Anak Seharusnya Dilindungi, Bukan Menjadi Korban Kekerasan
Tulisan dari Juliandri Johan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika seorang anak diduga mengalami kekerasan, pertanyaan yang muncul bukan hanya siapa yang bertanggung jawab, tetapi juga sejauh mana keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara telah menjalankan kewajiban melindunginya.
Ada satu hal sederhana yang seharusnya dimiliki setiap anak yaitu rasa aman.
Seorang anak seharusnya pergi ke sekolah untuk belajar, bermain bersama teman-temannya, dan pulang membawa cerita tentang hal-hal baru yang ia temukan. Ia tidak seharusnya berangkat dengan rasa takut apalagi khawatir akan mengalami kekerasan di tempat yang semestinya menjadi ruang belajar.
Namun, kenyataan terkadang jauh dari harapan.
Kasus meninggalnya Muhammad Hasbi Al Aqib, atau Aqib, siswa kelas II sekolah dasar di Pemalang, Jawa Tengah, kembali membuat kita memikirkan persoalan perlindungan anak. Aqib meninggal pada 30 September 2026 setelah sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit. Keluarganya menyampaikan dugaan bahwa ia mengalami kekerasan yang melibatkan kakak kelasnya.
Polisi kemudian menyelidiki perkara tersebut. Berdasarkan pemberitaan pada 9 Oktober 2026, kasus ini telah naik ke tahap penyidikan. Meski demikian, dugaan yang muncul harus tetap dibedakan dari fakta yang telah dibuktikan, termasuk mengenai hubungan antara dugaan kekerasan dan penyebab kematian Aqib.
Referensi berita: KumparanNews, 2 Oktober 2026.
Kita tentu berharap proses hukum berjalan dengan terang dan adil. Namun, ada pertanyaan lain yang juga layak diajukan mengapa perlindungan anak masih menjadi persoalan yang harus terus kita perjuangkan?
Ketika Masa Kecil Tidak Lagi Aman
Masa kecil seharusnya menjadi waktu untuk tumbuh, belajar, dan mengenal dunia tanpa dibayangi ketakutan.
Ketika seorang anak mengalami kekerasan dampaknya tidak berhenti pada luka fisik. Anak juga dapat mengalami ketakutan, kehilangan kepercayaan, dan kesulitan merasa aman di lingkungannya sendiri.
Yang membuat persoalan ini semakin penting adalah kenyataan bahwa anak belum selalu mampu menjelaskan apa yang dialaminya. Ada anak yang memilih diam karena takut. Ada yang belum memahami bahwa perlakuan yang diterimanya tidak semestinya terjadi. Ada pula yang khawatir tidak dipercaya ketika mencoba bercerita.
Karena itu orang dewasa tidak cukup hanya mengatakan bahwa anak harus berani melapor. Kita juga perlu menciptakan lingkungan yang membuat mereka merasa aman untuk berbicara.
Anak tidak seharusnya menanggung sendiri beban untuk menghentikan kekerasan yang dialaminya.
Kekerasan Bukan Sekadar Kenakalan Anak
Dalam kehidupan sekolah, perbedaan pendapat, perselisihan, dan konflik antarteman mungkin saja terjadi. Namun, tidak semua konflik bisa disebut sekadar kenakalan biasa.
Ketika ada tindakan yang menyakiti, mengintimidasi, mempermalukan, atau menggunakan kekuatan untuk menekan anak lain persoalan itu harus ditangani dengan serius.
Kita juga perlu memahami bahwa perundungan tidak selalu terjadi dalam bentuk yang terlihat jelas. Terkadang tindakan tersebut berlangsung berulang, dilakukan di tempat yang tidak terpantau, atau disertai ancaman agar korban tidak bercerita kepada siapa pun.
Di sinilah orang dewasa harus peka.
Guru, orang tua, dan pihak sekolah perlu mendengarkan keluhan anak, memperhatikan perubahan perilakunya, serta menindaklanjuti laporan dengan sungguh-sungguh.
Tentu setiap dugaan harus diperiksa secara objektif. Anak yang dilaporkan melakukan kekerasan juga masih membutuhkan perlindungan dan penanganan yang sesuai usianya. Menangani perkara dengan serius bukan berarti mengabaikan hak anak lain yang terlibat.
Melindungi korban dan menjalankan proses yang adil bukanlah dua hal yang bertentangan.
Sekolah Harus Menjadi Tempat yang Aman
Orang tua menitipkan anak ke sekolah dengan harapan anak memperoleh pendidikan dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.
Kepercayaan tersebut membawa tanggung jawab besar.
Sekolah bukan hanya tempat menyampaikan pelajaran matematika, bahasa, atau ilmu pengetahuan. Sekolah juga merupakan ruang tempat anak belajar menghormati orang lain, menyelesaikan konflik, dan memahami batas perilaku yang dapat diterima.
Karena itu pencegahan kekerasan tidak cukup dilakukan melalui slogan atau imbauan saat upacara.
Sekolah membutuhkan mekanisme pengaduan yang mudah dipahami anak, penanganan laporan yang jelas, pengawasan lingkungan yang memadai, serta komunikasi terbuka dengan orang tua.
