Aku Menunda, Kamu Menghilang

Justinn Christian Kurnia, kelahiran 2009. Seorang siswa SMA Trinitas Bandung. Hidup itu menulis dan menulis itu hidup.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Justinn Christian Kurnia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu merasakan masa lalu yang selalu menghantuimu? Seakan-akan setiap pilihan yang salah dari masa lampau merasuki pikiranmu. Munculnya keinginan untuk memperbaiki sesuatu yang sudah tidak bisa diperbaiki.
Disitulah aku, berdiri di kota yang dulu aku kenal sebagai rumah. Setelah berjam-jam naik pesawat lalu melanjutkan dengan kereta cepat, akhirnya aku kembali. Saat berjalan menuju pintu keluar stasiun, aku langsung disapa oleh rasa nostalgia yang dibawa oleh kota ini. Suhu yang sejuk, sepoian angin yang melewati rambutku, juga deretan pohon di pinggir jalan, seperti menyambutku pulang.
Setelah makan siang sebentar, Aku melewati sekolah lamaku. Di sana, aku melihat puluhan siswa SD yang baru keluar dari gerbang. Di antara kerumunan anak-anak SD itu, mataku terpaku pada dua sahabat yang berjalan berdampingan, saling mendorong sambil tertawa. Entah kenapa, melihat mereka membuat dadaku sesak oleh rasa yang sulit dijelaskan. Saat itulah kenangan masa kecilku muncul. Aku kembali melihat diriku dan kamu—dua anak kecil yang selalu pulang bersama, berkhayal, berlelucon dan selalu duduk sebangku.
Tibalah tanggal 2 Agustus 2007, hari itu adalah hari pertama masuk kelas 4 SD. Guru meminta kami memainkan sebuah permainan agar semua bisa saling mengenal. Beliau meminta kami untuk berpasangan berdua-dua. Seketika anak-anak berlari kecil, mencari teman, disertai suara tawa dan langkah kaki yang memenuhi ruangan. Di tengah keramaian itu, aku melihat kamu—masih berdiri tanpa pasangan. Entah kenapa, saat itu mataku langsung bertemu dengan matamu. Kita saling menghampiri, dan tanpa banyak bicara, kita menjadi pasangan dalam permainan itu. Itulah awal dari pertemanan kita.
Apa ya, yang membuat kita sangat dekat? Apakah kita memiliki hobi dan minat yang sama? Atau kita menyukai kartun yang sama? Aku kurang tahu, seakan-akan bertemu dengan kamu adalah takdir dari alam semesta. Setiap pagi, ketika aku baru tiba di kelas,kamu sudah ada di sebelah mejaku, menyapa dengan senyum yang besar. Saat pembelajaran, kita sibuk mengobrol daripada mencatat dan mendengarkan guru.
Aku ingat persis ketika kita diceramahi oleh guru saat sedang pelajaran. Ingatan tersebut tidak pernah hilang dari pikiranku. Kejadiannya terjadi saat siang hari, sesudah beres mata pelajaran PJOK. Satu kelas dipenuhi oleh uapan dari ujung ruang yang satu, ke ujung ruang yang lain. Di tengah-tengah suara uapan dan penjelasan guru, kamu berbisik ke kuping kananku.
"Ibu guru ngajar bikin ngantuk, ya? Ini tuh menjelaskan materi atau menyanyikan nina bobo?"
Ketika aku mendengarkan lelucon dari kamu, mukaku langsung menjadi merah seperti tomat, dan mengeluarkan suara tawa yang sangat keras. Iya, mungkin humor dari lelucon itu sangatlah tipis. Namun untuk seorang anak SD, lelucon tersebut bisa membuat ketawa sampai perut sakit.
Saat jam istirahat, kita berdiri di bawah pohon jambu sambil menyantap bekal dan bercerita tentang masa depan. Kita sering membayangkan bagaimana nanti kalau sudah besar—bahwa meskipun kita punya kesibukan masing-masing, sekolah di tempat berbeda, atau memilih jalan hidup yang tidak sama, kita akan tetap menjadi sahabat sampai tua. Bagiku, saat itu rasanya mustahil kita bisa terpisah. Dunia terlalu kecil untuk memisahkan dua anak yang percaya bahwa pertemanan mereka akan bertahan selamanya.
Di tengah liburan semester, aku menjumpai rumahmu untuk bermain. Ketika aku tiba, aku disambut oleh kamu dan senyumanmu. Kamu langsung menarik tanganku untuk segera masuk. Untuk setiap liburan semester yang selanjutnya, aku selalu menjumpai rumahmu untuk bermain. Bahkan aku sudah dianggap keluarga bagi orangtuamu.
Saat menginjak kelas 5, aku sudah memiliki kesibukan baru: les piano. Kita pun sudah tidak berada di kelas yang sama. Meskipun begitu, kita selalu menyempatkan waktu untuk bermain dan mengobrol, walaupun tidak tiap hari.
