Konten dari Pengguna

Gift From God : Momen Haru Menjadi Orang Tua Untuk Pertama Kalinya

Donatus Juito Ndasung
Halo Sahabat Kumparan perkenalkan, Nama Lengkap Saya Donatus Juito Ndasung, Guru Rantau Asal Manggarai Flores, tinggal di Cileungsi Bogor Jawa Barat.
31 Mei 2025 11:09 WIB
·
waktu baca 8 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Gift From God : Momen Haru Menjadi Orang Tua Untuk Pertama Kalinya
Perjalanan menjadi orang tua pertama kalinya adalah sebuah petualangan yang menakjubkan bagi saya dan istri tercinta meskipun melalui berbagai tantangan.
Donatus Juito Ndasung
Tulisan dari Donatus Juito Ndasung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Potret Archangelo sesaat setelah dari ruang tindakn medis, (Kredit Foto : Dokumen Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Potret Archangelo sesaat setelah dari ruang tindakn medis, (Kredit Foto : Dokumen Pribadi)
ADVERTISEMENT
Saya dan istri menikah secara katolik 2024 lalu di Gereja Maria Bunda Segala Bangsa Kota Wisata, Bogor. Sebelum menikah kami mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan (KPP), salah satu materi yang diajarkan dalam kursus tersebut adalah hukum kanonik yang menjelaskan tiga tujuan dalam perkawinan Katolik yaitu kebaikan pasangan atau suami istri, kelahiran, dan pendidikan anak. Dari ketiga tujuan di atas, salah duanya sedang kami rasakan saat ini, yaitu kebaikan pasangan dan kelahiran. Tapi, yang diulas dalam tulisan ini adalah kelahiran.
ADVERTISEMENT
Nah, sobat Kumparan. Kali ini saya ingin membagikan pengamalaman kelahiran putera pertama kami.
Setelah menikah setiap pasangan pasti ingin memiliki anak, tak terkucuali saya dan istri. Memilik anak pertama merupakan sebuah petualangan ajaib yang tak bisa dilukiskan dengan apapun. Tensi perasaan tak menentu, campur aduk, semua berkecamuk. Mulai dari perasaan kegembiraan hingga rasa cemas yang tak terukur.
Momen kelahiran putera pertama kami, menandai dimulainya babak baru dalam hidup kami yang mengubah segalanya. Pengalaman ini adalah petualangan transformasi dan sebuah lompatan besar dalam keluarga kecil kami. Dari yang tadinya kita berdua, kini sudah menjadi bertiga.
Sembilan bulan bukan waktu yang sebentar, penuh perjuangan dan air mata. Ada rasa tak sabaran membayangkan wajah mungil bayi kecil yang akan datang, bagaimana jika melihat, memeluk, dan mencium aroma khas bayi yang baru lahir.
ADVERTISEMENT
Selain daripada itu, muncul juga keresahan yang tak terhindarkan dari cara pandang yang agak laen, yaitu pertanyaan-pertanyaan receh. Semisal apakah kami siap sebagai orang tua? Apakah kami bisa menjadi orang tua yang memberikan teladan? Apakah kami sabar? Untuk menjawab hal ini, kami selalu menanyakan kepada teman-teman yang sudah duluan menikah, orang tua, dan melihat konten-konten di sosial media. Tendangan kecil dari dalam rahim ibunya adalah alarm nyata bahwa bayi mungil itu akan lahir ke dunia menemani hari-hari kami.
Potret Pertama Archangelo dan mamanya setelah lahiran, (Kredit Foto: Dokumen Pribadi)
Proses Persalinan: Momen yang Mendebarkan
Saya memberikan apresiasi untuk setiap perempuan di dunia ini, tidak ada kata yang bisa menggambarkan sensasi pada saat mereka hamil dan melahirkan. Saat hamil mereka mengalami berbagai rasa seperti lemas, mual-mual, pusing, dan berbagai gejala tubuh lainnya selama kurang lebih sembilan bulan. Rasa takut dan sakit saat mereka mau melahirkan, tapi rasa takut itu seakan lenyap seketika saat mendengar tangisan pertama bayi yang pecah. Momen ketika bayi didekap ibunya di dada, jari-jari mungil menggenggam sangat erat, aroma khas bayi menyejukan jiwa menghapus penat, lelah, dan karaguan dalam diri.
