. Tapi rasanya menjengkelkan, bukan? Perasaan jengkel yang kita rasakan seperti berusaha dipendam dan diabaikan. Nah, yuk kita pahami apa itu toxic positivity!

Toxic Positivity Itu Apa Sih?

Ilustrasi berpura-pura bahagia. Shutterstock.com

Toxic positivity adalah sebuah pola pikir yang memaksa seseorang menekan perasaan mereka untuk terus menjadi positif. Pada dasarnya, toxic positivity hanyalah pengingkaran terhadap emosi dasar manusia yang dianggap "negatif" seperti sedih, marah, atau jijik.

"Kamu harus berpikir positif", "Aku aja bisa, kamu juga pasti bisa", "Bersyukur dong, bisa aja kamu alami yang lebih buruk". Kalimat-kalimat tersebut adalah beberapa contoh toxic positivity yang akrab didengar telinga.

Dari kata "toxic" yang artinya racun saja, kita sudah tahu kalau toxic positivity bukanlah hal yang baik. Lalu memangnya kenapa sih toxic positivity itu penting dan harus disadari? Yuk, simak beberapa dampak buruk dari toxic positivity!

Alasan Toxic Positivity Harus Dihindari

Ilustrasi depresi. Shutterstock.com

Budaya toxic positivity dapat memberikan kesan bahwa merasa sedih atau marah adalah hal yang tabu. Kita harus selalu mengeluarkan energi positif dan tidak boleh merasakan kesedihan. Seseorang yang mudah sedih dan menangis adalah orang yang lemah.

Tetapi tahukah kamu bahwa menekan dan mengabaikan perasaan dapat membahayakan diri kita sendiri? Sebuah studi berjudul "Paradoxical effects of thought suppression" menunjukkan bahwa ketika kita mencoba untuk tidak memikirkan sesuatu, hal itu membuat lebih besar kemungkinan kita untuk memikirkannya.

Menekan perasaan sendiri secara terus-menerus dapat membayahakan kesehatan mental dan memunculkan gangguan kecemasan atau bahkan depresi. “Kegagalan untuk memproses emosi secara efektif pada waktu yang tepat dapat menyebabkan segudang gangguan psikologis, seperti gangguan tidur, peningkatan penyalahgunaan zat, risiko respons stres akut, kesedihan berkepanjangan, atau bahkan PTSD,” ucap Dr. Jaime Zuckerman, seorang terapis perilaku kognitif.

Setiap orang memiliki limit terhadap perasaannya sendiri. Kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya dirasakan orang lain, seperti seberapa buruk kesedihan dan kemarahan mereka. Oleh karena itu, kita pun tak dapat menilai dan menyepelekan problematika orang lain. Apabila kita mengubur dan mengabaikan perasaan kita, suatu saat 'tangki' kita pun dapat 'penuh' dan 'meledak'.

Lalu, Bagaimana Cara Terhindar dari Toxic Positivity?

Ilustrasi menghibur orang yang sedih. Shutterstock.com

Seperti yang kita ketahui, perasaan manusia tidak dapat diklasifikasikan sebagai 'benar' dan 'salah' atau 'baik' dan 'buruk'. Kunci utama yang harus kita ingat adalah validasi.

Alih-alih memendam kesedihan, kita harus mengakui perasaan kita dan kenali masalah kita dengan baik. Ketahui mengapa kamu merasa sedih dan alasan di balik kesedihan itu. Dengan memvalidasi kemarahan, kesedihan, maupun kekecewaan, kita dapat mengenal diri kita lebih dalam dan tahu bagaimana menanggapi perasaan atau problematika kita.

Maka daripada mengatakan "Kamu harus berpikir positif", coba katakan "Tak apa merasa sedih". Daripada mengatakan "Aku aja bisa, kamu juga pasti bisa", katakan "Sulit kan? Nggak apa-apa merasa kesulitan, ada proses sampai kamu terbiasa".

Ilustrasi kebahagiaan yang tulus. Shutterstock.com

Nah, mulai dari sekarang, apabila temanmu datang untuk curhat, jangan sampai memaksa mereka untuk ceria dan bersikap positif ya! Apalagi jika berlomba-lomba mencari masalah siapa yang terburuk. Ingat, "It's okay to not be okay". Sangat normal kok kalau kamu merasa sedih, marah, atau tertekan.

Referensi

Scully, S. M. (2020, July 22). ‘Toxic Positivity’ Is Real — and It’s a Big Problem During the Pandemic. Retrieved from Healthline: https://www.healthline.com/health/mental-health/toxic-positivity-during-the-pandemic

Wegner DM, Schneider DJ, Carter SR 3rd, White TL. Paradoxical effects of thought suppression. J Pers Soc Psychol. 1987 Jul;53(1):5-13. doi: 10.1037//0022-3514.53.1.5. PMID: 3612492.