Indonesia Menatap Bencana: Mengapa Kita Selalu Gagap Menghadapi Alam?
Tulisan dari Juliandri Johan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada pola yang selalu berulang setiap kali sirens peringatan berbunyi atau tanah tempat kita berdiri mendadak berguncang. Kita kaget, panik, bersedih bersama di media sosial, menggalang bantuan sosial, lalu seiring berjalannya waktu kita kembali lupa. Sampai nanti, bencana berikutnya datang menyapa dan kita mengulang siklus yang selalu sama persis.
Ribuan kejadian bencana alam terus mencatatkan jejaknya di tanah air setiap tahun. Mulai dari banjir tahunan yang merendam pemukiman, gempa bumi yang meretakkan dinding-dinding rumah, hingga erupsi gunung api yang menyemburkan abu ke langit sore.
Pertanyaannya adalah Jika bencana adalah tamu langganan, mengapa kita selalu menyambutnya dengan kegagapan yang sama.
Hidup di Atas Ring of Fire: Takdir yang Sering Dilupakan
Lahir dan tumbuh di Indonesia berarti sepaket dengan takdir geologisnya. Negara kita berdiri tepat di atas pertemuan tiga lempeng tektonik aktif dunia dan dikelilingi oleh jalur Ring of Fire (Cincin Api Pasifik). Secara ilmiah, fenomena ini adalah kepastian. Alam Indonesia tidak pernah sedang murka, ia hanya menjalankan siklus alaminya.
Bumi bergerak, magma mencari jalan keluar, dan air hujan mencari muaranya. Yang membuat fenomena alam ini menjadi "bencana" adalah ketika ia bertemu dengan ketidaksiapan manusia.
Sayangnya, pemahaman dasar ini sering kali menguap. Kita lebih sering mengutuk keadaan atau berlindung di balik narasi "takdir dan kepasrahan," ketimbang duduk bersama membedah apa yang salah dengan sistem kewaspadaan kita.
Jebakan Budaya Tanggap Darurat
Masalah terbesar penanganan bencana di Indonesia adalah kita yang terlalu fokus pada tanggap darurat tetapi gagap dalam mitigasi dan pencegahan.
Ketika air bah sudah merendam dada atau reruntuhan sudah merenggut korban, seluruh elemen bergerak cepat. Tim SAR bertaruh nyawa, posko dapur umum berdiri dalam hitungan jam, dan bantuan logistik mengalir deras. Solidaritas sosial warga Indonesia memang luar biasa dan patut dibanggakan.
Namun respon pascabencana ini hanyalah obat penawar nyeri, bukan penyembuh penyakit utama.
Kita masih sering abai pada hal-hal mendasar sebelum bencana terjadi:
Tata Ruang yang Menabrak Alam: Daerah resapan air disulap menjadi beton, lereng curam dijadikan pemukiman tanpa perhitungan geologi, dan sungai disempitkan atas nama pembangunan.
Literasi Bencana yang Minim: Berapa banyak dari kita yang tahu pasti harus lari ke mana saat gempa skala besar terjadi di tengah malam? Apakah simulasi bencana di sekolah dan perkantoran sudah jadi budaya rutin, atau sekadar formalitas tahunan?
Infrastruktur Mitigasi yang Terabaikan: Alat pendeteksi dini (early warning system) yang rusak, dicuri, atau tidak terawat bukan lagi cerita baru.
Kita sering kali bertaruh nasib pada keberuntungan, padahal alam tak pernah bisa diajak bernegosiasi.
Mengubah Wacana: Dari Warga 'Tangguh' Menjadi Warga 'Sadar'
Di media kita kerap mendengar narasi betapa "tangguhnya" masyarakat Indonesia menghadapi ujian. Istilah ini sekilas terdengar seperti pujian namun jika dicermati ada romantisasi yang berbahaya di dalamnya. Memuji ketangguhan warga korban bencana terkadang menjadi celah untuk memaklumi minimnya perlindungan struktural dari pemangku kebijakan.
Warga tidak boleh sekadar dituntut untuk "tangguh menerima nasib." Yang dibutuhkan masyarakat adalah edukasi berbasis data, infrastruktur yang tahan gempa, serta tata ruang yang aman.
Negara tetangga seperti Jepang mengajarkan kita satu hal yaitu mereka tidak bisa menghentikan gempa bumi, tetapi mereka bisa menekan angka korban jiwa hingga titik terendah. Caranya? Pendidikan mitigasi sejak usia dini, regulasi bangunan yang sangat ketat, serta teknologi peringatan dini yang terintegrasi hingga ke ponsel setiap warga.
Saatnya Berdamai dan Bersiap
Indonesia tidak akan pernah tenang dari bencana dan itu adalah fakta geologis yang harus kita terima dengan lapang dada. Namun, ketidaktenangan alam tidak harus dibayar dengan kepanikan dan duka yang berulang.
Sudah saatnya kita bergeser dari budaya reaktif menuju budaya preventif. Edukasi mitigasi bencana harus masuk ke ruang-ruang kelas, perencanaan tata kota harus melibatkan para ahli geologi, dan anggaran penanggulangan harus lebih banyak dialokasikan untuk pembenahan infrastruktur pencegahan.
Alam Indonesia memberi kita kesuburan, keindahan, dan kekayaan luar biasa. Namun sebagai gantinya, ia meminta satu hal yaitu rasa hormat dan kesiapsiagaan kita. Jangan tunggu sirine berikutnya berbunyi baru kita teringat untuk belajar.