ADVERTISEMENT
Sebagai suami dan orang yang bertanggung jawab atas tindakan dokter, saya menunggu di ruang tunggu. Pada saat menunggu perasaan tak menentu, huru-hara, dan deg-degkan. Bagaimana tidak, ini adalah momen pertama kami mengalami kelahiran. Tapi puji Tuhan, saya selalu siaga mendampingi mereka. Momen ketika dipanggil suster dari ruang tindakan, perasaan tak karuan.
“Pak bayinya sudah lahir, bayinya cowok ya silahkan dilihat” Kata suster yang namanya saya tidak tahu, tapi saya yakin mereka bekerja dengan tulus melayani.
"Baik suster, terima kasih" jawab saya dengan sedikit lega.
Melihat bayi mungil terbaring dan menangis sangat menggemaskan, akhirnya perasaan saya lega bercampur haru, tak sadar air matakupun jatuh.
Perasaanku tenang, ketika suster menjelaskan kalau tindakannya berjalan dengan baik dan lancar (Puji Tuhan). Pada saat itu, susternya memperbolehkan saya untuk mengambil gambar bayi, pada saat itulah pertama kalinya saya dan putera pertama saya berpose.
ADVERTISEMENT
Setelah semua kondisi badannya dicek suster mempersilahkan saya untuk keluar dari ruangan. Selanjutnya bayi akan diobesrvasi selama enam sampai delapan jam.
Ketika keluar ruangan perasaan saya tidak tenang lagi, tapi sambil berharap kepada Tuhan agar di ruang observasi baik-baik saja. Saya kembali ke ruang tunggu, tidak lama kemudian suster memanggil saya, untuk menjenguk ibunya. Puji Tuhan ibunya juga baik-baik saja, tetapi sebelumnya menggigil karena efek bius. Kata susternya, itu keadaaan yang wajar yang dialami oleh pasien setiap selesai tindakan.
Dua jam berselang, istri saya diperbolehkan kembali ke ruang perawatan sambil menunggu bayinya diobservasi. Sebagai suami saya sangat senang, keadaan istri sudah mulai membaik dengan perawatan intensif dari suster. Tapi kami harus menunggu bayi dikembalikan. Kami menunggu dengan keadaan sangat tenang sambil berharap kalau semuanya baik-baik saja pada saat diobservasi.
ADVERTISEMENT
Setelah menunggu sampai delapan jam, akhirnya bayi dihantar juga ke ruang perawatan. Dengan senang hati kami menyambutnya. Lagi-lagi harapan kami terkabulkan, hasil observasinya aman dan baik-baik saja.
Potret Pertama Archangelo Setelah Lahir, (Kredit Foto: Dokumen Pribadi)
Nama dan Harapan Orang Tua
Putera pertama kami lahir dengan berat badan 2.8 kg dan panjang badan 45 cm. Semua kondisinya normal tanpa kekurangan suatu apapun. Kami bersyukur untuk hal itu. Kami memberi nama anak kami Archangelo Leo Diego Cirillito, nama panggilannya Archangelo. Nama sebagai identitas yang melekat dalam dirinya, supaya bisa dikenal oleh orang lain terutama lingkungan di mana ia tinggal. Nama yang diberikan kepada putera pertama kami terinspirasi dari nama Santo dalam Gereja katolik juga pemain bola asal Argentina.
ADVERTISEMENT
Inspirasi tersebut merupakan harapan orang tua kepada anaknya. Sehingga kelak anak ini bisa menjadi anak yang bisa mengikuti jejak-jejak baik dari nama yang disematkan untuknya.
Anak kami lahir di rumah sakit umum Hermina Mekar Sari, Cileungsi Bogor-Jawa Barat pada hari Jumat 23 Mei 2025 pukul 07.51 Waktu Indonesia Barat (WIB). Kami berharap anak kami bisa tumbuh dalam iman dan kasih. Bisa menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, bangsa, dan negara.
Potret Archangelo sesaat setelah mandi di rumah (Kredit Foto: Dokumen Pribadi)
Malam-Malam Dengan Tangisan Bayi
Setelah beberapa hari kami di rumah sakit, akhirnya diperbolehkan kembali ke rumah. Kabar kelahiran putera pertama kami telah tersebar ke teman-teman tak terkecuali keluarga, dan kolega. Ucapan selamat, doa, dan harapan kami terima dari sahabat dan keluarga untuk bayi. Doa dan harapan itu menambah semangat dan sukacita untuk kami, sehingga doa-doanya kami aminkan.