Meskipun begitu, aku tetap mengunjungi rumahmu setiap liburan semester. Tetapi untuk kali ini, ada yang berubah. Senyumanmu memudar, aku pun disapai oleh kehadiran banyak box berserakan, dan beberapa perabotan rumah yang biasanya ada—seperti rak buku di ruang tamu—tiba-tiba tidak ada. Awalnya, aku tidak terlalu memikirkan kedua hal tersebut. Namun, terkadang kamu secara tiba-tiba akan berbicara dengan nada yang sedih.
"Boleh ga kita ngomong bentar?"
"Yu ngomong bentar."
Tapi aku selalu menjawab:
"Bicarain apa sih? Bosen ah."
"Iya, nanti kapan-kapan."
Aku tidak pernah benar-benar menanggapinya. Aku merasa terlalu sibuk les piano untuk mendengarkan apa yang kamu ingin sampaikan. Aku hanya peduli kepada keinginanku sendiri. Aku egois. Tetapi, saat aku sedang asik menceritakan keseruan dari bermain piano, kamu selalu mendengarkanku. Kamu selalu memberi aku perhatian. Kamu selalu menyempatkan waktu bagiku.
"Woi, kamu tau ga? Kata guru lesku, kemampuan musikku sudah sepantar dengan level satu tahun di atas aku."
"Kamu tau ga? Aku sekarang udah bisa main Fur Elise loh!"
Di akhir kelas 6 semester 2, aku memutuskan untuk mengunjungi rumahmu. Saat aku tiba, kamu menyapaku seperti biasa. Selain itu, box yang berserakan semakin menambah dalam jumlah. Sekarang, isi rumahmu sudah benar-benar kosong, hanya box kardus, box kardus, dan box kardus. Kamu juga bertingkah lebih sedih, seakan-akan ingin menyampaikan sesuatu ke aku, namun terhalang oleh sifatku yang egois.
Hari perayaan kelulusan telah tiba. Aku duduk di sebelahmu, tidak bertukar sepatah kata pun. Di tengah suasana yang sunyi kamu memanggil namaku dan mengajakku datang ke rumahmu besok. Aku ingin bilang iya, tapi kepalaku penuh dengan ujian piano yang harus kuikuti pagi-pagi.
Sebelum kamu sempat menyelesaikan kalimatmu, namaku dipanggil ke panggung. Aku berdiri, melangkah pergi sambil membalas ajakanmu dengan terburu-buru.
“Iya, iya… besok ya.”
Malam itu, aku sibuk latihan untuk ujian piano. Aku berkata pada diriku sendiri, “habis ujian aku langsung ke rumahmu.” Aku benar-benar percaya masih ada waktu — bahwa kamu akan tetap di sana menunggu, seperti biasa. Tapi waktu tidak pernah menungguku.
Setelah ujian selesai, tubuhku begitu lelah. Aku pulang dan berjanji akan datang besoknya saja. “Nanti aja deh. Dia juga masih di rumah,” pikirku. Penundaan kecil yang terasa sepele… namun ternyata fatal.
Besok tiba, lalu hari berikutnya. Barulah aku datang ke rumahmu. Aku berdiri di halaman depan, sendirian. Mobil yang biasa terparkir di depannya sudah hilang. Jendela yang selalu terbuka kini tertutup rapat. Ketika aku menatap ke dalam lewat kaca yang buram, rumahmu tampak kosong—benar-benar kosong. Hanya kardus, lantai yang bersih tanpa jejak, dan ruang-ruang yang kehilangan suaranya.
Di situlah aku akhirnya menyadari.
Bukan aku tidak mau datang.
Aku hanya menunda.
Dan penundaan itulah yang membuatku kehilangan seseorang yang paling berarti.
Setelah belasan tahun berlalu, aku berdiri di depan rumahmu yang sunyi dan terlantar. Sekarang, halaman depanmu sudah dipenuhi oleh rumput liar, tinggi dan lebat. Jendelamu, tertutup rapat dan berdebu. Cat rumahmu sudah mulai memudar, retak, dan mengelupas, seakan ikut meratapi kenangan yang hilang. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan daun kering, membuatku tersadar betapa banyak waktu dan kesempatan yang telah terlewat, dan betapa aku dulu terlalu sibuk pada diriku sendiri hingga tak pernah menyadari arti kehadiranmu yang sebenarnya.
Tanganku tergenggam seerat-eratnya saat menatap pintu yang dulu selalu kamu sambangi dengan senyuman. Amarah, kesedihan, dan penyesalan membanjiri pikiranku, menyesakkan dada seakan aku tenggelam dalam kesalahan sendiri. Aku menyesali semua tingkah egoisku, namun seberapa pun lama aku menyesal, kenyataan pahit ini tak akan pernah berubah.
Rumahmu kosong.
Senyummu hilang.
Dan aku hanya bisa berdiri di sini, menatap kehampaan yang dulu pernah kita bagi.
(Justinn Christian Kurnia, Siswa Kelas XI SMA Trinitas Bandung)