Ketika seorang anak mengeluhkan rasa takut atau sakit setelah mengalami suatu kejadian keluhan itu perlu ditanggapi dan diperiksa dengan semestinya. Tidak setiap keluhan otomatis membuktikan adanya kekerasan tetapi tidak ada pula alasan untuk mengabaikannya tanpa pemeriksaan.
Dalam kasus Aqib, masyarakat berhak berharap agar proses penyelidikan dapat menjelaskan rangkaian peristiwa secara objektif, termasuk apa yang terjadi sebelum korban menjalani perawatan dan bagaimana dugaan kekerasan tersebut ditangani.
Yang dibutuhkan bukan sekadar saling menyalahkan melainkan kejelasan fakta dan evaluasi agar kejadian serupa dapat dicegah.
Jangan Menunggu Kasus Menjadi Viral
Salah satu persoalan dalam menghadapi kekerasan terhadap anak adalah kecenderungan masyarakat baru memberikan perhatian besar setelah sebuah kasus menyebar luas di media sosial.
Ketika berita menjadi viral banyak orang menyampaikan kemarahan dan menuntut keadilan. Kepedulian itu dapat menjadi dorongan penting agar persoalan tidak diabaikan.
Namun bagaimana dengan anak-anak yang mengalami kekerasan tanpa pernah menjadi berita?
Bagaimana dengan mereka yang takut bercerita, tidak tahu harus mengadu kepada siapa, atau tinggal di lingkungan yang menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang biasa?
Mereka juga berhak mendapatkan perlindungan.
Karena itu kepedulian seharusnya dimulai jauh sebelum sebuah kasus menjadi perhatian publik. Orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka dengan anak. Sekolah harus menyediakan jalur pengaduan yang aman. Masyarakat perlu berani menyampaikan laporan ketika memiliki alasan yang masuk akal untuk menduga adanya kekerasan.
Jika menemukan anak dalam bahaya langsung, prioritaskan keselamatannya dan hubungi pihak berwenang atau layanan perlindungan yang relevan.
Kita tidak harus menjadi penyidik untuk menunjukkan kepedulian. Kita hanya perlu memastikan bahwa kepedulian itu dilakukan dengan cara yang tepat.
Hukum Harus Melindungi, Keadilan Harus Ditegakkan
Dalam perkara yang melibatkan anak, emosi masyarakat sangat mudah muncul. Terlebih ketika ada kabar tentang seorang anak yang meninggal setelah diduga mengalami kekerasan.
Namun, kemarahan tidak boleh menggantikan pembuktian.
Penegakan hukum harus mengungkap apa yang benar-benar terjadi, memeriksa bukti dan keterangan saksi, serta menentukan pertanggungjawaban berdasarkan fakta dan ketentuan hukum yang berlaku.
Di sisi lain, proses hukum juga harus memperhatikan perlindungan identitas dan kepentingan anak, termasuk anak-anak yang menjadi saksi atau diduga terlibat dalam suatu peristiwa.
Kita tidak perlu menyebarkan identitas anak yang diduga terlibat, menghakimi seseorang melalui media sosial, atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi demi menunjukkan bahwa kita berpihak kepada korban.
Justru ketika menginginkan keadilan, kita harus menjaga agar proses pencarian fakta tidak berubah menjadi persekusi.
Keadilan bukan hanya tentang adanya pihak yang dihukum. Keadilan juga berarti kebenaran diungkap, hak korban dihormati, proses dijalankan secara bertanggung jawab, dan langkah pencegahan dilakukan agar kejadian serupa tidak berulang.
Setiap Anak Berhak Merasa Aman
Kasus Aqib seharusnya mengingatkan kita bahwa perlindungan anak tidak dapat diserahkan kepada satu pihak saja.
Keluarga memiliki peran untuk mendengarkan dan mendampingi. Sekolah berkewajiban menciptakan lingkungan belajar yang aman. Masyarakat perlu peduli terhadap tanda-tanda kekerasan. Sementara itu lembaga yang berwenang harus menjalankan tugas perlindungan dan penegakan hukum sesuai kewenangannya.
Tidak semua persoalan dapat dicegah dengan mudah. Namun banyak risiko dapat ditangani lebih awal ketika keluhan anak didengar, laporan ditindaklanjuti, dan tanggung jawab tidak saling dilemparkan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan perlindungan anak bukan sekadar seberapa cepat kita bereaksi setelah sebuah tragedi terjadi.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah kita mampu menciptakan lingkungan tempat anak-anak dapat belajar, bermain, dan bertumbuh tanpa harus hidup dalam ketakutan.
Anak seharusnya dilindungi, bukan menjadi korban kekerasan.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi menjalankannya membutuhkan keberanian untuk mendengar, kesungguhan untuk bertindak, dan tanggung jawab yang tidak berhenti ketika perhatian publik mulai mereda.
Sebab setiap anak memiliki hak untuk tumbuh dengan aman.
Dan hak itu seharusnya tidak baru kita ingat setelah seorang anak kehilangan masa depannya.