ADVERTISEMENT
Sampai di rumah, realitas pun datang dan kami harus terima. Malam-malam kami tidurnya selalu ganggu dengan tangisan bayi mungil. Terganggu karena bayinya ingin menyusui atau menangis karena popoknya dipenuhi puknya. Ada rasa lelah iya. Terutama sang ibu yang harus bangun tengah malam meskipun belum pulih total, respect sayang. Tapi kelelahan itu terbayar dengan senyuman sang anak, atau jari mungilnya yang ingin menggapai atau menggengam tangan mamanya.
Dari pengalaman ini kami belajar banyak hal semisal memandikan bayi dengan baik dan benar, mengganti popok, cara menimang bayi hingga mengerti jam tidur dan bangunnya si kecil. Selain itu mengenal banyak obat-obatan bayi, sabun mandi, dan banyak kebutuhan bayi lainnya.
Proses yang kami alami ini menjadi pelajaran seumur hidup dan membuat kami semakin dewasa serta mengerti makna menjadi orang tua. Dukungan pasangan menjadi kekuatan yang besar untuk bersatu membesarkan bayi semisalnya saling membantu, berbagi tugas, dan memberikan semangat untuk ibunya serta rasa aman dalam keluarga.
Potret Archangelo tersenyum saat diganggu oleh mamanya (Kredit Foto: Dokumen Pribadi)
Anak Jadi Prioritas
ADVERTISEMENT
Setelah memiliki anak, kami mengalami beberapa perubahan, terutama perubahan prioritas. Hal ini benar-benar mengubah cara pandang kami. Sebelumnya fokus pada karier, hobi, gaya hidup, dan lainnya. Kini harus perlahan mulai ditinggalkan. Prioritas sudah bergeser hampir 180 derajat. Fokus utama sekarang adalah kesejahteraan dan kebahagian bayi.
Segala cinta tercurahkan untuk anak pertama, cinta untuknya adalah hal yang mutlak tanpa syarat. Cinta inilah yang membuat orang tua rela melakukan apa saja demi anak, bahkan sampai mengesampingkan kebutuhan pribadi. Mungkin inilah yang dinamakan cinta sejati untuk anak.
Perjalanan menjadi orang tua pertama kalinya adalah sebuah petualangan yang menakjubkan bagi saya dan istri tercinta meskipun melalui berbagai tantangan. Perjalanan ini adalah suatu anugrah terbesar yang mengubah kami menjadi versi orang tua pembelajar. Kesabaran dan cinta adalah dua hal utama yang harus kami miliki, sebab tanpa cinta dan kesabaran semuanya tidak akan baik-baik saja.
ADVERTISEMENT
Setiap hari adalah pembelajaran baru, setiap momen adalah waktu dan kenangan indah yang tak bisa dilupakan. Semua pengalaman ini pada akhirnya membuat kami mengerti makna tujuan menikah.
Gift from God. Selamat datang Putera kami tercinta, Archangelo. Semoga kami bisa menciptakan momen terbaikmu bersama kami. Dari bapak dan mama yang selalu ada untukmu sayang. Juito dan Emily ***
Potret Archangelo sesaat setelah minum ASI (Kredit Foto: Dokumen Pribadi)
Dipenghujung tulisan ini, saya dan istri tercinta mengucapkan terima kasih kepada : Pertama tim dokter, bidan, dan suster perawat yang telah membantu proses kelahiran putera pertama kami. Kedua Mama Lusia yang jauh-jauh datang dari Manggarai untuk membantu kami. Ketiga Keluarga besar dari Manggarai yang telah memberi doa dan dukungan dari jauh, terkhusus mama Tie, meski lewat telepon tapi itu menguatkan kami. Keempat Tante Eva dan Om Bony yang telah membantu kami antar dan menjemput di rumah sakit, sehat-sehat ya kalian. Kelima Om Anang dan Tante Ayu pasangan senior yang selalu memberikan pembelajaran untuk kami, juga telah membantu banyak hal, semoga kalian sehat-sehat juga ya. Keenam guru-guru unit SMA Santo Yoseph yang berkenan memberikan dukungan untuk kami, terutama kepala sekolah, bapak Ponco yang selalu memberikan saya izin untuk urusan kontrol dan urusan rumah sakit lainnya. Singkatnya semua orang yang telah membantu proses kelahiran putera pertama kami. Semoga kebaikan kalian diberikan imbalan sepantasnya dari yang kuasa, sang pemberi kehidupan kita. ***
ADVERTISEMENT