Telusur Identitas: Desainer Muda Indonesia & Prancis Unjuk Gigi di Runway JF3

BRI JF3 Fashion Festival 2026 telah resmi digelar sejak Kamis (23/7). Diselenggarakan di JF3 Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading, peragaan busana ini kembali menjadi panggung bagi para aspiring designers alias pendatang baru untuk menampilkan karya mode teranyar.
Mereka adalah para desainer muda yang menjadi bagian PINTU Incubator, program inkubasi untuk desainer dan brand fashion hasil kolaborasi JF3 dengan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia.
Tak hanya para desainer PINTU, tiga perancang mode dari sekolah desain Prancis Ecole Duperre juga terbang ke Indonesia untuk menampilkan karya mereka di panggung internasional. Tahun ini, JF3 juga membuka jalan bagi perancang mode muda Indonesia di bawah program Future Fashion Designer.
Karya 13 brand dan desainer Indonesia serta Prancis tersebut tergabung di dalam satu fashion show bertajuk L'Entre-Deux: Interwoven Identities. Ini merupakan ruang bagi penikmat fashion menelusuri identitas para pendatang baru, serta panggung untuk mereka memperkenalkan karakter yang diterjemahkan di atas garmen.
Future Fashion Designer
Karya empat finalis Future Fashion Designer (FFD), yaitu Arron Bryan, Agatha Levia, Azzahra Ajmanisa, dan Tashannie Abigail, menjadi aksi pembuka peragaan busana tersebut. Disinari pencahayaan temaram dan dramatis, rancangan mereka—yang didominasi palet hitam dan nuansa misterius—diperagakan dengan tegas di atas runway.
Bab pembuka ini membawa deretan busana black tie, mulai dari gaun malam berkorset, dress bergaya babydoll yang beken, sampai outer berbahan tulle yang ringan. Namun, setiap piece dipadukan dengan detail flair yang berseni, seperti hiasan kepala bak ranting pohon dan sulur.
Dari kacamata audiensi, rancangan para desainer muda ini adalah wujud pengungkapan identitas yang dieksekusi secara eksperimental.
PINTU Incubator dan Accelerator
Sejak didirikan empat tahun lalu, PINTU Incubator aktif mengirimkan brand dan desainer terpilih untuk unjuk gigi di JF3. Tahun ini, dari 39 pendaftar, ada lima yang berkesempatan hadir di runway. Mereka adalah Andrean NR, Saul Studio, Toja House, Dacia, dan Aldrie.
Dari lima incubees terpilih, koleksi yang mencuri perhatian adalah “Di Tengah Perjalanan” oleh Andrean NR. Dia mengawali sesinya dengan statement: Fashion itu genderless. Dia menghadirkan enam busana berbahan serba denim yang dirancang dengan nuansa kontemporer yang sarat akan pengaruh streetwear. Dari jaket longgar hingga celana kulot dan busana bersiluet formal, dia menghadirkan detail halus yang diolah dengan teknik pemotongan pola modern.
Selain itu, Dacia turut memikat lewat perpaduan wastra yang apik dalam busana streetwear bernapas baddie. Desainer Daciadhia Phoebehana menghadirkan kerajinan Kain Cual yang ekspresif, terinspirasi dari budaya Bangka dan lanskap Pulau Bangka. Korset, jaket, sampai cropped blouse berpalet warna bumi dihiasi oleh warna-warni benang Kain Cual.
JF3 2026 menjadi kali kedua brand Lil Public memamerkan karyanya di runway fashion tent. Sebagai jenama di bawah program PINTU Accelerator, Lil Public kembali tampil memikat lewat streetwear yang terinspirasi dari novel Zenitendo karya Reiko Hiroshima. Enam looks yang dihadirkan, terdiri dari blus, kemeja boxy, hingga celana wide palazzo, kali ini dirancang dengan tailoring yang lebih terstruktur.
Ecole Duperre
Sama seperti tahun lalu, JF3 juga menghadirkan karya tiga desainer dari sekolah desain Ecole Duperre Prancis. Setiap perancang mode hadir dengan konsep matang dan desain yang out-of-the-box, menggugah rasa penasaran mereka yang menatapnya.
Show dibuka dengan presentasi oleh Aurelien Voegelin. Koleksi 3088 adalah “surat cinta” tentang perdesaan Prancis yang selalu menghadirkan elemen peternakan. Ia memamerkan enam tampilan yang dibuat dengan tailoring rapi, mulai dari mantel panjang hingga jaket longgar yang nyaman. Dalam proses konstruksi, dia memadukan tailoring, cording, braiding, macramé, dan pengembangan tekstil buatan tangan.
Setelahnya, desainer Maurien Willebien mengubah lanskap perdesaan Prancis milik Aurelien menjadi ruang feminin dan “centil”. Lewat koleksi bertajuk Beauties, Maurien menghadirkan enam tampilan penuh detail intricate yang di-draping secara langsung di atas maneken. Dengan presentasi yang menyenangkan, peragaan ini menunjukkan bahwa knit atau rajutan juga bisa menjadi seksi.
Show ditutup oleh peragaan busana lansiran Paul Vidal yang unik dan berani. Koleksi bertajuk Wrap Me Up ini adalah penggabungan estetika berbusana abad ke-17 dan 18 dengan material pelindung kemasan.
Material yang flowy dan ringan dijahit ke dalam pakaian dengan tailoring rapi dan drapery yang lembut. Siluetnya menggabungkan referensi busana historis dengan bentuk oversized yang menyerupai kemasan pelindung.
